PALU, SULTENG -ONLINENEWS.ID// Sholat Id, Rabu (27/05/2026) usai. Tapi jamaah di Lapangan Makodam XXIII/Palaka Wira seperti tidak ingin beranjak. Suara Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag., Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, mengalir tenang dari mimbar — membawa khutbah bertema Toleransi, Solidaritas, dan Persaudaraan sebagai Aset dalam Membangun Harmonisasi Sesama Anak Bangsa.
Bukan khutbah biasa. Ia tidak berhenti pada syariat kurban atau pahala ibadah semata. Ia berbicara tentang sesuatu yang lebih besar — tentang bagaimana manusia, di tengah segala perbedaannya, memilih untuk berdialog atau berperang.
Khatib memulai dari kisah yang sudah ribuan tahun dikenal — Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail. Tapi ia menyorot satu detail yang kerap luput dari perhatian: sebelum mengangkat pisau, Ibrahim bertanya terlebih dahulu kepada anaknya. Sebuah teladan dialog yang, menurut khatib, jauh melampaui urusan rumah tangga.
_”Walaupun perintah itu dari Allah, Ibrahim tidak lalu berlaku semena-mena sekehendak hatinya, meski terhadap anaknya sendiri. Ibrahim justru memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mengajukan saran, agar diperoleh kata sepakat.”_
_— Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag., Ketua FKUB Sulawesi Tengah_
Dari satu adegan dalam Al-Quran itu, khatib menarik garis panjang hingga ke ruang-ruang kekuasaan hari ini. Dialog antara ayah dan anak, katanya, adalah cermin dari hubungan antara atasan dan bawahan, antara penguasa dan rakyat — dan pesan itu terasa sangat nyata di hadapan barisan prajurit TNI yang memenuhi lapangan pagi itu.
_”Atasan tidak merasa paling hebat dan paling benar. Penguasa dan pemerintah tidak akan menjadikan rakyat sebagai objek yang harus dikuasai dan diintimidasi, tetapi rakyat diberi kebebasan untuk mengajukan pendapat, menyalurkan aspirasi, serta mendapatkan hak-haknya.”_
_— Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag._
Khatib kemudian menegaskan bahwa perbedaan — baik pendapat, suku, maupun keyakinan — bukan ancaman, melainkan bagian dari hukum alam yang Allah kehendaki, sebuah sunnatullah. Ia mengutip firman Allah: bahwa jika Tuhan menginginkan, Dia bisa saja menciptakan seluruh manusia dalam satu suku bangsa. Tapi tidak demikian yang terjadi. Perbedaan adalah kehendak-Nya, dan tugas manusia bukan melawannya melainkan mengelolanya dengan bijak.
_”Laksanakanlah dengan baik apa yang anda yakini benar, tanpa harus menyalahkan orang yang berbeda dengan anda.”_
_— Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag._
Ia juga mengutip pemikir teologi Katolik Leonard Swidler yang menulis bahwa mereka yang menutup diri dari dialog, yang memandang pihak lain dengan kecurigaan dan kebencian, hanya akan berakhir pada satu titik: konfrontasi dan kematian. Sebuah kutipan lintas iman yang terdengar sedikit mengejutkan dari mimbar Idul Adha — tapi justru itulah kekuatan khutbah ini.
Salah satu bagian paling berkesan adalah ketika khatib mengingatkan bahwa Nabi Ibrahim bukan hanya milik umat Islam. Ia adalah sosok yang diagungkan oleh tiga agama besar dunia — Islam, Kristen, dan Yahudi. Karena itu, ritual haji dan kurban yang bersumber dari sejarah Ibrahim sesungguhnya menyimpan pesan perdamaian yang jauh lebih luas dari sekadar perayaan keagamaan satu umat.
_”Diabadikannya sejarah Ibrahim dalam ritual haji dan kurban dapat dilihat sebagai sebuah simbol untuk mengingatkan para penganut agama samawi agar menjalin hubungan yang toleran, harmonis, dan damai — karena mereka adalah putra-putra Ibrahim.”_
_— Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag._
Khatib lalu membawakan kisah Khalifah Umar bin Khattab yang usai menaklukkan Yerusalem justru menegaskan bahwa kota itu adalah kota suci tiga agama, memperbolehkan orang Yahudi tinggal di sana — dan menolak salat di dalam gereja agar tidak memberi kesan mengambil alih tempat ibadah milik orang lain. Sebuah contoh keteladanan dari sejarah Islam yang hidup dan konkret.
Di penghujung khutbah, khatib menyampaikan hadis Nabi yang terasa sangat kontekstual bagi siapa pun yang hadir pagi itu — terutama mereka yang mengemban jabatan dan kewenangan: yassiru wala tu’assiru — permudahlah urusan orang, jangan dipersulit.
_”Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain — bukan hanya buat orang Islam, tetapi bermanfaat buat orang lain.”_
_— Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag., mengutip hadis Nabi Muhammad SAW_
Khutbah ditutup dengan pesan kebangsaan yang sederhana namun berat maknanya: sebagai bangsa, kita tidak bisa maju sendiri-sendiri. Hanya dengan bersatu — melampaui sekat suku, agama, ras, dan golongan — kita bisa berdiri tegak dan membangun. Sebuah penutup yang, di lapangan penuh prajurit dan warga pagi itu, terasa bukan sekadar retorika.
_Reporter : Rif_






