Berlari dan Melangkah di Jalan yang Sama: Cerita Ringan dari Palaka Wira Run

  • Whatsapp

PALU, SULTENG – ONLINENEWS.ID// – Bendera start baru saja dikibarkan, Minggu pagi (20/9/2026). Jalan di sekitar Lapangan Vatulemo mendadak penuh oleh kaus hitam bertuliskan Palaka Wira Berlari 8,1K, sepatu-sepatu berwarna terang, dan para pelari yang ingin segera sampai di depan.

Di tengah arus itu, kamera saya menangkap satu langkah yang lebih pelan, ditopang dua kruk.

Muat Lebih

Saya baru menyadarinya saat memeriksa hasil jepretan di rumah. Dalam foto, ia mengenakan kaus yang sama dengan ratusan peserta lain, topi hijau, dan sepatu biru toska. Yang membedakan hanya dua kruk di tangannya. Saya tidak tahu namanya. Saya tidak tahu sejauh mana ia melangkah pagi itu, dan saya tidak akan menebak isi hatinya. Yang saya tahu, ia ada di sana, di jalan yang sama, di antara sekitar 1.500 peserta lain.

Siangnya, Pangdam XXIII/Palaka Wira Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar bicara soal olahraga. “Olahraga ini kan bagian dari proses kita membangun karakter masyarakatnya,” ujarnya. Saya tidak tahu persis karakter seperti apa yang beliau maksud. Tetapi memandangi foto itu, saya membayangkan wujudnya sederhana saja: datang, ikut, lalu melangkah.

Pagi itu, jalan yang sama dilalui orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Ada pejabat dan ibu-ibu. Ada pelari komunitas yang terbiasa mengikuti lomba dan ada pemula yang baru pertama kali datang. Ada anak-anak, ada orang dewasa, ada warga Palu, dan ada peserta yang datang dari kabupaten tetangga. Kebanyakan berkaus hitam yang sama, berangkat dari garis yang sama, dan seusai lomba menggerakkan badan mengikuti irama senam yang sama.

Berbeda-beda, tetapi tetap satu. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sudah kita hafal sejak kecil dan biasanya terdengar seperti pelajaran di kelas. Pagi itu, bagi saya, ia tampil apa adanya di jalan: kemajemukan tidak perlu dijelaskan, cukup dilihat. Lewat kegiatan yang digelar Kodam XXIII/Palaka Wira ini, makna itu tersirat tanpa perlu diucapkan. Tema HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober, “TNI Kuat Bersama Rakyat”, yang terpampang di spanduk bakti sosial Kodam, terasa dekat: rakyat dan prajurit dengan cara bergerak masing-masing, di rute yang sama.

Sambil memandangi foto itu, saya juga teringat bahwa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa tidak selalu berbentuk ucapan. Kadang ia berbentuk tindakan kecil: bangun pagi, memasang nomor dada, dan bergerak, dengan cara masing-masing dan kecepatan masing-masing.

Kalau suatu hari peserta itu membaca catatan ini, saya ingin ia tahu bahwa fotonya membuat seorang wartawan berhenti sejenak dan berpikir. Terima kasih untuk langkah pagi itu.

(Cerita ringan berdasarkan pengamatan langsung)

Reporter: Rif

_Keterangan foto: Seorang peserta melangkah dengan bantuan kruk di antara peserta lain saat Palaka Wira Run dimulai di Palu, Minggu (20/9/2026). (Foto: Rif/Sulteng-On Line News.ID)_

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *