SIGI, SULTENG – ONLINENEWS.ID// Suasana di Pondok Pesantren An-Nahdliyyah Daarus Shohabah, Desa Oloboju, Kecamatan Sigi Biromaru terasa berbeda dari keramaian forum formal yang baru saja usai. Para peserta Konferensi Cabang ke-III Nahdlatul Ulama Kabupaten Sigi masih berkerumun dalam obrolan hangat. Senyum dan sapaan datang dari berbagai penjuru — sebuah wajah Islam yang ramah, terbuka, dan jauh dari kesan eksklusif.
Di tengah suasana itulah kami berkesempatan berbincang dengan salah satu tamu paling istimewa hari itu — Drs. H. Abdullah Latopada, M.A., salah satu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang tak lain adalah putra asli Sigi.
Perjalanan Latopada hingga duduk di jajaran pimpinan tertinggi organisasi Islam terbesar di dunia itu bukan jalan singkat. Ia menapaki tangga organisasi dari bawah — Ketua GP Ansor Sulteng dua periode, Ketua Tanfidziyah PWNU Sulawesi Tengah, hingga Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Tengah. Risalah NU (risalahnu.com) mencatat, selama menjabat Kepala Kanwil Kemenag Sulteng, serapan anggaran kantornya menjadi yang tertinggi di antara 34 Kanwil Kemenag se-Indonesia — sebuah prestasi yang mencerminkan karakter kerjanya yang terukur dan konsisten.
Namun yang paling menonjol dari sosok Latopada bukan deretan jabatan itu. Jauh sebelum istilah moderasi beragama dipopulerkan pemerintah pusat, ia sudah bergerak di lapangan. Semasa memimpin GP Ansor Sulteng, ia menginisiasi FORKOKAP — Forum Komunikasi Keagamaan Pemuda lintas agama — sebagai upaya mencegah konflik Poso agar tidak meluas ke kabupaten lain. Ia juga membangun Majelis Taklim Hubbul Wathan hingga hampir seluruh desa dan kelurahan di Sulawesi Tengah sebagai benteng melawan radikalisme. Kampung kerukunan di Poso dan Banggai Laut pun ia gagas di masa itu.
Kehadiran Latopada di Konfercab Sigi hari ini pun bukan sekadar tugas organisasi. Ia mengaku menyesuaikan jadwal perjalanannya ke Gorontalo dan Sulawesi Utara agar bisa singgah di kampung halamannya. “Saya orang Sigi, jadi berkesempatan hadir,” ujarnya sederhana — kalimat pendek yang menyimpan rasa memiliki yang dalam.
Dalam perbincangan, Latopada berbicara hangat soal kebhinekaan di Sigi yang masyarakatnya heterogen. Ia melihatnya bukan sebagai beban melainkan kekuatan — dengan satu syarat utama: dialog. “Kalau kita tidak ajak dia berdialog, kita tidak tahu apa sesungguhnya yang ada di dalam hati. Nanti kalau sudah berdialog, baru kita tahu — oh begini, oh begitu,” katanya. Ia mengingatkan agar jangan mudah berprasangka. Dalam istilahnya, jangan su’udzon — jangan dahulukan kecurigaan sebelum ada komunikasi.
Soal peran NU dalam sejarah bangsa, ia berbicara dengan penuh keyakinan. “NU punya peran untuk memerdekakan negeri ini. Dan ketika negeri ini sudah merdeka, maka NU turut memelihara kerukunan, pendidikan, dan seterusnya,” tegasnya. Semangat Gus Dur yang hingga kini tetap menjadi ikon kebhinekaan Indonesia ia sebut relevan sepanjang masa — bahwa Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang merangkul. “Kita tidak boleh memandang orang dari latar belakangnya saja,” ujarnya.
Kepada pengurus PCNU Kabupaten Sigi yang akan terpilih, Latopada menitipkan dua hal. Pertama, jadilah mitra pemerintah yang baik dan produktif. Kedua, hidupkan kembali pengajian dan majelis di tengah masyarakat. “Seperti dulu, maghrib itu sudah di masjid semua. Itu salah satu cara menghilangkan sekat-sekat yang ada. Akhlak karimah — itu yang kita butuhkan sekarang,” pesannya.
Bagi Latopada, pengabdian di NU adalah pilihan sadar yang ia sebut sebagai mewakafkan diri — menyerahkan sepenuhnya untuk organisasi dan umat. Sebuah prinsip yang tidak hanya terucap, tapi terasa nyata ketika melihat caranya hadir di Sigi hari ini. Bukan karena protokol, bukan karena undangan resmi — tapi karena dari sinilah ia berasal, dan kepada tanah ini pula ia merasa berutang pengabdian.Rif
_(Sumber data profil narasumber: Risalah NU, risalahnu.com, 11 Oktober 2024)_






