PALU, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID//Jarang terjadi. Seorang tokoh Islam dengan deretan jabatan strategis, Guru Besar Universitas Islam Negeri Dato Karama Palu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, sekaligus salah satu Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, berdiri di mimbar gereja dan membuka ucapannya dengan salam Islam. Prof. Dr. K.H. Zainal Abidin, M.Ag. hadir bukan sebagai tamu kehormatan biasa. Pagi itu, ia adalah narasumber.
Seminar Nasional bertema “Bangkit Bersama Kristus, Memulihkan Bangsa dalam Kasih dan Pengharapan melalui Teologi Publik dan Keadilan Sosial” berlangsung di Gereja Bala Keselamatan Korps 2 Palu, Jumat, 24 April 2026, sebagai bagian dari Rangkaian Paskah Nasional V yang diselenggarakan Forum Umat Kristiani Indonesia di Sulawesi Tengah, yang dihadiri oleh kurang lebih 1500 jemaat berbagai denominasi gereja.
Prof.Zainal Abidin sendiri yang memberi catatan pada momen itu. “Ini sejarah akan mencatat bahwa ucapan assalamualaikum sudah pernah dikumandangkan di Gereja Bala Keselamatan Korps 2 Kota Palu,” ujarnya, disambut senyum dan tepuk tangan hadirin. Baginya, kehadirannya di gereja bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan, justru itulah wujud nyata dari cara beragama yang ia sebut moderat.
Dalam paparannya, Zainal Abidin menegaskan satu hal yang ia ulang lebih dari sekali: moderasi beragama bukan berarti agama diubah atau diseragamkan. “Kalau agama jangan dirubah, karena dia sumbernya dari Tuhan. Yang perlu disesuaikan adalah cara memahami agama itu, tidak ekstrem, toleran, dan menghargai perbedaan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa konflik antaragama lebih banyak lahir bukan dari agama itu sendiri, melainkan dari sedikitnya ruang komunikasi dan interaksi. Ketika dua kelompok tidak pernah bertemu, yang tumbuh adalah prasangka. “Coba kalau sering komunikasi, sering ketemu, sering berdiskusi, saya yakin prasangka buruk itu akan hilang,” ujarnya.
Ia mengutip filsuf teologi Hans Küng: tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian agama. Dari situ ia menurunkan lima strategi yang selama ini ia jalankan bersama FKUB Sulawesi Tengah, menerima perbedaan sebagai ketetapan Tuhan, mengedepankan persamaan, membangun saling percaya, menerapkan moderasi beragama dalam keseharian, hingga menjalin dialog lintas komunitas secara konsisten.
Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Seorang jemaat Gereja Toraja mengajukan pertanyaan yang belakangan ramai di media sosial, soal apakah ada ajaran dalam agama tertentu yang membenarkan pembunuhan atas nama syahid.
Zainal Abidin menjawab langsung dan tegas. Menurutnya, syahid dalam Islam memiliki banyak makna, dan tidak satu pun yang membenarkan pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah. “Yang ada adalah oknum yang memahami ajaran agamanya secara keliru. Bukan agamanya yang mengajarkan demikian,” katanya. Ia mengutip Al-Qur’an: membunuh satu nyawa sama dengan membunuh seluruh manusia. “Kalau ada yang menyeru kepada permusuhan, sudah pasti itu bukan bagian dari ajaran agama.”
Pertanyaan kedua datang dari jemaat Gereja Bala Keselamatan, bagaimana menjaga keseimbangan antara keyakinan teologis bahwa agama sendiri yang benar, dengan sikap inklusif terhadap pemeluk agama lain. Zainal Abidin menjawab dengan analogi yang mengundang tawa sekaligus mengena. Ia menyebut keyakinan teologis seperti pakaian dalam, setiap orang memakainya, tapi tidak perlu ditunjukkan kepada orang lain. “Islam paling benar, Kristen paling benar, itu sama seperti pakaian dalam yang tidak perlu diperlihatkan kepada orang lain, karena dalam kehidupan sosial ada orang lain yang berbeda agama dengan kita.”
Seorang pendeta dari Kabupaten Sigi juga mengangkat pertanyaan tentang bagaimana menyelaraskan pemahaman moderasi antara pemimpin agama dan jemaat di akar rumput, terutama di tengah gempuran konten media sosial yang kerap memperkeruh suasana. Zainal Abidin mengakui tantangan itu nyata dan menjadi pekerjaan rumah bersama.
Usai sesi, berlangsung prosesi foto bersama yang hangat. Zainal Abidin kemudian menyerahkan buku karyanya sendiri kepada sejumlah peserta yang namanya ia sebut langsung, sebuah gestur yang dalam konteks seminar lintas iman terasa lebih dari sekadar basa-basi. Bagi banyak hadirin, momen itu menjadi penutup yang berkesan dari sebuah pagi yang tidak biasa.
Kepada wartawan usai acara, Zainal Abidin menyampaikan harapannya agar pertemuan serupa tidak berhenti di satu denominasi. “Selain Bala Keselamatan, denominasi-denominasi yang lain juga diharapkan akan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang baik, bertemu antartokoh lintas agama, bertemu jemaat kita semua,” ujarnya. Ia percaya bahwa dari pertemuan seperti inilah solidaritas tumbuh, kecurigaan mereda, dan kesadaran bersama bahwa semua orang, apapun agamanya, menginginkan hal yang sama: damai dan sejahtera.Rif






