PALU, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID//Siapa sangka sebuah perayaan Paskah bisa berujung pada seseorang yang kembali bisa melihat wajah cucunya dengan jelas. Itulah yang terjadi di Klinik Mata SMEC, Jl. Dr. Abdurrahman Saleh No. 92, Palu Selatan, Kamis (24/4/2026). Bala Keselamatan, selaku penyelenggara Paskah Nasional V, membuka pintu layanan operasi katarak gratis, dan yang datang mengisi kursi tunggu bukan hanya umat Kristiani. Warga dari berbagai latar belakang, sebagian besar Muslim, turut hadir dan mendapat giliran.
Bagi dr. Abdul Qadir, pimpinan Klinik Mata SMEC Palu, pemandangan itu bukan hal yang mengejutkan. Katarak tidak memilih agama. Dan pelayanan kesehatan, baginya, juga tidak seharusnya memilih.
Kamis itu ia berbicara dua kali, sekali dalam sambutan resmi, sekali dalam wawancara bersama wartawan. Dari keduanya, satu harapan yang terus ia ulang dengan cara yang berbeda: semoga kegiatan seperti ini tidak berhenti di sini.
*850 Ribu Orang Menunggu untuk Bisa Melihat Kembali*
Bayangkan 850 ribu orang yang saat ini tidak bisa melihat dengan jelas, atau sama sekali tidak bisa melihat, karena katarak yang belum ditangani. Itulah kondisi nyata di Indonesia hari ini. Dan angka itu, menurut dr. Abdul Qadir, diperkirakan akan terus bertambah seiring semakin banyaknya warga yang memasuki usia 40 tahun ke atas.
Katarak sendiri adalah kondisi di mana lensa mata menjadi keruh sehingga penglihatan terganggu. Penyebab utamanya adalah faktor usia, dan karena itulah orang tua paling rentan. Yang tidak banyak diketahui masyarakat adalah bahwa kondisi ini sebenarnya bisa diatasi melalui operasi yang relatif singkat. Masalahnya, tidak semua orang mampu menjangkau biayanya.
Pemerintah sudah bergerak. Program eradikasi katarak nasional menargetkan penanganan 30 persen dari seluruh kasus yang ada di Indonesia. SMEC Palu adalah salah satu klinik yang ikut menjalankan program itu sejak hari pertama berdiri pada 2020. Hasilnya hingga 2026: sekitar 10.000 mata telah berhasil ditangani.
“Alhamdulillah, semakin banyak masyarakat yang mulai peduli, dan semakin banyak lembaga serta yayasan yang mau terlibat dalam program pengentasan katarak ini,” ujar dr. Abdul Qadir.
Tapi 10.000 mata di tengah 850 ribu yang menunggu, angka itu sendiri sudah cukup menggambarkan betapa masih panjang jalan yang harus ditempuh. Dan itulah mengapa setiap tangan tambahan yang mau ikut bergerak, baginya, sangat berarti.
*Pertama Kali Bersama Bala Keselamatan — dan Semoga Bukan yang Terakhir*
Wartawan menanyakan apakah kerja sama antara SMEC dan Bala Keselamatan dalam kegiatan ini adalah yang pertama kali terjadi.
dr. Abdul Qadir membenarkan. Sebelumnya, SMEC sudah sering berkolaborasi dengan berbagai lembaga dan organisasi untuk kegiatan serupa. Tapi dengan Bala Keselamatan, ini memang baru pertama kali. Pertemuan ini bermula dari PT Anugerah Lestari Power dan PT Neo Energy yang menghubungi SMEC secara langsung untuk program CSR mereka. Bala Keselamatan sebagai penyelenggara Paskah Nasional V kemudian menjadi jembatan yang mempertemukan semua pihak dalam satu meja.
Yang membuat dr. Abdul Qadir terkesan bukan semata kegiatan operasinya. Melainkan cara Bala Keselamatan merancang Paskah Nasional V, sejak awal sudah memikirkan masyarakat luas, bukan hanya jemaat internal. Sebuah perayaan iman yang sejak perencanaan awalnya sudah bertanya: siapa lagi di luar sana yang bisa kami bantu?
“Saya berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Kalau bisa dilanjutkan secara rutin, kita tidak hanya membantu program pemerintah, kita juga bekerja bersama untuk kemanusiaan,” ujarnya.
Harapan itu bukan sekadar kalimat penutup yang sopan. SMEC sendiri sudah terbiasa bergerak rutin. Setiap bulan, klinik ini melakukan skrining kesehatan mata sebanyak 15 hingga 20 kali bersama berbagai mitra, termasuk Dharma Wanita Persatuan Sulawesi Tengah dan sejumlah dinas terkait. Pintu untuk melanjutkan kolaborasi dengan Bala Keselamatan, katanya, selalu terbuka.
*Pesan untuk Orang Tua: Awasi Anak dan Ponselnya*
Di luar soal katarak, wartawan menanyakan pesannya terkait kesehatan mata di era di mana anak-anak hampir tidak pernah lepas dari layar ponsel.
dr. Abdul Qadir berbicara lugas. Membiarkan anak-anak, terutama yang masih di bawah umur, terlalu lama menatap layar ponsel bukan sekadar kebiasaan buruk. Dampaknya nyata: mata minus bisa berkembang jauh lebih cepat dari seharusnya, dan yang lebih mengkhawatirkan, paparan layar berlebihan pada usia dini bisa memperlambat perkembangan otak anak, termasuk kemampuan bicara.
Pesannya kepada para orang tua sederhana: awasi anak, batasi layar, dan jangan tunggu sampai ada keluhan sebelum memeriksakan mata si kecil.
*SMEC Melayani Semua Gangguan Penglihatan*
Sebelum wawancara ditutup, dr. Abdul Qadir mengingatkan bahwa SMEC Palu tidak hanya menangani katarak. Warga yang mengalami rabun jauh, rabun dekat, mata silinder, kesulitan membaca di usia lanjut, atau gangguan penglihatan lainnya, semuanya bisa datang dan mendapat penanganan di sini.
Bagi warga Sulawesi Tengah yang selama ini menunda memeriksakan matanya karena berbagai alasan, pesannya singkat: jangan tunda lagi. Penglihatan adalah salah satu anugerah yang paling mudah diabaikan, sampai ia mulai memudar.
_<>Wawancara Eksklusif dan Sambutan, Klinik Mata SMEC Palu, Kamis (24/4/2026)<>_Rif






