Ketua FKUB dan MUI Palu Saksikan Operasi Katarak Gratis Paskah Nasional V: “Ini Moderasi yang Nyata

  • Whatsapp

PALU, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID//ON LINE NEWS.ID// Rabu (23/4), Klinik Mata SMEC di Jl. Dr. Abdurrahman Saleh No. 92, Palu Selatan tidak hanya sibuk dengan jadwal operasi. Di hari kedua Bakti Sosial Operasi Katarak gratis dalam rangka Paskah Nasional V, hadir Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag, Ketua FKUB sekaligus Ketua MUI Kota Palu, untuk menyaksikan langsung apa yang selama ini ia serukan dari mimbar: bahwa kerukunan antarumat bukan sekadar wacana.

Kedatangan Prof. Zainal Abidin didampingi Ketua Panitia Pelaksana Harian Paskah Nasional V, Dr. Samuel Yansen Pongi, S.E., M.Si. Mereka disambut dr. Abdul Qadir selaku pimpinan SMEC, Mayor Melty Adilang Karaginta dari Sie. Kesehatan Panpel, serta perwakilan dua sponsor utama kegiatan: Edy, Presiden Direktur PT Anugerah Lestari Power, dan GM PT Neo Energy.

Muat Lebih

Samuel Pongi berbicara lebih dulu. Dan yang ia paparkan bukan susunan acara, melainkan bukti. Ia menjelaskan bahwa pengamanan dan pengelolaan parkiran selama puncak Paskah Nasional V, yang dijadwalkan Minggu 26 April 2026, tidak ditangani panitia internal. Tugas itu diserahkan kepada Front Pemuda Kaili, Remaja Masjid Loroh, dan para imam masjid setempat. Umat Kristiani beribadah di dalam. Saudara-saudara mereka dari komunitas Muslim berjaga di luar. Hasil retribusi parkiran disumbangkan sepenuhnya untuk pembangunan masjid di Desa Loru

Di luar soal parkiran, Samuel juga menyebut kegiatan donor darah yang diinisiasi umat Kristiani bersama PMI. Darah yang terkumpul tidak dipilah berdasarkan agama, tidak pendonornya, tidak penerimanya. Bagi Samuel, dua hal itu sudah cukup menjawab pertanyaan tentang apa arti moderasi beragama yang sesungguhnya. Bukan kalimat indah di spanduk, melainkan kesepakatan nyata antarwarga yang sudah berjalan jauh sebelum hari H. Ia menegaskan bahwa seluruh rancangan ini lahir dari arahan Prof. Zainal Abidin sebagai Ketua FKUB, yang sejak awal mendorong setiap kegiatan keagamaan untuk membuka ruang keterlibatan nyata bagi umat lintas iman, bukan sekadar undangan hadir sebagai tamu.

Prof. Zainal Abidin berbicara dengan cara yang sudah jadi ciri khasnya, mengalir antara yang serius dan yang jenaka, tanpa kehilangan arah. Ia membuka dengan keyakinan yang ia pegang lama: tidak ada satu pun agama yang mengajarkan permusuhan. Mereka yang mengatasnamakan agama untuk memecah belah, katanya, bukan sedang menjalankan ajaran, mereka sedang mempertontonkan dangkalnya pemahaman mereka sendiri.

Dari tradisi Islam, ia mengutip hadis tentang kasih sayang kepada sesama makhluk di bumi sebagai jalan untuk mendapat kasih sayang dari langit. Ia juga membawa kisah Nabi Muhammad yang setiap pagi mengantarkan makanan kepada seorang Yahudi buta di pasar, meski orang itu tak henti memaki beliau. Kisah itu bukan nostalgia. Bagi Prof. Zainal, itu cermin sikap yang masih perlu diteladani hari ini.

Beralih ke tradisi Kristiani, ia menyebut perintah untuk mengasihi sesama sebagaimana mengasihi diri sendiri, lalu menunjuk ke ruangan di sekelilingnya. Ratusan warga, sebagian besar Muslim, sedang mengantre mendapat layanan kesehatan yang diselenggarakan dalam semangat Paskah. Bagi Prof. Zainal, tidak perlu penjelasan tambahan.

Ia menutup dengan gambaran yang ringkas namun membekas: tentang orang-orang yang begitu yakin hanya golongannya yang akan masuk surga, sehingga mereka bertikai di dunia memperebutkan keyakinan itu. Ironinya, kata dia, mereka bertikai sebelum sempat tahu siapa yang benar. Hadirin tertawa, tapi mengangguk.

Edy, Presiden Direktur PT Anugerah Lestari Power, menutup sambutannya dengan pantun, pilihan yang paling pas menggambarkan suasana hari itu. Bagi dua perusahaan sponsor yang tengah mengerjakan proyek pembangkit listrik tenaga air di Kabupaten Sigi, keterlibatan dalam kegiatan lintas agama seperti ini bukan sekadar kewajiban sosial perusahaan. Ini adalah pernyataan tentang komunitas seperti apa yang ingin mereka bangun bersama.

Operasi katarak kembali berlanjut usai sambutan. Pasien mengantre dengan sabar, sebagian besar warga Muslim dari Kota Palu dan sekitarnya, duduk di ruang tunggu klinik yang beroperasi dalam semangat Paskah. Di kota yang pernah dikenal sebagai daerah konflik, pemandangan itu bukan hal kecil.

Puncak Paskah Nasional V dijadwalkan berlangsung Minggu, 26 April 2026, di Kota Palu dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.(Rif)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *