PALU, SULTENG – ONLINENEWS.ID// Jemaat Gereja Protestan Indonesia di Donggala (GPID) Manunggal Palu memperingati hari ulang tahun ke-46 pada Minggu (11/10/2026). Di balik perayaan itu ada kisah panjang yang bermula dari sebuah ibadah kecil di lingkungan asrama Yonif 711/Raksatama, jauh sebelum gedung gereja di Jalan Towua berdiri.
Menurut catatan sejarah jemaat yang dibacakan Pnt. Albert M. Lago dalam acara syukur, benih pelayanan itu mulai tumbuh pada 1964. Dalam ibadah khusus di aula Yonif 711/Raksatama, sembilan orang panitia dikukuhkan sebagai Majelis Jemaat Pos Kebaktian Tatura, yang melayani anggota dan keluarga penghuni asrama. Pada masa itu ibadah Minggu berpindah-pindah tempat di dalam kompleks asrama. Jumlahnya semula dua kolom, lalu bertambah menjadi tiga seiring bertambahnya anggota.
Kebutuhan akan gembala mendorong anggota jemaat meminta pendeta kepada Sinode GPID pada 1973 melalui komandan Yonif saat itu. Permintaan itu baru terjawab pada 1980, ketika seorang calon pendeta ditempatkan di asrama. Di tahun yang sama, atas usul Pdt. Tommy Malonda, S.Th., pos kebaktian ini ditetapkan menjadi jemaat dewasa bernama Jemaat Tatura Palu. Peresmiannya berlangsung dalam ibadah pengucapan syukur pada 5 Oktober 1980, tanggal yang menjadi titik hitung usia 46 tahun hari ini.
Pelayanan lalu meluas hingga Birobuli, Kalukubula, dan Biromaru, sehingga nama Tatura dianggap tidak lagi sesuai dengan wilayah layanan. Pada 1986 nama jemaat diganti menjadi Jemaat Manunggal Palu, yang artinya Menyatunya Tentara dengan Rakyat dalam Membangun.
Pembangunan gedung gereja dimulai dari rapat majelis pada 1981. Panitia mengumpulkan dana sebesar Rp12 juta dari kas panitia, kas jemaat, persembahan jemaat GPID Pniel Palu, dan dua kelompok kolom, lalu membeli sebidang tanah berukuran 25 x 50 meter di Jalan Towua. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Oktober 1984, dan gedung gereja diresmikan Gubernur Sulawesi Tengah saat itu, Mayjen (Purn) HB Paliudju, pada 2 Juni 1996. Dari jemaat ini kemudian lahir beberapa jemaat lain: GPID Syalom Maku (pos pelayanan 1985), GPID Patmos Jono Oge (pos pelayanan 1995), dan GPID Koinonia (pemekaran 2016).
Ketua Jemaat, Edison Wentinusa, mengatakan akar sejarah di asrama itu tidak boleh dilupakan. Menurutnya, jemaat bertambah besar hingga tidak lagi memungkinkan menetap di dalam kompleks Raksatama, sehingga gedung gereja dibangun di luar. Ia menyampaikan terima kasih atas nama majelis jemaat kepada Yonif 711/Raksatama sebagai pelaku sejarah yang menjadi tempat berawalnya Manunggal. Hingga kini, kata Edison, masih ada beberapa kolom yang anggotanya berasal dari lingkungan Raksatama.
Kini, menurut Edison, jemaat telah berkembang menjadi sekitar 15 kolom dengan perkiraan 2.600 jiwa. Tantangan yang ia soroti ada pada kaum muda: keaktifan remaja dan pemuda dalam persekutuan cenderung menurun karena kesibukan, kondisi yang menurutnya dialami banyak gereja. Jemaat menjawabnya dengan kelas katekisasi tahunan untuk calon sidi, yang memuat materi menghindari narkoba, minuman keras, dan pergaulan bebas, serta penyesuaian cara beribadah bagi remaja dan pemuda.Rif






