GPID Manunggal Palu Rayakan HUT ke-46 dengan Ibadah Syukur, Jemaat Diajak Memperbarui Komitmen

  • Whatsapp

PALU, SULTENG – ONLINENEWS.ID// Jemaat Gereja Protestan Indonesia di Donggala (GPID) Manunggal Palu merayakan hari ulang tahun ke-46 lewat ibadah dan pengucapan syukur, Minggu (11/10/2026) pagi, di gedung gereja di Jalan Towua Raya, Kota Palu.

Ibadah dimulai pukul 08.00 WITA. Ruang ibadah penuh, dan halaman gereja pun sesak oleh jemaat yang mengikuti acara dari luar gedung. Suasana berlangsung khidmat, dari pujian rohani sampai penyampaian firman Tuhan.

Muat Lebih

Bertindak sebagai pelayan firman, Pdt. Ni Ketut Suryaningsih, S.Th., membawakan renungan dari Kolose 2:6-10. Ia menyampaikan dua hal. Pertama, segala yang dimiliki manusia, dari kekuatan, kesehatan, berkat, sampai keberhasilan, ada dalam tangan Tuhan dan berasal dari Dia. Kedua, syukur di hari ulang tahun ini hendaknya menjadi saat memperbarui komitmen menjalankan panggilan gereja, supaya jemaat terus berakar, bertumbuh, dan berbuah.

Kepada wartawan, Suryaningsih juga bicara soal tantangan zaman. Menurutnya, perkembangan teknologi digital memang memudahkan komunikasi, tetapi tidak jarang membuat umat lebih banyak memegang ponsel daripada membaca firman. Gereja, kata dia, sedang mengupayakan agar teknologi dipakai dengan baik. Harapannya bagi jemaat mengikuti tema perayaan: tetap sehati, sepikir, dan saling membangun dalam damai sejahtera.

Tema HUT ke-46 itu berbunyi Hendaklah kamu sehati, sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan (Filipi 2:2b), dengan sub tema Dengan bersyukur kita hidup dalam damai sejahtera dan saling membangun menuju jemaat yang berakar, bertumbuh dan berbuah.

Usai ibadah, acara berlanjut ke sesi seremoni. Sejarah berdirinya GPID Manunggal dibacakan oleh Pnt. Albert M. Lago. Sambutan pertama disampaikan Ketua Jemaat, Edison Wentinusa. Ia menyebut GPID Manunggal Palu kerap dijuluki jemaat “NKRI kecil” karena anggotanya berasal dari sekitar 13 suku bangsa, baik dari Sulawesi Tengah maupun dari luar provinsi, dengan jumlah sekitar 2.600 jiwa yang terus bertambah. Usia 46 tahun, menurut Edison, adalah usia kedewasaan, yakni dewasa dalam bersyukur dan berpikir serta tidak bersikap kekanak-kanakan. Jemaat diajak membangun kesatuan tanpa menuntut keseragaman.

Sambutan berikutnya datang dari Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BKPSDMD) Kota Palu, Dr. Drs. John Yus Madoli, M.Si., mewakili Walikota Palu, Hadianto Rasyid, S.E. Madoli menyampaikan permohonan maaf Walikota yang tidak dapat hadir karena ada agenda lain. Dalam sambutan tertulis yang ia bacakan, Walikota mengucapkan selamat ulang tahun dan menyampaikan penghargaan atas peran jemaat dalam pembinaan kehidupan rohani, pembentukan karakter, serta penguatan kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Palu. Walikota berharap gereja tetap menjadi mitra pemerintah kota, dan mengajak jemaat menjaga persaudaraan, peduli sesama, serta ikut mewujudkan Palu yang aman, damai, dan sejahtera dengan menghormati keberagaman.

Sambutan terakhir disampaikan Kepala Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Adiman, S.H., M.Si., mewakili Gubernur Sulteng, Anwar Hafid, yang berhalangan hadir karena ada kegiatan lain. Dalam sambutan Gubernur yang dibacakannya, hari ulang tahun GPID Manunggal disebut bukan sekadar bertambahnya usia, melainkan saat menengok kembali penyertaan Tuhan dan meneguhkan langkah ke depan. Gereja menjadi kuat bukan karena bangunannya, tetapi karena hati umatnya dipersatukan oleh kasih. Pemerintah provinsi menghargai peran gereja sebagai mitra dalam membangun masyarakat yang rukun dan toleran, sebab pembangunan, kata Gubernur, tidak hanya soal jalan dan gedung tetapi juga membangun manusia. Gubernur berharap GPID Manunggal semakin berakar dalam iman, bertumbuh dalam kasih, dan berbuah dalam pelayanan.

Di luar teks sambutan, Adiman menyampaikan bahwa Gubernur Anwar Hafid baru-baru ini menerima mandat dari Menteri Agama agar Sulawesi Tengah menjadi tuan rumah Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional pada 2029, dengan peserta dari 38 provinsi. Ia mengajak umat Kristiani mendukung dan mendoakan persiapannya.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemotongan kue oleh panitia, disaksikan jajaran pengurus, pendeta, dan para penatua. Potongan kue kemudian diserahkan kepada sejumlah tokoh yang namanya disebut pembawa acara. Setelah itu digelar lelang bahan natura. Perayaan ditutup dengan doa dan jamuan kasih, santap bersama seluruh jemaat. Rif

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *