PALU, SULTENG – ONLINENEWS.ID// Menyambut Hari Lalu Lintas Bhayangkara (HLLB) ke-71 yang jatuh pada 22 September 2026, sosok di balik pengendalian arus lalu lintas Sulawesi Tengah tak lepas dari perhatian. Kepala Satuan Patroli Jalan Raya (Ka.Sat PJR) Direktorat Lalu Lintas Polda Sulawesi Tengah, Kompol Sulardi, S.H., M.H., membagikan pandangannya soal disiplin berlalu lintas, tantangan di lapangan, hingga harapannya di usia ke-71 Polantas, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/9/2026).
Sulardi baru menjabat sebagai Ka.Sat PJR selama lima bulan. Namun bukan berarti ia asing dengan dunia lalu lintas. *”Dari semenjak keluar dari SPN memang kebanyakan dominan tertugas di bagian lalu lintas,”* ujarnya.
Ditanya soal akar persoalan ketertiban berlalu lintas, Sulardi menegaskan ada kaitan erat antara kebiasaan masyarakat dan angka kecelakaan. Ia mencatat, jumlah kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di wilayah Sulawesi Tengah mengalami peningkatan pada 2026 dibanding 2025, dengan usia pelajar dan mahasiswa mendominasi angka tersebut. *”Dari usia SMA dan mahasiswa itu biasanya ingin memperlihatkan jati diri,”* katanya, seraya menyebut faktor psikologis turut memengaruhi ketidakpatuhan terhadap batas kecepatan.
Sulardi juga menyoroti fenomena anak di bawah umur yang sudah mengendarai sepeda motor bahkan mobil, sesuatu yang menurutnya kerap dianggap wajar oleh sebagian orang tua di lingkungan permukiman. Ia menilai kesibukan orang tua kerap menjadi alasan pemberian kendaraan kepada anak untuk berangkat sekolah, padahal secara usia dan kematangan emosi mereka belum siap menghadapi dinamika di jalan raya.
Soal kepadatan kota, Sulardi mengakui volume kendaraan di Kota Palu meningkat signifikan sejak pascabencana gempa dan tsunami 2018, sehingga simpang-simpang utama memerlukan perhatian khusus. Ia menyebut Direktorat Lalu Lintas bersama Satlantas Polresta Palu rutin melakukan patroli pada jam-jam padat pagi dan sore. Ia turut menitipkan catatan soal lampu pengatur lalu lintas (traffic light) yang kerap padam saat listrik PLN mati, kondisi yang menurutnya berpotensi memicu kemacetan di titik-titik rawan.
Dalam momentum HUT ke-71, Sulardi memaparkan sejumlah program pendekatan kepada masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan Turjawali (Pengaturan, Penjagaan, Pengawalan, dan Patroli) yang rutin dilaksanakan pada jam-jam sibuk, terutama pagi hari, sebagai bentuk kehadiran nyata polisi lalu lintas di tengah masyarakat. Selain itu, edukasi lalu lintas juga menyasar sekolah-sekolah, termasuk pembagian atribut keselamatan kepada pelajar. Pendekatan terhadap pelanggar pun ditekankan berubah ke arah humanis. *”Senyum, sapa dan salam (selamat pagi/siang/sore) sesuai keadaan… Ingatkan kesalahan pelanggar dan jangan diulangi kesalahannya,”* katanya, menjelaskan cara personelnya menegur pengendara yang lalai, misalnya tidak menggunakan helm.
Ia turut mengingatkan masyarakat bahwa layanan panggilan darurat 110 dapat dimanfaatkan secara gratis untuk melaporkan kejadian lalu lintas, guna mempercepat respons dan pelayanan kepolisian.
Terkait kendaraan bermuatan lebih (overload) dan pelanggaran dimensi (over dimension), Sulardi menyebut Korlantas menargetkan kondisi *zero ODOL* pada 2027. Untuk saat ini, pihaknya masih mengedepankan imbauan langsung kepada pemilik kendaraan serta sosialisasi melalui spanduk di sejumlah titik kota. Ia mengingatkan, muatan berlebih berisiko mempercepat kerusakan badan jalan maupun mesin kendaraan itu sendiri.
Soal sistem tilang elektronik (ETLE), Sulardi menilai teknologi tersebut cukup membantu kerja pengawasan, meski ia mengakui masih ada oknum masyarakat yang menyiasati sistem dengan memodifikasi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) agar tidak tertangkap kamera.
Meski keseharian tugas lalu lintas sudah menjadi rutinitas yang dijalankan personel PJR maupun jajaran Satlantas pada umumnya, kesiapan menyambut hari-hari besar seperti Natal dan Tahun Baru ternyata tetap memerlukan persiapan khusus. Sulardi membenarkan hal tersebut. Menurutnya, jelang momen-momen seperti itu, arahan dan pembekalan kembali dilakukan secara berjenjang, mulai dari Korlantas Polri di tingkat pusat, diteruskan ke Direktorat Lalu Lintas di masing-masing polda, hingga ke satuan lalu lintas di tingkat Polres — sebuah pola yang menegaskan bahwa profesionalisme di lapangan tidak berhenti pada pelatihan dasar semata, tetapi terus diperbarui menjelang setiap momentum krusial. Sulardi memastikan satuannya telah mulai menyiapkan operasi kepolisian, mulai dari pelatihan personel, penyiapan pos pengamanan jalur, hingga koordinasi lintas sektoral. Ia menambahkan, aspek kesehatan fisik dan psikis anggota yang bertugas dalam operasi juga menjadi perhatian, termasuk pemeriksaan kesehatan (pikes) dan pemberian bekal kesehatan sebelum penugasan.
Di penghujung wawancara, Sulardi menitipkan harapan kepada jajaran PJR untuk terus memberikan pelayanan dan edukasi terbaik kepada pengguna jalan. Kepada masyarakat, ia berharap kesadaran berlalu lintas terus tumbuh demi menekan angka kecelakaan fatal. *”Jalan itu bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kepentingan umum,”* pungkasnya, sembari mengingatkan pentingnya memberi jalan kepada kendaraan prioritas seperti ambulans dan pemadam kebakaran.
_*Diolah dari keterangan Kasat PJR Ditlantas Polda Sulteng Kompol Sulardi, S.H., M.H.*_
Reporter: Rif






