ONLINENEWS.ID//TIM pengabdian kepada masyarakat Universitas Tidar menerapkan teknologi gasifikasi Gasifikasi On-Demand (GASMOD) dan biokonversi maggot di dua Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) serta jejaring bank sampah di Kota Magelang sepanjang 2026.
Program ini mengubah residu sampah yang selama ini menjadi beban lingkungan menjadi energi, pakan, dan sumber pangan bagi warga.
Kegiatan dilaksanakan di TPS3R Rusunawa dan TPS3R Dumpoh Potrobangsan, serta berkolaborasi dengan Bank Sampah Sido Resik bersama kelompok PKK dan Posyandu di Desa Bulurejo, Kecamatan Mertoyudan. Program menyasar krisis sampah kota yang mencapai sekitar 80 ton per hari, dengan 80 persen di antaranya masih menumpuk di tempat pemrosesan akhir yang telah melampaui kapasitas.
“Kami ingin membuktikan bahwa sampah bukan beban, melainkan sumber energi dan pangan. Melalui teknologi tepat guna dan pemberdayaan warga, rantai limbah bisa ditutup,” ujar Dr. Ir. Arif Rahman Saleh, S.T., M.T. kata Ketua tim pengabdian dari Universitas Tidar, Minggu 23 Agustus 2026.
Menurutnya, melalui reaktor GASMOD berkapasitas 60 kilogram per jam, residu sampah kering dikonversi menjadi gas bakar (syngas) untuk menyalakan generator listrik operasional. Praktik pembakaran manual yang sebelumnya mencapai 100 persen berhasil ditekan menjadi tinggal seperempatnya, sementara efisiensi biaya energi meningkat hingga sekitar 35 persen.
“Untuk sampah organik, biokonversi maggot Black Soldier Fly yang menghasilkan 20–30 kilogram maggot segar per hari,” jelasnya.
Arif menjelaskan, Maggot dimanfaatkan sebagai pakan budidaya ikan lele dan ayam kampung petelur. Jumlah kolam lele bertambah dari satu menjadi enam kolam berkapasitas 3.000 ekor per kolam, dan ternak ayam mencapai 68 ekor.
Lantas, warga penyetor sampah organik memperoleh poin yang dapat ditukar dengan telur, lele, atau ayam melalui aplikasi digital bernama “Tani Terpadu”. Warga cukup memindai kode QR pada kartu anggota untuk memeriksa saldo poinnya.
Adapun sampah plastik diolah menjadi paving block dengan insinerator ramah lingkungan berpenyaring bertingkat, dan telah memperoleh pesanan awal 1.000 dari total kebutuhan 17.500 keping untuk sebuah proyek di luar daerah.
Karena menggandeng Posyandu, lanjutnya, program juga diarahkan pada penanganan dan penanggulangan potensi stunting. Protein hewani yang terjangkau telur, ikan lele, dan daging ayam dari hasil budidaya diprioritaskan untuk memperbaiki asupan gizi keluarga dengan balita.
“Melalui Posyandu, protein hewani yang kami hasilkan diarahkan untuk memperbaiki gizi balita sebagai bagian dari upaya menekan potensi stunting di lingkungan mitra,” tambah Arif.
Ia mengungkapkan, budidaya ikan lele dengan pakan Maggot menjadi sumber protein hewani untuk perbaikan gizi keluarga dan pencegahan stunting.
Dengan cara ini, tingkat keberdayaan mitra pada aspek produksi meningkat dari kisaran 25–30 persen menjadi sekitar 70 persen, dengan serapan anggaran pelaksanaan mencapai 80 persen hingga laporan kemajuan disusun.
Pengelola TPS3R, Maryanto mengatakan, program ini sangat membantu mengatasi persoalan sampah di wilayah kami. Sampah plastik yang dulu banyak menyumbat saluran air kini teratasi, sementara pengumpulan sampah organik meningkatkan partisipasi ibu-ibu sekaligus kesehatan keluarga melalui sumber protein tambahan.
Dirinya menambahkan bahwa Desa Bulurejo yang dahulu dikenal sebagai desa kumuh kini menjadi lebih bersih dan kerap dikunjungi berbagai pihak yang ingin belajar pengelolaan sampah.
Sementara itu, Widodo, S.P., M.Si., dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang, menilai program ini turut mengurangi beban tempat pemrosesan akhir.
“Program ini sangat baik karena membantu mengolah sampah yang selama ini dibuang ke TPA Banyuurip. Daun dan ranting dimanfaatkan menjadi bahan bakar gasifikasi. Pola seperti ini kami harapkan dapat direplikasi di lokasi lain,” ujarnya.
Program ini merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah dengan tahun pendanaan 2026, yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Ke depan, tim menargetkan penuntasan instalasi pengolahan air limbah, peningkatan kapasitas produksi paving, penguatan kelembagaan bank sampah, serta replikasi model ke wilayah sekitar agar manfaatnya semakin luas. Red






