WONOGIRI – ONLINENEWS.ID//Pemerintah Kabupaten Wonogiri memilih pendekatan budaya dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menggelar kesenian wayang kulit di 25 kecamatan. Langkah konkret pelestarian budaya lokal dan penguatan identitas daerah sebagai kota budaya dan kebijakan kebudayaan lokal.
Dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri mengambil langkah untuk melestarikan kesenian tradisional dengan menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang akan digelar serentak di 25 kecamatan, sebagai wujud pelestarian budaya dan bagian dari strategi membangun citra Wonogiri sebagai kota budaya.
Setyo Sukarno Bupati Wonogiri, melalui Joko Purwidiyatmo,S.Sos.M.M di Kecamatan Jatisrono menyatakan bahwa anggaran untuk pagelaran yang di dapatkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Wonogiri. “Kami ingin menunjukkan bahwa inisiatif ini merupakan tanggung jawab pemerintah daerah, bukan inisiatif yang membebani masyarakat,” tegasnya. Ia juga menekankan bahwa pelaksanaan pertunjukan wayang tersebut akan dilakukan serentak, bukan pada malam tirakatan, melainkan saat malam resepsi kemerdekaan.
Dari sudut pandang kebijakan publik, keputusan ini mencerminkan respons adaptif pemerintah terhadap situasi sosial ekonomi masyarakat, sembari tetap menjaga semangat peringatan kemerdekaan. Secara kultural, pendekatan ini menjadi sinyal kuat bahwa Pemkab Wonogiri berupaya memperkuat basis budaya lokal dalam konteks pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, Pemkab Wonogiri berencana membentuk Dewan Kesenian Daerah, lembaga yang akan berfungsi sebagai mitra pemerintah dalam merumuskan arah kebijakan seni dan budaya. “Dewan ini nantinya menjadi ruang kolektif untuk pembinaan dan pengembangan kesenian daerah. Tidak hanya wayang, tetapi seluruh kesenian lokal akan dibina dan dikembangkan,” ujar Bupati Wonogiri melalui Joko dalam pidatonya .
Secara normatif, keputusan untuk mengalokasikan dana publik ke bidang kesenian terutama melalui pertunjukan tradisional seperti wayang kulit merupakan bentuk investasi sosial yang sejalan dengan amanat konstitusi Pasal 32 UUD 1945 tentang pemajuan kebudayaan nasional. Dalam konteks ini, Pemkab Wonogiri menunjukkan pemahaman etis dan konstitusional dalam pengelolaan anggaran berbasis nilai budaya.
Di Kecamatan Jatisrono sejak Sabtu (22/8/2026) pagi telah di gelar beberapa tampilan panggung kesenian dan lomba-lomba untuk pelajar dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga pelajar tingkat atas , lantas malamnya di lanjutkan resepsi penyerahan hadiah maupun piala kejuaraan Pekan Olahraga Desa (PORDES ) Piala Bupati Cup Tahun 2026. Sebelum acara penutup pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
Sambutan yang di sampaikan Camat Jatisrono Danang Sugiyatmoko S.ST.MM mengapresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh warga Kecamatan Jatisrono , pemuda dan panitia yang sukses melaksanakan tugasnya sejak awal kegiatan hingga akhir penutupan peringatan HUT- RI Ke 81 Tahun 2026. sebagai langkah untuk mengintegrasikan olah raga dan budaya tradisional ke dalam ruang publik kontemporer, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga warisan budaya di tengah tantangan globalisasi,” sambut Danang .
Sebagai catatan, pelestarian budaya seperti ini tidak semata urusan artistik, melainkan berkaitan langsung dengan ketahanan identitas lokal dan legitimasi sosial pemerintah daerah. Jika dikawal dengan partisipasi aktif masyarakat dan ekosistem kebudayaan lokal, pertunjukan wayang serentak ini berpotensi menjadi model baru peringatan kemerdekaan berbasis nilai-nilai luhur bangsa.
Pewarta: Sgno2t/PJW






