Satu Dokter, Dua Perawat, Hampir 300 Jiwa: Pengabdian Sunyi TNI AL di Palolo

  • Whatsapp

SIGI, SULTENG – ONLINENEWS.ID//
Tiga orang. Satu dokter, dua perawat. Itulah seluruh tim yang diturunkan Balai Kesehatan Lanal Palu ke Desa Banpres, dataran Palolo, Kabupaten Sigi, sejak tiga hari lalu. Dan dalam tiga hari itu, mereka sudah menangani hampir 300 pasien.

Kapten Laut (K) dr. Jordy, Kepala Balai Kesehatan Lanal Palu, menyampaikan angka itu dengan nada datar ketika ditemui di posko kesehatan TNI AL, Jumat, 19 Juni 2026 — bukan untuk mengesankan siapa pun, tapi memang begitu adanya.

Muat Lebih

“Mayoritas pasien yang datang mengalami cedera akibat benturan pascagempa. Ada yang tertimpa lemari, ada yang tertimpa bata dan sebagainya,” ujarnya.

Tapi cedera fisik bukan satu-satunya yang masuk. Warga yang kurang tidur karena trauma mulai mengeluhkan sakit kepala. Yang bermalam di tenda darurat dengan cuaca tidak menentu mulai terserang infeksi saluran napas atas. Bayi-bayi pun tidak luput — rata-rata tiga hingga empat bayi datang setiap harinya. Ibu hamil juga ada, meski jumlahnya sedikit. Satu kasus bahkan harus dirujuk karena mengalami komplikasi yang tidak bisa ditangani di posko.

Ada satu kasus yang tidak mudah dilupakan. Seorang pekerja tambang di kawasan atas datang dalam kondisi lumpuh di kedua kaki — sudah dua minggu tidak bisa menggerakkan kakinya, tidak bisa menahan buang air. Dia baru bisa mencapai posko setelah akses transportasi memungkinkan.

“Kita lihat bahwa ini perlu dirujuk untuk mendapatkan pelayanan lebih lanjut,” kata Jordy.

Posko ini tidak membatasi siapa yang boleh datang. Saat tim meliput Jumat kemarin, dr. Jordy dan perawatnya sedang menangani seorang korban kecelakaan lalu lintas — bukan korban gempa. Tidak ada seleksi, tidak ada penolakan. Siapa yang datang, dilayani.

TNI AL di sini juga tidak bekerja sendiri. Puskesmas Banpres menjadi mitra utama, dengan dukungan tambahan dari Puskesmas Marawola dan Puskesmas Dolo pada hari-hari tertentu. Di sela kesibukan posko, sempat diabadikan foto dr. Jordy berdiri di tengah belasan tenaga kesehatan dari berbagai puskesmas itu — semua bergaya semangat dengan kepalan tangan. Tidak ada jarak antara perwira dan tenaga kesehatan sipil. Yang ada hanya orang-orang yang datang untuk tujuan yang sama.

Soal sampai kapan posko beroperasi, Kapten Jordy tidak memberikan tanggal pasti. Arahan dari Danlanal Palu sudah jelas: dukung penuh pelayanan kesehatan selama status siaga bencana masih berlaku.

“Pelayanan kesehatan ini adalah pelayanan yang berkelanjutan, terus meskipun terdampak bencana gempa,” katanya.

Sosok yang bicara itu tenang. Tidak ada nada gagah, tidak ada klaim berlebihan. Hanya seorang dokter yang sejak tiga hari lalu memilih duduk di posko dataran Palolo — menerima siapa saja yang datang, dari yang tertimpa puing hingga yang kakinya tidak bisa bergerak dua minggu, hingga pengendara yang jatuh di jalan.

Tidak ada liputan besar tentang mereka. Tidak ada sambutan resmi. Posko itu berdiri di bawah tenda hitam di halaman Puskesmas Banpres, dan setiap pagi pintunya terbuka.

Tiga orang. Hampir 300 jiwa. Mereka tidak menghitung — mereka hanya terus melayani. (Rif)

_Sumber: Kapten Laut (K) dr. Jordy, Kepala Balai Kesehatan Lanal Palu / Posko Kesehatan TNI AL Desa Banpres, Palolo_

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *