SIGI, SULTENG – ON LINE NEWS.ID Kunjungan resmi itu sudah selesai. Kepala BNPB sudah bicara di depan mikrofon. Bantuan sudah diserahkan. Kamera-kamera wartawan sudah mulai diturunkan.
Tapi Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar, Panglima Kodam XXIII/Palaka Wira, belum pergi.
Dia masih berdiri di dalam tenda pengungsian Gereja Bala Keselamatan di Palolo, Kabupaten Sigi — menyapa satu per satu. Kepada Mayor (BK) Jatmiko dari Korps Ebenhezer — yang tetap hadir berseragam meski kepalanya masih dibalut perban — Pangdam berdiri berdampingan, tersenyum, dan berbicara sebentar. Posturnya sedikit membungkuk ke arah lawan bicara. Postur orang yang mendengarkan, bukan memberi instruksi.
Lalu dia berjabat tangan dengan Kapten (BK) Dachi, pemimpin jemaat Korps Kamarora B. Hangat. Tidak ada jarak protokoler.
Jumat, 19 Juni 2026, Pangdam Binsar mendampingi Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, meninjau wilayah terdampak gempa M 6,7 di Kecamatan Nokilalaki dan Palolo. Di lokasi, Kepala BNPB berdialog dengan wargaSIGI, SULTENG – ON LINE NEWS.ID Kunjungan resmi itu sudah selesai. Kepala BNPB sudah bicara di depan mikrofon. Bantuan sudah diserahkan. Kamera-kamera wartawan sudah mulai diturunkan.
Tapi Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar, Panglima Kodam XXIII/Palaka Wira, belum pergi.
Dia masih berdiri di dalam tenda pengungsian Gereja Bala Keselamatan di Palolo, Kabupaten Sigi — menyapa satu per satu. Kepada Mayor (BK) Jatmiko dari Korps Ebenhezer — yang tetap hadir berseragam meski kepalanya masih dibalut perban — Pangdam berdiri berdampingan, tersenyum, dan berbicara sebentar. Posturnya sedikit membungkuk ke arah lawan bicara. Postur orang yang mendengarkan, bukan memberi instruksi.
Lalu dia berjabat tangan dengan Kapten (BK) Dachi, pemimpin jemaat Korps Kamarora B. Hangat. Tidak ada jarak protokoler.
Jumat, 19 Juni 2026, Pangdam Binsar mendampingi Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, meninjau wilayah terdampak gempa M 6,7 di Kecamatan Nokilalaki dan Palolo. Di lokasi, Kepala BNPB berdialog dengan warga dan menyerahkan bantuan logistik — paket sembako, makanan tambahan, dan tenda darurat — bersama Pangdam dan Bupati Sigi, Moh. Rizal Intjenae. Satu foto mengabadikan keempatnya berdampingan: Pangdam Binsar, Kapten (BK) Dachi, Letjen Suharyanto, dan Bupati Rizal — semua dengan kepalan tangan semangat.
“Kehadiran pemerintah di lokasi bencana adalah untuk memastikan masyarakat mendapatkan penanganan yang cepat, bantuan yang dibutuhkan, serta dukungan dalam proses pemulihan pascabencana,” ujar Kepala BNPB.
Tapi yang membekas bukan sesi foto itu.
Yang membekas adalah momen sesudahnya.
Ketika Pangdam masuk lebih dalam ke kerumunan jemaat yang memenuhi tenda — ratusan warga dengan wajah lelah dan mata yang berat — dia tidak berdiri di depan. Dia masuk ke tengah. Melambaikan tangan. Berbicara. Tawa kecil pecah di sana-sini di antara warga yang sudah berhari-hari tidur di luar rumah.
Di foto yang diabadikan saat itu, Pangdam terlihat mengangkat kantong-kantong bingkisan dengan kedua tangannya — menyerahkan langsung ke tangan warga, satu per satu. Bukan ke meja panitia. Bukan ke koordinator. Langsung.
Jemaat Gereja Bala Keselamatan Korps Kamarora B dan Korps Ebenhezer memang bukan komunitas besar. Gereja mereka rusak. Sebagian rumah jemaat rubuh. Tapi hari itu mereka melihat sendiri: pemimpin militer dengan dua bintang di pundak datang ke tempat mereka, duduk sejajar, bicara langsung — dan saat pamit mengucapkan kata-kata yang sederhana tapi tidak terasa basa-basi.
Tiga kata. Tidak ada di rilis resmi mana pun. Tapi bagi jemaat yang sudah tiga hari tidur di tenda, tiga kata itu dari seorang jenderal yang hadir langsung — bukan sekadar pesan duka di media sosial — punya berat yang berbeda.
Pangdam Binsar menegaskan bahwa TNI tidak bekerja sendiri. Kodam XXIII/Palaka Wira telah mengerahkan personel untuk membantu evakuasi, pendataan, distribusi bantuan, dan pemulihan wilayah terdampak — berkoordinasi dengan BNPB, BPBD, pemerintah daerah, dan Polri.
“TNI akan terus hadir dan bekerja bersama rakyat dalam setiap situasi, termasuk saat terjadi bencana alam,” tegasnya.
Kalimat itu sudah banyak diucapkan banyak pejabat di banyak situasi. Tapi di Palolo kemarin, ada bukti yang bisa dilihat langsung: seorang Pangdam yang tidak langsung naik kendaraan begitu acara resmi selesai, melainkan memilih tinggal sebentar — menyapa hamba Tuhan yang kepalanya masih berperban, berjabat tangan dengan pendeta perempuan dari Korps Kamarora B, dan mengucapkan salam perpisahan dalam bahasa yang dipahami jemaat.
Tuhan Memberkati.
_Rif_ dan menyerahkan bantuan logistik — paket sembako, makanan tambahan, dan tenda darurat — bersama Pangdam dan Bupati Sigi, Moh. Rizal Intjenae. Satu foto mengabadikan keempatnya berdampingan: Pangdam Binsar, Kapten (BK) Dachi, Letjen Suharyanto, dan Bupati Rizal — semua dengan kepalan tangan semangat.
“Kehadiran pemerintah di lokasi bencana adalah untuk memastikan masyarakat mendapatkan penanganan yang cepat, bantuan yang dibutuhkan, serta dukungan dalam proses pemulihan pascabencana,” ujar Kepala BNPB.
Tapi yang membekas bukan sesi foto itu.
Yang membekas adalah momen sesudahnya.
Ketika Pangdam masuk lebih dalam ke kerumunan jemaat yang memenuhi tenda — ratusan warga dengan wajah lelah dan mata yang berat — dia tidak berdiri di depan. Dia masuk ke tengah. Melambaikan tangan. Berbicara. Tawa kecil pecah di sana-sini di antara warga yang sudah berhari-hari tidur di luar rumah.
Di foto yang diabadikan saat itu, Pangdam terlihat mengangkat kantong-kantong bingkisan dengan kedua tangannya — menyerahkan langsung ke tangan warga, satu per satu. Bukan ke meja panitia. Bukan ke koordinator. Langsung.
Jemaat Gereja Bala Keselamatan Korps Kamarora B dan Korps Ebenhezer memang bukan komunitas besar. Gereja mereka rusak. Sebagian rumah jemaat rubuh. Tapi hari itu mereka melihat sendiri: pemimpin militer dengan dua bintang di pundak datang ke tempat mereka, duduk sejajar, bicara langsung — dan saat pamit mengucapkan kata-kata yang sederhana tapi tidak terasa basa-basi.
Tiga kata. Tidak ada di rilis resmi mana pun. Tapi bagi jemaat yang sudah tiga hari tidur di tenda, tiga kata itu dari seorang jenderal yang hadir langsung — bukan sekadar pesan duka di media sosial — punya berat yang berbeda.
Pangdam Binsar menegaskan bahwa TNI tidak bekerja sendiri. Kodam XXIII/Palaka Wira telah mengerahkan personel untuk membantu evakuasi, pendataan, distribusi bantuan, dan pemulihan wilayah terdampak — berkoordinasi dengan BNPB, BPBD, pemerintah daerah, dan Polri.
“TNI akan terus hadir dan bekerja bersama rakyat dalam setiap situasi, termasuk saat terjadi bencana alam,” tegasnya.
Kalimat itu sudah banyak diucapkan banyak pejabat di banyak situasi. Tapi di Palolo kemarin, ada bukti yang bisa dilihat langsung: seorang Pangdam yang tidak langsung naik kendaraan begitu acara resmi selesai, melainkan memilih tinggal sebentar — menyapa hamba Tuhan yang kepalanya masih berperban, berjabat tangan dengan pendeta perempuan dari Korps Kamarora B, dan mengucapkan salam perpisahan dalam bahasa yang dipahami jemaat.
Tuhan Memberkati.
_Rif_






