SIGI, SULTENG – ONLINENEWS.ID//Malam pertama setelah gempa, sebagian besar warga Kecamatan Palolo dan Nokilalaki tidur di luar rumah. Tapi ada yang tidak tidur sama sekali.
Personil Polsek Palolo dan satuan Brimob masih bergerak di lapangan — mengecek warga, mendata kerusakan, berjaga di titik-titik pengungsian. Bripka Sofyan, Bhabinkamtibmas Desa Ranteleda, diabadikan pukul 19.40 WITA sedang jongkok memeriksa luka di lutut seorang warga. Tidak ada kamera resmi. Tidak ada acara seremonial. Hanya seorang polisi dan warga yang terluka.
Di Desa Tanah Harapan, Kecamatan Palolo, foto lain bicara lebih pelan tapi sama kuatnya: seorang Bhabinkamtibmas duduk di tengah puluhan warga yang bermalam di bawah tenda terpal biru. Pukul 19.48 WITA. Gelap. Dia tetap di sana.
Kapolsek Palolo, Iptu Damsyir, melalui Kanit Bimas Aiptu Felman yang dihubungi Rabu siang via WhatsApp, menjelaskan bahwa sejak gempa mengguncang Selasa pagi, seluruh personil langsung diarahkan siaga penuh. Tidak ada yang pulang menunggu situasi jelas.
“Semua personil dalam keadaan sehat, tidak ada yang cedera, dan tetap bertugas melayani masyarakat dengan segala risiko,” ujar Aiptu Felman mewakili Kapolsek.
Risiko itu nyata. Hingga Rabu ini, getaran susulan masih terasa di wilayah hukum Polsek Palolo. Tapi personil tetap di lapangan — bersama satuan Brimob, membersihkan puing-puing bangunan roboh di Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki, dengan tangan kosong. Foto-foto dari lokasi memperlihatkan puluhan aparat berseragam mengangkat material berat dari reruntuhan, sementara warga menyaksikan dari pinggir.
Kepada para Bhabinkamtibmas, Kapolsek juga menyampaikan arahan yang tidak biasa: warga diminta tidur di teras atau area terbuka malam hari, tapi tidak terlalu jauh dari rumah masing-masing. Tujuannya bukan hanya keselamatan dari gempa susulan — tapi juga agar rumah mereka tetap terpantau dari kemungkinan aksi jahat yang memanfaatkan situasi.
Selasa,16 Juni, Iptu Damsyir selaku Kapolsek juga mendampingi langsung Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny Arniwaty Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., saat meninjau lokasi terdampak. Bukan perwakilan. Bukan ajudan. Kapolsek hadir sendiri, malam hari, di lapangan.
Semua itu sejalan dengan apa yang selama ini ditanamkan Kapolres Sigi, AKBP Kari Amsah Ritonga, S.H., S.I.K., M.H. Kapolres dikenal tidak berhenti mengingatkan jajarannya: profesional, humanis, tidak mempersulit masyarakat, dan mampu bekerja dalam tekanan tanpa kehilangan ketenangan.
Di media sosial, narasi tentang polisi kerap diisi kisah oknum. Tapi di Kamarora, di Tanah Harapan, di Ranteleda — ada polisi yang meninggalkan keluarganya, berdiri di atas puing-puing rumah orang lain, dan tetap di sana sampai malam.
Tidak ada yang memotret itu untuk viral. Mereka hanya melakukannya. _Rif_
(Sumber: Aiptu Felman, Kanit Bimas Polsek Palolo / Polres Sigi)






