Iptu Jusri Tandena Nahkodai Polsek Marawola, Besarkan Dua Anak Jadi Atlet Judo Kelas Asia

  • Whatsapp

SIGI, SULTENG – ONLINENEWS.ID// Jabatan Kapolsek Marawola baru sebulan dipegangnya, tapi cara bicara Iptu Jusri Tandena, S.H., tidak terkesan baru. Dia berbicara tentang anggotanya, tentang desa-desa di wilayah hukumnya, tentang kelompok tani yang datanya masih dikumpulkan — dengan nada orang yang sudah lama memikirkan hal-hal itu.

Serah terima jabatan berlangsung Sabtu, 23 Mei 2026. Iptu Kasmat Lihawa yang sebelumnya menjabat Kapolsek Marawola beralih tugas sebagai Ps Pamin Siaga 1 Bagdalops Biroops Polda Sulteng. Posisinya digantikan Iptu Jusri Tandena, S.H., yang datang dari jabatan Ps Panit 1 Unit 1 Subdit 3 Ditreskrimsus Polda Sulteng.

Muat Lebih

Pria asal Sulawesi Selatan ini lahir dan besar di lingkungan Polri. Ayahnya bertugas di SPN Batua Makassar, sehingga kehidupan di kompleks kepolisian bukan sesuatu yang asing baginya sejak kecil. Dari situ jalan menuju seragam coklat terasa wajar. Ia masuk Bintara tahun 2001, bergabung dalam angkatan Ershi — nama dari bahasa Mandarin. Hampir dua puluh tahun sebagai Bintara, ia menempuh pendidikan perwira di Sukabumi selama tujuh bulan. Setelah lulus, ia ditempatkan di Polda Sulteng, tepatnya di Subdit Tipikor Ditreskrimsus, menjabat sebagai Ps Panit 1 Unit 1 Subdit 3 dengan enam anggota di bawah tanggung jawabnya.

Perbedaan antara Bintara dan perwira, katanya, bukan soal pangkat. “Kalau setelah menjadi perwira, tanggung jawab berada di pundak saya untuk menjaga anggota dalam menjalankan tugas. Bagaimana kami sebagai pemimpin menjaga mereka agar bekerja dengan baik, tidak melakukan pelanggaran.”

Jabatan Kapolsek terasa berbeda lagi. Di Tipikor, ruang kerjanya jelas: siapa yang diduga korupsi, itu yang didalami. Di Marawola, cakupannya jauh lebih luas. Persoalan antarwarga, kriminalitas, kelompok tani, tokoh adat, aparat desa — semuanya masuk dalam tanggung jawab seorang Kapolsek. Dua minggu pertama ia habiskan untuk mengenal karakter anggota dan memetakan kondisi wilayah. Hasilnya antara lain kekagumannya pada kinerja para Bhabinkamtibmas di wilayah yang dikenal punya tingkat kerawanan cukup tinggi itu.

Pendekatan ke anggota ia jaga tetap terbuka. Sejak hari pertama menjabat, ia sampaikan langsung: siapa pun yang punya masalah dan butuh saran, pintu terbuka, dan solusi akan dicari bersama. Tapi itu tidak berarti tanpa aturan. Pelanggaran tetap mendapat sanksi, prestasi tetap mendapat penghargaan. “Usahakan bekerja dengan hati nurani yang ikhlas. Jangan mengharapkan imbalan,” katanya, mengutip semangat yang ia pinjam dari mendiang Jenderal Hoegeng.

Untuk ke depan, ia sudah menyusun agenda pertemuan dengan tokoh adat, tokoh pemuda, serta aparat kecamatan Marawola, Marawola Barat, dan Kinoparo. Data kelompok tani dan kelompok perkebunan masih dikumpulkan melalui para Bhabinkamtibmas. Soal penyelesaian konflik, ia mendorong penyelesaian di tingkat desa lebih dulu — pendekatan restorative justice — karena dengan personel terbatas, tidak semua perkara bisa langsung dibawa ke Polsek. Ia juga mulai menggalang beberapa desa untuk mengaktifkan kembali siskamling sebagai lapis pertama keamanan lingkungan.

Dari Kapolres Sigi, AKBP Kari Amsa Ritonga, S.H., S.I.K., M.H., selaku atasannya, ada satu pesan yang ia simpan: berpikir dalam tekanan. “Bagaimana kita bisa mengambil keputusan dengan keadaan yang membutuhkan pemikiran tenang,” katanya. Baginya itu bukan beban, melainkan motivasi.

Di luar seragam, Jusri Tandena punya cerita lain. Ia adalah mantan atlet judo Sulawesi Selatan dan pernah aktif di kepengurusan PJSI Sulteng. Saat ini ia tercatat sebagai auditor pemeriksa di struktur KONI Kota Palu. Minatnya pada judo tidak berhenti di dirinya sendiri — ia teruskan ke tiga anaknya, dan hasilnya melampaui apa yang pernah ia capai di matras.

Putra sulungnya, Muhammad Fatin Ataila, kini kuliah di STMIK Dipanegara sambil aktif sebagai atlet judo. Tahun 2024 ia mengikuti kejuaraan judo tingkat Asia Tenggara di Jakarta, membawa nama Indonesia. Putrinya, Najwa Ufairah, saat ini duduk di kelas 2 SMA Semanor Palu dan sudah menorehkan prestasi lebih jauh. Tahun 2025, ia tampil di kejuaraan judo seluruh Asia di Jakarta sebagai satu-satunya atlet Indonesia yang menembus babak perebutan medali. Ia kalah di laga perebutan tempat ketiga melawan India, mengakhiri turnamen di peringkat lima Asia. Saat ini Najwa tercatat di peringkat 88 dunia kategori junior. Si bungsu, Muhammad Farsanah Ta’ilah, masih kelas 1 SD di Palu — dan di rumah, matras sudah menunggunya.

Di tanah yang jauh dari kampung halamannya, Jusri Tandena memegang satu prinsip sederhana: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Baginya, memahami budaya dan struktur masyarakat yang dilayani bukan pelengkap tugas — itu bagian dari tugasnya.

(_Wawancara dilaksanakan di Mako Polsek Marawola, Polres Sigi, Rabu 10 Juni 2026-Rif_)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *