Dentuman TNT dan Deru Helikopter Pecah di Pantai Talise, Warga Palu Kagum Lalu Berebut Foto Bersama Marinir

  • Whatsapp

PALU,SULTENG – ONLINENEWS.ID// Belum pernah Pantai Kampung Nelayan Talise sesibuk itu pada Senin siang. Warga berdiri berdesakan di tepi pantai — sebagian mengangkat ponsel tinggi-tinggi, sebagian lagi hanya diam, mulut sedikit terbuka, mata tidak berkedip. Di hadapan mereka, 18 prajurit Marinir TNI AL bergerak dari laut menuju darat dengan kecepatan yang membuat siapapun sulit berpaling.

Simulasi pendaratan taktis dalam rangka Satgas Operasi Trisila II TNI AL Tahun 2026 itu bukan sekadar atraksi. Tapi bagi warga yang memadati pesisir Talise hari itu, rasanya seperti menonton film perang — bedanya ini nyata, dan jaraknya hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri.

Muat Lebih

Helikopter TNI AL meraung rendah membelah langit Teluk Palu. Ledakan TNT menggelegar, menggetarkan dada. Desing peluru memotong udara. Para prajurit Marinir yang keluar dari KRI Teluk Kupang 519 bergerak cepat dan terlatih — mensterilkan area pendaratan dengan gerakan yang tidak memberi ruang untuk ragu.

Warga tidak hanya menonton. Mereka merekam. Foto, video — semua diabadikan. Beberapa ibu-ibu terlihat saling berbisik kagum. Anak-anak muda naik ke atas bebatuan demi sudut yang lebih baik. Tidak ada yang pulang duluan.

Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Anwar Hafid, M.Si. yang menyaksikan langsung pun mengaku terkejut. “Itu baru simulasi, saya sudah ketakutan. Bagaimana kalau aslinya?” ujarnya — tertawa, tapi matanya serius.

Hal yang sama terbaca dari wajah para pejabat lain yang berdiri di tepi pantai hari itu. Pangdam XXIII/Palawa Wira Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar, Wakil Komandan Satgas Kolonel Laut (P) Agung Nugroho Kusumaji, dan Danlanal Palu Kolonel (Mar) Muhammad Ali Wardhana menyaksikan bersama — berdampingan dengan warga biasa yang datang dari berbagai penjuru kota.

Tidak ada sekat. Tidak ada jarak. Pejabat dan warga berdiri di tempat yang sama, dengan perasaan yang tidak jauh berbeda.

Begitu simulasi selesai, suasana di tepi pantai justru semakin memanas — dalam arti yang menyenangkan. Pangdam XXIII/Palawa Wira Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar tiba-tiba mengumandangkan yel-yel khas korps baret ungu itu dengan lantang: “Marinir!”

Delapan belas prajurit yang baru saja turun dari medan simulasi serentak membalas dengan penuh semangat: “Auu… Auu!”

Pantai Talise sontak riuh. Warga yang tadinya masih terpaku oleh sisa ketegangan simulasi langsung bersorak. Beberapa bertepuk tangan, sebagian lagi kembali mengangkat ponsel — mengabadikan momen yang tidak ada dalam susunan acara mana pun, tapi justru menjadi salah satu puncak hari itu.

Dari situ suasana benar-benar mencair. Para prajurit Marinir yang baru saja terlihat garang di medan pendaratan tiba-tiba dikerumuni warga — bukan dengan rasa takut, tapi dengan antusias yang hangat. Warga berebut meminta foto bersama.

Para prajurit menyambut dengan senyum. Seragam tempur yang basah, wajah yang masih memerah kena matahari siang — tidak menghalangi satu pun dari mereka untuk berhenti sejenak dan mengabadikan momen bersama warga.

Sesi foto kemudian meluas ke jajaran pimpinan. Gubernur Anwar Hafid, Pangdam XXIII/Palawa Wira Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar, Wakil Dansatgas Kolonel Laut (P) Agung Nugroho Kusumaji, dan Danlanal Palu Kolonel (Mar) Muhammad Ali Wardhana berfoto bersama para prajurit Marinir — satu gambar yang bicara lebih keras dari pernyataan manapun tentang kedekatan TNI dengan pemerintah daerah dan masyarakat.

Wakil Komandan Satgas Kolonel Laut (P) Agung Nugroho Kusumaji menyebut kehadiran TNI AL di Palu bukan sekadar agenda militer. “Angkatan Laut hadir di tengah-tengah masyarakat dan dirasakan manfaatnya secara langsung,” katanya.

Danlanal Palu Kolonel (Mar) Muhammad Ali Wardhana menambahkan bahwa pemilihan Pantai Talise sebagai pusat kegiatan memang disengaja. Selain lokasinya yang mudah dijangkau, ia berharap momen seperti ini bisa menumbuhkan ketertarikan generasi muda Sulawesi Tengah untuk bergabung dengan TNI AL — sebuah angka pendaftar yang menurutnya masih perlu terus didorong naik.

“Saya berharap masyarakat Palu, umumnya Sulawesi Tengah, bisa lebih banyak mendaftarkan diri ke TNI Angkatan Laut,” ujarnya.

Kalimat itu tidak terasa berlebihan melihat apa yang terjadi di Pantai Talise hari itu. Simulasi pendaratan taktis yang dirancang untuk mengasah kemampuan tempur prajurit — tanpa disengaja — justru menjadi momen yang paling diingat warga Palu pada peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini.

Bukan karena ledakannya saja. Bukan karena deru helikopternya saja. Tapi karena sesudahnya, para prajurit itu duduk, berdiri, dan tertawa bersama warga biasa di tepi pantai yang sama. _Reporter/Fotografer: Rif_

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *