PALU,SULTENG – ONLINENEWS.ID//Sementara sebagian orang masih sibuk berdebat soal TNI di ruang-ruang digital, 15 prajurit dari Korem 132/Tadulako memilih cara yang lebih sunyi untuk menjawab — mereka menggulung lengan baju seragam, duduk di kursi donor, dan menyumbangkan darah untuk warga Sulawesi Tengah yang membutuhkan.
Tidak ada panggung. Tidak ada sorotan kamera besar. Hanya jarum, kantong darah, dan kehadiran yang tidak perlu banyak penjelasan.
Kegiatan donor darah itu berlangsung di sela-sela rangkaian Bakti Sosial Satgas Operasi Trisila II TNI AL di Pantai Kampung Nelayan Talise, Kota Palu, Senin (1/6/2026) — bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila. Kegiatan ini juga dilengkapi layanan cek kesehatan dan cek darah gratis bagi warga sekitar.
Yang menarik, keikutsertaan satuan darat dalam kegiatan yang didominasi TNI AL ini bukan karena tuntutan protokol. Korem 132/Tadulako hadir atas semangat kebersamaan lintas matra — bahwa ketika rakyat membutuhkan, sekat antarsatuan tidak relevan.
Kegiatan donor darah dari unsur TNI AD ini dipimpin langsung oleh perwira tertua yang hadir, Pasiops Korem 132/Tadulako Kapten Infanteri Arnol Paretta. Ia memastikan 15 personilnya hadir, antri, dan menjalani proses donor dengan tertib — tugas kepemimpinan yang tidak memerlukan mikrofon atau podium.
Ketika wartawan mencoba menyapa, Kapten Arnol memilih tidak memberikan komentar resmi. Bukan karena tidak ramah — justru sebaliknya. Dalam organisasi militer yang bekerja berdasarkan garis komando, berbicara kepada pers tanpa mandat dari atasan bukan sesuatu yang dilakukan sembarangan. Itu bukan ketertutupan. Itu kedisiplinan.
Dan kedisiplinan itulah yang membuat 15 prajurit itu bisa duduk rapi di kursi donor hari itu — tepat waktu, tanpa ribut, tanpa perlu diminta dua kali.
Hari itu, Komandan Korem 132/Tadulako Brigjen TNI Suntara Wisnu Budi Hidayanta tidak hadir di Pantai Talise. Ada penugasan lain yang harus ia penuhi di tempat berbeda — hal yang lumrah dalam ritme tugas seorang perwira tinggi.
Namun ketidakhadiran komandan tidak membuat langkah pasukannya terhenti. Kasrem 132/Tadulako Kolonel Inf A.T. Chrishardjoko hadir mewakili dalam kegiatan Forkopimda, sementara 15 prajurit tetap turun ke lapangan — melaksanakan apa yang memang sudah menjadi bagian dari nilai dasar seorang prajurit.
Brigjen Suntara sendiri dikenal di kalangan Sulawesi Tengah sebagai sosok yang bersahaja dan responsif, termasuk dalam hubungannya dengan media. Gaya kepemimpinannya yang tidak berjarak itu tampaknya menular — setidaknya terlihat dari bagaimana pasukannya memilih hadir dan berkontribusi bahkan di tengah kegiatan yang bukan sepenuhnya agenda satuan mereka.
Ada yang sering terlupakan di tengah riuhnya perdebatan tentang institusi militer di media sosial — bahwa prajurit TNI yang bertugas di daerah adalah manusia biasa yang lahir dari keluarga biasa, besar di kampung-kampung yang tidak jauh berbeda dengan kampung nelayan tempat mereka bertugas hari itu.
Donor darah mungkin terdengar sederhana dibanding simulasi pendaratan taktis yang menggelegar di pantai sebelah. Tidak ada ledakan TNT. Tidak ada deru helikopter. Tidak ada sorak sorai warga.
Tapi tanyakan kepada pasien di rumah sakit yang kelak menerima darah itu — apakah mereka peduli dari mana darahnya berasal, dari prajurit berpangkat apa, dari matra mana. Jawabnya sudah jelas.
Memperingati Hari Lahir Pancasila dengan donor darah, bakti sosial, dan turun langsung ke kampung nelayan adalah cara TNI memberi makna nyata pada tanggal yang setiap tahun diperingati dengan pidato dan upacara.
Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Anwar Hafid, M.Si. yang turut menyaksikan rangkaian kegiatan ini menyebutnya sebagai peringatan yang benar-benar berarti. “Ada pembagian sembako, ada cek darah gratis, cek kesehatan gratis, ada donor darah — luar biasa,” ujarnya.
Luar biasa bukan karena skalanya besar. Tapi karena yang melakukannya adalah orang-orang yang bisa saja memilih untuk tidak datang — dan mereka tetap datang.
Itulah TNI. Bukan seperti yang sering digambarkan di kolom komentar. Tapi seperti yang terlihat di Pantai Talise hari itu — berdiri di antara warga, menggulung lengan baju, dan memberi apa yang paling berharga yang mereka punya.Rif.






