SIGI, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID//Di tengah sorak sukacita 25.000 umat yang memenuhi lapangan Mako Brimob, Biromaru, Kabupaten Sigi pada Minggu 26 April 2026, ada satu sosok yang nyaris tidak tampak mencari sorotan. Ia bergerak dari satu sudut ke sudut lain, memastikan segala sesuatu berjalan pada tempatnya. Sosok itu adalah Samuel Yansen Pongi — Wakil Bupati Sigi sekaligus Ketua Harian Panitia Paskah Nasional V Sulawesi Tengah 2026.
Mengorganisir perhelatan berskala nasional bukanlah perkara sederhana. Dibutuhkan kepemimpinan yang kuat, koordinasi lintas lembaga yang intensif, serta stamina kerja yang tidak mudah goyah. Namun bagi Samuel Pongi, semua itu ia jalani dengan gaya kepemimpinan yang khas — rendah hati, bersahaja, dan selalu menempatkan keberhasilan sebagai milik bersama, bukan prestasi pribadi.
Saat diwawancarai sejumlah awak media dalam sesi wawancara singkat di lokasi acara usai kegiatan berlangsung, Samuel Pongi berbicara lugas dan tenang — tanpa kesan ingin mengambil pujian atas kesuksesan yang telah diraih.
*Empat hingga Lima Bulan Kerja Maraton*
Dalam penuturannya, Samuel Pongi mengungkapkan bahwa persiapan Paskah Nasional V sesungguhnya telah dimulai sejak akhir tahun 2025. Pengukuhan panitia dilakukan pada Januari 2026, dan sejak saat itulah kerja-kerja persiapan berlangsung secara maraton.
“Pengukuhan itu masih Januari, sehingga memang praktis kerja-kerja kami sudah kurang lebih empat hingga lima bulan. Sejak membuat TOR, kita sudah mulai berpikir merancang apa yang harus dibuat. Tapi agak maraton dari Januari, Februari, Maret — termasuk finansialnya,” tuturnya.
Untuk memastikan dukungan semua pihak, panitia melakukan serangkaian audiensi ke berbagai pemangku kepentingan. Gubernur Sulawesi Tengah, Wali Kota Palu, dan Bupati Sigi memberikan dukungan penuh. Tak hanya itu, panitia juga secara khusus menemui Habib Ali, Ketua Utama Pengurus Besar Alkhairat, Panglima Garda Alkhairat H. Husein Habibu, serta Ketua MUI Kota Palu sekaligus Ketua FKUB Provinsi Prof. K.H. Zainal Abidi — dan seluruhnya memberikan respons positif.
“Karena ini kegiatan rohani, maka kami audiensi sekaligus meminta dukungan. Dan respons positif dari para tokoh itulah yang membuat kami tetap semangat dan optimis bahwa pelaksanaan Paskah ini akan berjalan dengan baik,” ujarnya.
Dukungan finansial diperoleh melalui pengajuan proposal kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kabupaten Sigi, keduanya merespons dengan kontribusi nyata yang menjadi tulang punggung pembiayaan acara.
*Apresiasi untuk TNI-Polri: Dari Izin Tempat hingga Armada Jemputan*
Samuel Pongi secara khusus menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada jajaran TNI dan Polri yang dinilainya memberikan dukungan jauh melampaui tugas pengamanan semata.
“Kami sangat bersyukur dengan TNI-Polri. Pak Pangdam — sekali lagi terima kasih, Bapak Mayjen Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar — banyak membantu dan mensupport, khususnya armadanya. Ini salah satu alasan kenapa banyak orang bisa hadir — karena armada dari TNI itu menjemput,” ungkapnya.
Kepada jajaran kepolisian, ia menyampaikan terima kasih secara spesifik kepada Kapolda Sulawesi Tengah, Polres Sigi, Polresta Palu, hingga Dansat Brimob dan Danyon Mako Brimob yang memberikan izin penggunaan lapangan sebagai venue acara.
“Terima kasih kepada Pak Kapolda, kepada Pak Dansat, dan kepada Pak Danyon Mako Brimob di tempat ini. Mereka memberikan izin tempat ini digunakan — dan itu luar biasa,” tegasnya.
*Paskah yang Melampaui Batas Denominasi dan Agama*
Ditanya mengenai harapannya kepada masyarakat, Samuel Pongi menyampaikan pesan yang mencerminkan semangat Paskah Nasional V secara utuh — bahwa perayaan iman ini bukan perayaan eksklusif satu golongan, melainkan wujud nyata kebersamaan seluruh elemen bangsa.
Ia secara khusus mengutip pesan Menteri Agama RI yang menurutnya sangat tepat dan relevan:
“Harapan kami adalah sebagaimana pesan-pesan Paskah — menjaga toleransi, hidup berdampingan, rukun, dan damai. Kami ingat betul pesan Pak Menteri Agama: ketika ada kegiatan umat Kristiani, sedapat-dapatnya melibatkan atau dapat dirasakan oleh umat agama lain. Begitu sebaliknya — ketika ada umat Muslim membuat kegiatan, sedapat-dapatnya kami pun bisa berperan. Dan inilah yang kami lakukan,” ujarnya.
Semangat itu terwujud dalam program bakti sosial yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian Paskah Nasional V — operasi katarak gratis, pemeriksaan kesehatan gratis, dan donor darah yang terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang agama. Peserta yang hadir dalam kegiatan sosial tersebut bahkan melampaui target awal.
“Melebihi target, semua melebihi target — luar biasa,” ujarnya singkat namun penuh kebanggaan.
*Pemimpin yang Memimpin dengan Keteladanan*
Bagi kalangan umat Bala Keselamatan di Sigi dan sekitarnya, nama Samuel Yansen Pongi bukan nama yang asing. Dalam kehidupan sehari-hari, ia dikenal sebagai sosok yang bersahaja — aktif dalam pelayanan peribadahan, tidak membuat jarak dengan siapa pun, dan senantiasa menempatkan seluruh yang dikerjakannya sebagai ibadah kepada Tuhan, bukan semata-mata kewajiban jabatan. Sikap itulah yang menjadi magnet tersendiri bagi seluruh jajaran kepanitiaan untuk bekerja sepenuh hati sesuai tugas masing-masing.
*Catatan Akhir: Ketika Pesta Usai, Pemimpin Tetap Bekerja*
Paskah Nasional V Sulawesi Tengah 2026 resmi ditutup. Ribuan tamu berangsur pulang, panggung mulai dipadamkan, dan lapangan Mako Brimob meninggalkan jejaknya — tumpukan sampah sisa puluhan ribu hadirin yang memenuhi venue sepanjang hari. Namun cerita kepemimpinan Samuel Pongi tidak berhenti di sana.
Keesokan harinya, Senin 27 April 2026, usai mengikuti upacara pagi, Samuel Pongi langsung bergerak menuju lapangan Mako Brimob. Bersama jajaran dinas terkait, ia turun langsung memimpin pembersihan area venue tanpa menunggu perintah dan tanpa menunggu orang lain memulai. Di tengah rasa lelah setelah sepekan penuh bekerja keras yang tentu tidak bisa sepenuhnya disembunyikan, senyumnya tetap mengembang dan semangatnya tetap menular kepada siapa pun yang bekerja di sisinya.
Bagi banyak orang, pemandangan itu menjadi pesan kepemimpinan yang lebih kuat dari kata-kata mana pun — bahwa seorang pemimpin sejati tidak berhenti bekerja ketika tepuk tangan mereda, dan kebesaran seorang pemimpin justru paling nyata terlihat bukan ketika ia berdiri di atas panggung, melainkan ketika ia memilih untuk turun dan mengerjakan apa yang perlu dikerjakan.Rif
—






