Bukan Hanya Perayaan Iman — di sini, Paskah Hadir dalam Wujud Pelayanan Nyata Bagi Semua

  • Whatsapp

PALU, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID//Paskah identik dengan kebangkitan. Tapi di halaman Gereja Bala Keselamatan Korps Woodward, Jl. L.H. Jl. Woodward No.1, Lolu Sel., Kec. Palu Tim., Kota Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (25/4/2026), kebangkitan itu hadir dalam wujud yang paling membumi: antrian warga yang ingin tahu kondisi kesehatannya, jarum donor darah yang tertancap dengan sukarela, dan tenaga medis yang bergerak tanpa henti sejak pagi.

Tidak ada tiket masuk. Tidak ada syarat agama. Siapa pun yang datang, dilayani.

Muat Lebih

Inilah wajah Paskah Nasional V sehari sebelum puncaknya, sebuah bakti sosial pemeriksaan kesehatan gratis dan donor darah yang diselenggarakan Bala Keselamatan pada Sabtu (25/4), sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menjelang puncak perayaan Minggu, 26 April 2026.

Mayor (BK) Melty Adilang Karaginta, Opsir Pengurus Rumah Sakit Bala Keselamatan Woodward sekaligus Koordinator Seksi Kesehatan Panitia Paskah Nasional V, menjelaskan bahwa tim medis yang bertugas hari itu tidak main-main jumlahnya. Dua puluh satu tenaga dari panitia Paskah Nasional V bergabung bersama sepuluh hingga dua belas tenaga tambahan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi dan Kota Palu. Total lebih dari tiga puluh orang berdiri di balik meja pemeriksaan, semua untuk warga yang datang tanpa biaya sepeser pun.

Layanan yang tersedia mencakup pemeriksaan kesehatan umum, serta pemeriksaan laboratorium sederhana meliputi gula darah, asam urat, dan kolesterol. Bagi warga yang hasil pemeriksaannya menunjukkan kondisi yang perlu ditindaklanjuti, panitia siap mengarahkan mereka ke fasilitas kesehatan yang tepat.

“Apabila ada masyarakat yang memerlukan penanganan lebih lanjut, kami akan mengarahkan mereka ke fasilitas kesehatan tingkat pertama atau langsung ke rumah sakit,” ujar Mayor Melty.

dr. Ribka Elda Patandianan, dokter yang bertugas dalam kegiatan ini, berbagi apa yang ia temukan dari berbagai pengalaman pelayanan kesehatan lapangan selama ini. Jawabannya tidak mengejutkan, tapi tetap perlu didengar.

Dari sekian banyak warga yang diperiksa dalam berbagai kegiatan serupa, dua kondisi yang paling sering muncul adalah hipertensi dan diabetes, terutama pada kelompok lanjut usia. Dan penyebabnya, katanya, bukan semata faktor usia. Pola makan yang bergeser, semakin banyak makanan olahan, makanan siap saji, dan produk dengan kandungan bahan pengawet tinggi, turut mempercepat munculnya kedua kondisi itu, bahkan pada usia yang lebih muda dari sebelumnya.

Pesannya untuk masyarakat tidak rumit: olahraga teratur, istirahat cukup, perbanyak air putih, dan kurangi makanan yang diproses berlebihan. Langkah-langkah itu terdengar sederhana, tapi justru di situlah letak kekuatannya.

Di sudut lain halaman gereja, kegiatan donor darah berjalan beriringan. Yustiniwin, S.Kep., Ns., Kepala Bidang Keperawatan Rumah Sakit Woodward, menyebutkan bahwa sejak dibuka pukul 08.00 pagi, sebanyak 33 kantong darah sudah berhasil terkumpul ketika wartawan tiba di lokasi.

Angka itu bukan sekadar statistik. Di balik setiap kantong ada satu orang yang memilih untuk duduk, mengulurkan lengan, dan memberikan sesuatu yang tidak bisa dibeli, untuk orang yang belum pernah ia temui, yang mungkin tidak ia kenal agamanya, tidak ia ketahui sukunya.

“Setetes darah berarti bagi sesama. Kami mengajak masyarakat yang sehat untuk tidak ragu mendonorkan darahnya, karena kita tidak pernah tahu kapan orang lain membutuhkannya, dan kita pun tidak tahu kapan giliran kita,” ujar Yustiniwin.

Ia juga menyebut bahwa permintaan darah dari fasilitas kesehatan hampir selalu melebihi ketersediaan. Kegiatan donor darah seperti ini, baginya, bukan sekadar aksi sosial satu hari, melainkan kontribusi nyata yang dampaknya bisa dirasakan jauh setelah hari ini berlalu.

dr. Herman Fery Baan, M.Kes., Sp.KKLP, memberikan gambaran yang lebih luas. Bagi yang mengira bakti sosial seperti ini hanya muncul saat ada momen besar seperti Paskah Nasional, ia meluruskan dengan tenang.

Rumah Sakit Woodward Bala Keselamatan, katanya, sudah lama menjalankan program pengabdian masyarakat secara rutin, jauh sebelum ada Paskah Nasional V. Jangkauannya pun tidak terbatas pada Sulawesi Tengah. Beberapa waktu lalu, tim mereka juga bergerak ke Pasangkayu di Sulawesi Barat, melayani warga Bala Keselamatan dan masyarakat sekitar yang membutuhkan pertolongan medis.

“Kegiatan bakti sosial dilakukan secara reguler oleh Rumah Sakit Woodward. Pada kesempatan ini, bertepatan dengan momen Paskah Nasional, kami laksanakan dalam skala yang lebih besar,” ujarnya.

Yang juga ia tekankan adalah komitmen evaluasi setelah setiap kegiatan. Bukan sekadar formalitas administratif, melainkan proses yang sungguh-sungguh digunakan untuk memperbaiki layanan, menutup kekurangan, dan memperkuat kapasitas tim medis. Hasilnya, katanya, bermanfaat tidak hanya bagi rumah sakit, tetapi juga bisa menjadi masukan berharga bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan kesehatan yang lebih baik.

“Dari pelaksanaan kegiatan apapun, bakti sosial, pelayanan umum, atau pelayanan penunjang, kami selalu melakukan evaluasi. Tujuannya satu: meningkatkan pelayanan dan memperbaiki kekurangan,” tegasnya.

Menjelang siang, halaman gereja masih ramai. Warga terus berdatangan, ada yang membawa orang tua, ada yang datang sendiri, ada yang mengajak tetangga. Mereka duduk sabar menunggu giliran di bawah terik yang mulai meninggi, di halaman sebuah gereja yang hari itu bukan hanya milik satu umat.

Di sinilah Paskah bekerja dengan caranya yang paling diam, bukan dari mimbar, bukan dari lagu pujian, melainkan dari tangan yang terulur kepada siapa saja yang membutuhkan. Tanpa bertanya lebih dulu dari mana mereka berasal.

Paskah Nasional V mencapai puncaknya Minggu, 26 April 2026, di Mako Brimob Batalyon Pelopor A, Biromaru, Kab. Sigi-Sulteng.Rif

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *