Dua Narasumber, Satu Kesimpulan: Paskah Nasional V Bukan Sekadar Perayaan Iman — Ini Demonstrasi Nyata Kemanusiaan Lintas Agama

  • Whatsapp

PALU, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID//Ada momen-momen di mana sebuah kegiatan berbicara lebih keras dari pidato mana pun. Rabu (23/4) di Klinik Mata SMEC, Jl. Dr. Abdurrahman Saleh No. 92, Palu Selatan, adalah salah satunya. Sejumlah warga, mengantre untuk menjalani operasi katarak gratis yang diselenggarakan dalam semangat sambut Perayaan Paskah Nasional V di SulTeng.

Usai rangkaian acara sambutan , wartawan menemui dua tokoh kunci untuk berbicara lebih jauh: Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sekaligus Ketua MUI Kota Palu, dan Dr. Samuel Yansen Pongi, S.E., M.Si, Ketua Panitia Pelaksana Harian Paskah Nasional V yang juga menjabat Wakil Bupati Kabupaten Sigi. Keduanya berbicara dari sudut yang berbeda, namun tiba di kesimpulan yang sama.

Muat Lebih

*Wawancara bersama Ketua FKUB/MUI Palu*

Wartawan membuka dengan pertanyaan tentang penilaiannya terhadap Bala Keselamatan sebagai penyelenggara Paskah Nasional V, khususnya dalam konteks pelayanan kemanusiaan yang menjangkau lintas agama.

Prof. Zainal menjawab dengan apresiasi yang tidak ia bungkus dengan kata-kata basa-basi. Sejak menerima amanah menyelenggarakan Paskah Nasional V, kepemimpinan Samuel Pongi langsung bergerak, bukan mengurusi logistik internal, melainkan membangun jembatan ke luar. Sosialisasi dilakukan ke berbagai pihak, dukungan diminta, kerja sama dibangun, hingga kegiatan ini benar-benar bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Cara seperti ini yang harus ditempuh oleh berbagai kegiatan keagamaan, sehingga kegiatan ini dapat diketahui, dapat dirasakan, bahkan mendapat keterlibatan dari berbagai komponen masyarakat kita,” ujarnya.

Ia kemudian berbicara tentang Bala Keselamatan secara lebih luas. Baginya, organisasi ini bukan pendatang baru dalam urusan kepedulian kemanusiaan. Rumah sakit-rumah sakitnya tersebar di berbagai penjuru negeri dan melayani siapa saja tanpa memandang latar belakang. Paskah Nasional V dengan bakti sosial operasi katarak gratisnya adalah kelanjutan wajar dari tradisi panjang itu.

“Saya kira ini betul-betul harus menjadi contoh oleh lembaga-lembaga keagamaan, apakah itu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, maupun Konghucu,” tegasnya.

Dari situ ia melangkah ke pernyataan yang lebih jauh. Jika model seperti ini direplikasi oleh semua lembaga keagamaan di Sulawesi Tengah, ia meyakini provinsi ini berpeluang mencatat indeks kerukunan tertinggi di Indonesia. Sebuah keyakinan yang ia bangun bukan dari harapan kosong, melainkan dari apa yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri hari itu.

Wartawan kemudian bertanya soal pesannya untuk generasi muda, di tengah derasnya arus informasi digital yang tidak selalu bisa diverifikasi kebenarannya.

Prof. Zainal menjawab dengan dua lapis. Pertama, ia mendorong anak-anak muda untuk terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan positif seperti yang berlangsung hari ini, bukan hanya menjadi penonton dari layar ponsel. Ia mengulang prinsip yang sudah lama ia pegang dan terus ia sebarkan ke mana-mana: jika seseorang tidak bisa menolong orang lain karena perbedaan agama, maka tolonglah ia semata karena ia sesama manusia ciptaan Tuhan.

“Ini yang harus kita gelorakan bersama-sama, secara terus-menerus kepada anak-anak muda kita,” katanya.

Kedua, soal media sosial, ia tidak melarang, tapi mengingatkan keras. Di era di mana informasi bergerak lebih cepat dari klarifikasi, satu postingan yang tidak diverifikasi bisa memantik reaksi berantai yang merusak. Ia mendorong generasi muda untuk membiasakan diri melakukan pengecekan sebelum meneruskan informasi apa pun.

“Kita berharap bahwa dengan penggunaan media sosial kita semakin dewasa, untuk memilah dan memilih mana informasi yang baik untuk dilanjutkan, dan mana yang cukup berhenti sampai di kita,” ujarnya. Informasi yang bermanfaat bagi satu orang, tambahnya, belum tentu bermanfaat bagi yang lain, apalagi jika berpotensi memicu keresahan.

*Wawancara dengan Ketua Pelaksana Harian Paskah Nasional V*

Wartawan beralih ke Samuel Pongi dengan pertanyaan yang lebih teknis: bagaimana ia membangun relasi dengan tokoh-tokoh Muslim dan organisasi keagamaan lain hingga akhirnya mendapat dukungan luas untuk kegiatan yang pada dasarnya adalah perayaan Kristiani. Dan siapa sesungguhnya yang berdiri di balik pendanaan bakti sosial ini.

Samuel menjawab pertanyaan kedua lebih dulu. Ia menyebut dua nama terang-terangan: PT Anugerah Lestari Power dan PT Neo Energy. Kedua perusahaan ini, katanya, sedang mengerjakan proyek besar di Kabupaten Sigi, dan ketika panitia menyurati mereka, respons yang datang jauh melampaui harapan. Bukan sekadar kesediaan membantu, melainkan keterlibatan nyata dalam bentuk dana segar untuk operasional panitia sekaligus pembiayaan penuh kegiatan operasi katarak gratis.

“Operasi katarak ini murni dari pihak perusahaan. Kami merencanakan kegiatan bakti sosial, bekerja sama dengan SMEC, dan mereka yang membiayai sepenuhnya,” ujarnya.

Bagi Samuel, keterlibatan dua perusahaan itu bukan kebetulan. Ada logika sederhana di baliknya: mereka yang akan membangun di suatu daerah, sudah sewajarnya ikut merawat masyarakat di daerah itu. Dan hari ini, perawatan itu berbentuk penglihatan yang dipulihkan, tanpa bertanya siapa yang akan menerima manfaatnya.

Soal bagaimana ia membangun kepercayaan tokoh-tokoh lintas agama, Samuel menjawab dengan rendah hati. Baginya, ini bukan soal keahlian diplomasi antaragama yang istimewa. Ini soal kebiasaan lama dari dunia pemerintahan yang ia terapkan di organisasi: tidak ada kegiatan besar yang pantas dijalankan tanpa lebih dulu pamit kepada tokoh-tokoh masyarakat, meminta pendapat, dan mendengar nasihat.

Ia mendatangi Prof. Zainal Abidin, Habib Alwi selaku Ketua Utama Al Khairat, Panglima Garda Al Khairat Hussein Habibu, hingga Menteri Agama. Bukan untuk meminta izin dalam pengertian formal, melainkan untuk menyampaikan rencana dan membuka diri terhadap masukan. Hasilnya, dukungan datang sejak awal, dan itu yang memberi panitia keyakinan untuk terus melangkah.

“Kalau tidak dapat dukungan, pertanyaannya adalah apakah kegiatan ini bisa dilaksanakan atau tidak. Tapi sudah dapat dukungan, ya tambah semangatnya,” katanya.

Wartawan kemudian menyinggung posisinya sebagai Wakil Bupati Sigi di bawah kepemimpinan Bupati Muhammad Rijal. Samuel menjelaskan bahwa semangat merangkul semua pihak bukan hanya tradisi pribadinya, itu juga menjadi ruh pemerintahan Kabupaten Sigi yang ia wakili, yang menuangkannya dalam program Sigi Religi: sebuah komitmen menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk secara etnis maupun agama.

Ia menutup wawancara dengan permintaan yang sederhana namun tulus, kepada seluruh masyarakat Sigi dan tokoh-tokoh agama dari semua keyakinan: doakan pemerintahan Muhammad Rijal dan Samuel Yansen Pongi, agar amanah yang mereka emban bisa dijalankan dengan baik untuk semua.

Paskah Nasional V dijadwalkan mencapai puncaknya Minggu, 26 April 2026, di Kota Palu dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Bakti sosial operasi katarak ini adalah satu dari serangkaian kegiatan yang dirancang untuk membuktikan satu hal sederhana: bahwa iman yang hidup tidak berhenti di pintu rumah ibadah. Rif

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *