KAWASAN BENTANG ALAM KARST GUNUNGSEWU DIRUSAK SWASTA DAN PEMERINTAH

  • Whatsapp
Kondisi 2019, masalah pengrusakan dengan cara penggempuran, terus dilakukan, baik oleh swasta berijin maupun non-berijin sekaligus oleh Pemerintah Pusat.

TANPA disadari, Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunungsewu sengaja dirusak secara bersama-sama oleh tiga agen utama dengan dalih demi pembangunan.

Mengutip dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2021 KBAK tersebar di 11 kecamatan. Pengrusakan KBAK makin tidak terkendali, dengan dalih pembenaran demi kesejahteraan.

Muat Lebih

“KBAK tersebar merata di Kawasan perbukitan batu gamping yang terletak di Kecamatan Wonosari, Ponjong, Semanu, Panggang, Purwosari, Paliyan, Saptosari, Rongkop, Tanjungsari, Tepus, dan Girisubo,” tulis RPJMD Kabupaten Gunungkidul empat tahun silam.

Kondisi 2019, masalah pengrusakan dengan cara penggempuran, terus dilakukan, baik oleh swasta berijin maupun non-berijin sekaligus oleh Pemerintah Pusat.

PT Supersonic Cemical di Mijahan, Semanu makin berkibar sejak Drs. Yutikno menjadi Bupati Gunungkidul dan melonggarkan regulasi. Ini satu contoh pengrusak KBAK pemegang ijin.

Yang tidak berijin banyak, dihimpun dari berbagai sumber ada 300 pengusaha sedang antri ijin di loket DPMPT Gunungkidul.

Disamping itu, banyak pula yang ngawur, asal gempur tidak sebatas setor ke penggilingan batu, tetapi hanya untuk keperluan urug.

Yang kategori ngawur ada nama seperti Xjn, Xhr, Xbn, Xrr serta Xlt. Mereka membentuk semacam kelompok yang secara spesifik jual urug dari hasil gempuran KBAK.

Belum lama, sekitar pertengahan 2019,  mereka kena gertak oleh Kodim 0730, Gunungkidul. Tetapi karena bukan tupoksi tentara, mereka masih saja main gempur KBAK dan gertakan tentara tidak terlalu digubris.

Urug yang mereka keruk, termasuk mereka jual ke proyek Pemerintah yang ditangani PT WIjaya Karya. Wika,  saat ini sedang menyelesaikan Taman Budaya di Siyono, Gunungkidul, senilai Rp 121 milyard.

Sisi lain, Pemerintah Pusat dengan alasan pembangunan infrastruktur yang terkenal dengan label jalur Pansela alias JJLS begitu membabibuta menggempur KBAK yang memanjang dari Kecamatan Panggang hingga perbatasan Kabupaten Pacitan Jawa Timur.

Dalam hal ini, Pemerintah Pusat menabrak aturan yang dibuatnya sendiri.

Sudah jelas, kawasan KBAK ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 3045/2014  tentang Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst  Gunungsewu, tetapi faktanya pengeprasan dan penggempuran terus berlanjut tanpa memperhatikan resiko bencana.

Ironisnya, di dalam dokumen RPJMD Gunungkidul 2016-2020 ditulis, kawasan tersebut perlu dikelola sesuai dengan daya dukung lingkungannya dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan potensi kawasan karst yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Bupati pengganti Badingah beranikah menyelamatkan KBAK? Ini pertanyaan  sederhana yang harus dijawab di dalam perubahan RPJMD secara mendasar.

Sememtara diketahui, bahwa para perumus RPJMD adalah para birokrat yang banyak memiliki kepentingan dengan porak porandanya KBAK.

(Bambang Wahyu Widayadi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *