Bapas Wonosari Tanamkan Harapan Baru: 11 Klien Pemasyarakatan Dibekali Kemandirian Lewat Bimbingan Ketahanan Pangan

  • Whatsapp

GUNUNGKIDUL – ONLINENEWS.IDTidak sekadar menjalankan pengawasan, Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Wonosari kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembalikan harapan dan masa depan bagi Klien Pemasyarakatan. Melalui kegiatan Bimbingan Kemandirian Ketahanan Pangan yang digelar pada Rabu, 14 Oktober 2026, sebanyak 11 Klien Pemasyarakatan dibekali keterampilan hidup yang akan menjadi bekal berharga saat mereka kembali sepenuhnya ke tengah masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan dan kekeluargaan ini bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi tentang bagaimana menumbuhkan kembali rasa percaya diri, kemandirian, dan keyakinan bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup lebih baik.

Muat Lebih

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Urusan Tata Usaha Bapas Kelas II Wonosari, Arizka Wahyu Pratama. Suasana kebersamaan begitu terasa dengan kehadiran jajaran penting Bapas Wonosari, mulai dari Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Madya, Kepala Subseksi Bimbingan Klien Dewasa (BKD), Kepala Subseksi Bimbingan Klien Anak (BKA), PK Pertama, hingga seluruh pelaksana.

Kehadiran lengkap jajaran ini menjadi bukti nyata bahwa pembimbingan di Bapas Wonosari dilakukan secara kolektif, dengan hati, dan berorientasi pada pengembangan potensi kemandirian klien, bukan sekadar formalitas.

Gandeng Pokmas Lipas, Ajarkan Keterampilan yang Membumi dan Produktif

Untuk memberikan pembekalan yang benar-benar aplikatif, Bapas Wonosari tidak berjalan sendiri. Kali ini, Bapas Wonosari menggandeng mitra terbaiknya, Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (Pokmas Lipas), dengan menghadirkan dua narasumber inspiratif, yaitu Widodo dari Pokmas Kimbis dan Supriyanto dari Pokmas Minaraharja.

Kedua narasumber ini dengan sabar memberikan materi sekaligus pendampingan langsung mengenai ketahanan pangan. Materi yang disampaikan sangat membumi, mulai dari bagaimana memanfaatkan lahan terbatas di pekarangan rumah, mengolah lahan kecil menjadi produktif, hingga peluang usaha ketahanan pangan yang bisa menambah penghasilan keluarga.

Para klien terlihat antusias mengikuti setiap sesi. Melalui penyampaian materi yang ringan namun berbobot dan praktik pendampingan, para klien memperoleh wawasan baru bahwa kemandirian bisa dimulai dari hal yang paling dekat, yaitu pangan.

Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Bekal Masa Depan

Dalam sambutannya, Arizka Wahyu Pratama menekankan pesan yang sangat humanis. Menurutnya, bimbingan kemandirian ini adalah jembatan untuk kembali bermartabat.

> “Melalui kegiatan bimbingan kemandirian ini, kami berharap Klien Pemasyarakatan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif. Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan mampu membangun kehidupan yang lebih mandiri dan berkontribusi positif ketika kembali ke masyarakat,” ujar Arizka dengan penuh harap.

Pesan tersebut disambut dengan anggukan penuh semangat dari para klien. Bagi mereka, keterampilan ini adalah modal untuk tidak lagi bergantung, untuk bisa berdiri di atas kaki sendiri, dan untuk membuktikan bahwa mereka mampu berubah.

Bimbingan ketahanan pangan ini dinilai sangat relevan dengan kondisi saat ini. Ketahanan pangan memiliki peluang yang sangat luas untuk dikembangkan dalam berbagai skala. Di tengah keterbatasan, keterampilan ini justru bisa menjadi solusi. Dengan pendampingan yang tepat, keterampilan menanam, mengolah hasil tani, dan mengelola pangan bisa menjadi salah satu alternatif terbaik bagi klien untuk membangun masa depan yang lebih baik dan lebih bertanggung jawab.

Ruang untuk Tumbuh, Percaya Diri, dan Kembali Bermartabat

Lebih dari sekadar transfer pengetahuan dan keterampilan, kegiatan ini menjadi ruang aman bagi Klien Pemasyarakatan untuk mengenali potensi diri, menumbuhkan kepercayaan diri yang sempat runtuh, dan mempersiapkan langkah kecil menuju kehidupan yang lebih produktif.

Dukungan dari Pokmas Lipas menjadi bagian penting dalam memperluas akses klien terhadap pengetahuan, pengalaman hidup, serta peluang pengembangan keterampilan yang berkelanjutan. Kolaborasi antara Bapas dan Pokmas ini adalah contoh nyata bahwa reintegrasi sosial tidak bisa dilakukan sendirian, butuh pelukan dari masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Bapas Kelas II Wonosari menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pembimbingan yang berdampak nyata, bukan hanya di atas kertas.

Penguatan kemandirian ini diharapkan dapat membantu klien menjalani proses reintegrasi sosial secara lebih baik, lebih halus, dan lebih manusiawi. Sehingga mereka tidak hanya kembali ke tengah masyarakat sebagai mantan klien, tetapi kembali sebagai individu yang memiliki bekal, keterampilan, dan semangat untuk menjalani kehidupan yang produktif, mandiri, dan bertanggung jawab.

Karena setiap manusia berhak untuk tumbuh kembali. (Sp/pdtry)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *