WONOGIRI – ONLINENEWS.ID//Jalan Lor Tawang (Lorta) di Desa Tawangrejo, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, Minggu (11/10/2026), berubah wajah. Jika biasanya hanya menjadi jalur penghubung antar desa, hari itu Lorta disulap menjadi ruang publik yang hidup, ramai, dan penuh warna melalui gelaran Car Free Day (CFD) Boga Sampir.
Digagas oleh Pemerintah Desa (Pemdes) bersama Karang Taruna, CFD Boga Sampir bukan sekadar ajang jalan sehat. Kegiatan ini mengemas tiga misi sekaligus dalam satu agenda: edukasi, pelayanan publik, dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Lorta memang bukan tempat asing bagi warga. Hamparan sawah hijau dengan latar Gunung Lawu di utara dan pegunungan selatan hingga Waduk Gajah Mungkur di selatan, membuat lokasi ini sejak lama menjadi favorit anak muda untuk nongkrong sore. Potensi itulah yang kini dikelola secara terencana oleh Pemdes. CFD Boga Sampir dirancang menjadi agenda rutin bulanan sebagai ruang temu warga dan pengunjung dari luar desa.
Pantauan di lapangan, sejak pagi kawasan Lorta sudah dipadati warga. Ada yang berolahraga, berburu kuliner, hingga menikmati pertunjukan seni. Sebanyak 60 lapak UMKM lokal ikut ambil bagian, menjajakan makanan khas pedesaan, kerajinan tangan, hingga pakaian. Panitia mencatat, jumlah pengunjung tembus sekitar 1.000 orang.
Acara tersebut turut dihadiri Camat Jatipurno Nur Dhana Setiawan,S.Kom., dan Anggota DPRD Wonogiri Fraksi PDIP, Sarwo. Kehadiran keduanya menjadi sinyal bahwa inisiatif desa ini mulai dilirik di tingkat kecamatan dan kabupaten.
Kepala Desa Tawangrejo, Sido yang akrab disapa Colok, mengatakan Lorta selama ini memang menjadi pusat kegiatan pemuda, mulai dari pentas seni hingga bazar UMKM saat HUT RI.
“Hari ini, Car Free Day berlangsung sangat meriah dengan kehadiran sekitar 1.000 pengunjung. Kami ingin ini menjadi pendekatan humanis. Pelayanan Pemdes kami bawa lebih dekat ke warga,” ujar Colok.
Ia menegaskan, CFD Boga Sampir adalah cara persuasif untuk mengedukasi warga sekaligus mendongkrak ekonomi. “Silaturahmi antar warga makin erat, ekonomi UMKM jalan,” tambahnya.
Tak hanya kuliner, pengunjung juga disuguhi senam aerobik massal dan pagelaran seni tradisi gejug lesung Retno Wirama dari Dusun Tawang, Desa Tawangrejo. Perpaduan olahraga modern dan kesenian leluhur itu menjadi daya tarik tersendiri.
Wahyudi, salah satu pengunjung, mengaku terkesan dengan konsepnya. Menurutnya, Lorta sangat strategis karena menjadi jalur penghubung antar desa dan antar kecamatan.
“Tempatnya strategis untuk wisata kuliner sekaligus tempat kumpul. Pemandangannya luar biasa, ke utara terlihat lereng Gunung Lawu, ke selatan pegunungan selatan, bahkan Waduk Gajah Mungkur terlihat jelas,” ungkapnya.
Camat Jatipurno, Nur Dhana Setiawan, mengapresiasi langkah Pemdes Tawangrejo. Ia berharap CFD Boga Sampir bisa menjadi embrio wisata kuliner berbasis masyarakat yang ramah lingkungan dan ekonomis.
“Ini contoh bagus bagaimana ruang publik desa bisa menjadi instrumen penguat modal sosial sekaligus penggerak ekonomi lokal. Jika konsisten setiap bulan, Tawangrejo bisa menjadi model wisata berbasis komunitas di Wonogiri,” pungkasnya.
Pewarta: Sgno2t






