SIGI,SULTENG – ONLINENEWS.ID//Minggu pagi itu, 27 September 2026, suasana duka menyelimuti sebuah rumah di Perumahan Kelapa Mas Permai, Kalukubula. Keluarga besar tengah melepas kepergian Orlin Nusi — istri, mama, sekaligus oma yang dicintai — yang berpulang pada 24 September lalu di usia 58 tahun.
Saya sendiri hadir bukan sebagai wartawan hari itu, melainkan sebagai salah satu pelayat yang ikut mendoakan. Tapi ada satu hal kecil yang menarik perhatian saya begitu ibadah pelepasan usai dan rombongan bersiap berangkat ke TPU Kristen Bora: sebuah mobil patroli PJR Ditlantas Polda Sulteng, yang sebelumnya tidak saya sadari kehadirannya, ternyata sudah standby sejak awal.
Sepanjang perjalanan dari Kalukubula menuju Bora, mobil PJR inilah yang membuka jalan di depan iring-iringan — memandu ambulans jenazah, mobil keluarga, sampai rombongan pelayat yang jumlahnya tidak sedikit, hingga tiba di lokasi pemakaman.
Yang membuat kehadirannya terasa berbeda, personel ini — Ipda Wayan Djatmika, yang sehari-hari bertugas di PJR Ditlantas Polda Sulteng — tidak lantas berlalu setelah tugas pengawalan selesai. Ia tetap tinggal, ikut menyaksikan jalannya prosesi pemakaman hingga usai, seolah turut merasakan momen kehilangan yang tengah dihadapi keluarga. Kehadiran itu menunjukkan bahwa yang diberikan bukan sekadar tugas rutin di jalan, melainkan empati yang tulus terhadap sesama.
Usai ibadah pemakaman selesai, momen yang paling membekas justru datang lewat sambutan Wilson, suami almarhumah. Dengan suara haru, ia mewakili pribadi dan keluarga menyampaikan terima kasih kepada personel yang membantu tersebut.
Wilson bercerita, sebenarnya tidak pernah terpikir untuk meminta pengawalan lalu lintas. Katanya, meski personel yang membantu itu tetangga sendiri, tetap saja ada rasa sungkan, apalagi di tengah suasana berduka begini. Tapi tanpa diminta, tanpa dipungut biaya sepeser pun, bantuan itu datang begitu saja — bahkan berlanjut dengan kehadirannya yang setia menyimak prosesi hingga akhir.
Bagi Wilson, hal yang mungkin dianggap orang lain sebagai hal kecil ini justru sangat berarti — dan menurutnya, ini bukti nyata bahwa slogan “Polisi untuk Masyarakat” bukan sekadar tulisan di baliho.Rif.






