ONLINENEWS.ID//MANTAN Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., resmi terpilih sebagai Ketua Dewan Guru Besar (DGB) UGM periode 2026–2031.
Pemilihan yang berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 3, Gedung Pusat UGM, Jumat 7 Agustus 2026 lalu.
Dalam pemilihan tersebut, Guru Besar Fakultas Pertanian, Prof. Ir. Triwibowo Yuwono, Ph.D., juga terpilih sebagai Sekretaris Dewan Guru Besar UGM.
Sementara Guru Besar Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, MPP., terpilih sebagai Ketua Senat Akademik (SA) UGM periode 2026-2031.
Sedangkan Dosen dari Fakultas Biologi, Wahyu Aristyaning Putri, S.Si., M.Si., Ph.D., terpilih sebagai sekretaris Senat Akademik.
Dalam pidato sambutannya usai sesi serah terima jabatan dengan pengurus DGB sebelumnya, Panut menegaskan komitmennya untuk melanjutkan capaian positif kepengurusan sebelumnya.
Juga, ia berharap kepengurusan DGB periode yang baru dapat mendorong kontribusi yang lebih besar bagi UGM dan pembangunan bangsa.
“Tentu kami sebagai pimpinan DGB yang baru dengan motto continuous improvement, yakni ingin mengulang langkah sukses yang telah dijalankan oleh kepengurusan sebelumnya. Mudah-mudahan kita semua bisa berkontribusi lebih besar dan lebih kuat untuk pembangunan bangsa ini,” ujar Panut.
Tak lupa, Panut juga mengajak seluruh anggota DGB untuk membangun kerja sama yang solid selama masa kepengurusan mendatang.
“Mari kita bekerja bersama-sama secara bersinergi, saling asah, saling asih, saling asuh, dan mudah-mudahan kita bisa lebih berkontribusi, lebih kuat untuk kemajuan UGM dan kemajuan bangsa kita,” tutupnya.
Ketua SA UGM terpilih, Wahyudi Kumorotomo menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para dosen dan guru besar yang telah memberikan kepercayaan kepadanya. “Tugas Senat Akademik memang lumayan berat,” ujarnya.
Menurut Wahyudi, salah satu fokus awal kepemimpinannya adalah memastikan para pimpinan dan organ universitas dapat bekerja sama dengan baik.
Sinergi antara pimpinan universitas, Senat Akademik, dan Dewan Guru Besar dinilai penting untuk memastikan kebijakan akademik berjalan selaras dengan tujuan bersama.
Ia juga melihat peningkatan reputasi akademik internasional sebagai salah satu agenda yang perlu dikawal. Meski pemeringkatan bukan satu-satunya tujuan UGM, sejumlah indikator yang digunakan dalam pemeringkatan dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan reputasi akademik universitas.
“Yang tentu saya ingin lakukan sementara di awal ini adalah memastikan bahwa para pemimpin universitas dan organ universitas, baik MWA, SA, maupun DGB, bisa bekerja sama dengan baik,” katanya.
Wahyudi menilai persoalan yang dihadapi perguruan tinggi semakin kompleks sehingga tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu disiplin ilmu.
Karena itu, ia mendorong penguatan kolaborasi lintas disiplin dan sinergi antar komponen universitas.
Ia menambahkan bahwa berbagai program yang telah berjalan pada periode sebelumnya akan terus dilanjutkan dengan penyesuaian terhadap tantangan baru.
Menurutnya, kombinasi keilmuan dan pengalaman yang dimiliki anggota Senat Akademik periode 2026–2031 menjadi modal penting untuk menjalankan mandat tersebut.
“Yang terbaik dari yang dulu kita lanjutkan, yang tentu saja tantangan-tantangan baru kita harapkan juga kita jawab bahwa semuanya berjalan dengan baik,” ujarnya.
Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D. menyampaikan bahwa pergantian kepemimpinan Senat Akademik dan Dewan Guru Besar berlangsung di tengah tantangan universitas yang semakin kompleks akibat perubahan lingkungan masyarakat.
Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan organisasi yang tanggap, inovatif, adaptif, serta memiliki daya saing melalui kepemimpinan transformasional.
“Kita menghadapi tantangan besar untuk menghadapi kompleksitas perubahan lingkungan di masyarakat. Situasi tersebut memerlukan organisasi yang tanggap, inovatif, dan adaptif, serta memerlukan transformational leadership,” ujar Rektor.
Menurutnya, kepemimpinan transformasional diperlukan untuk mendorong perubahan positif dan inovatif, sekaligus membangun karakter dan martabat institusi sehingga seluruh unsur universitas dapat bergerak menuju visi bersama.
Ia menyampaikan sejumlah agenda yang perlu dikawal bersama pada periode mendatang. Salah satunya adalah peningkatan kualitas proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, termasuk melalui penguatan tata kelola program studi dan pusat studi serta pengembangan ekosistem inovasi.
Selain itu, UGM terus mendorong penguatan ekosistem inovasi, pengembangan karier, serta optimalisasi pengelolaan sumber daya manusia. Penguatan kampus inklusif juga menjadi perhatian, termasuk penyediaan beasiswa, penciptaan lingkungan kampus yang aman, pencegahan kekerasan, serta pengelolaan ruang terbuka hijau secara berkelanjutan.
UGM juga akan terus mendorong agenda kampus berkelanjutan, termasuk menuju zero emission campus, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor pada tingkat nasional maupun global.
“Ini sebetulnya memerlukan dukungan dari semua pihak. Bagaimana kita akan maju apabila kolaborasi antar komponen tidak sinergis,” tuturnya dikutip dari laman resmi UGM.
Ia pun menegaskan bahwa Senat Akademik memiliki peran penting dalam mengawal kebijakan akademik UGM di tengah ambisi peningkatan reputasi dan kualitas universitas di tingkat global.
Menurutnya, target peningkatan peringkat internasional bukan merupakan satu-satunya tujuan, tetapi berbagai komponen yang digunakan dalam pemeringkatan juga berkaitan dengan internasionalisasi, peningkatan standar, dan kualitas akademik.
Oleh karena itu, diperlukan berbagai perubahan dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan. Senat Akademik diharapkan dapat berperan dalam mengawal kebijakan akademik agar sejalan dengan arah pengembangan universitas.
Sementara itu, Dewan Guru Besar diharapkan terus menjaga marwah akademik UGM, terutama dalam pembinaan integritas moral dan etika, pengembangan keilmuan dan budaya, serta memberikan pertimbangan strategis, baik bagi universitas maupun bagi pembangunan bangsa.
Ova juga mengingatkan agar proses pergantian kepemimpinan berlangsung dalam semangat kekeluargaan. Pemilihan pimpinan, menurutnya, bukan sekedar kompetisi antar kandidat, melainkan upaya memilih sosok yang mampu mewakili dan mengakomodasi pemikiran seluruh anggota Senat Akademik.
Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, Prof. Dr. Ir. Tumiran, M.Eng., IPU., Ph.D., turut menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh anggota Senat Akademik dan Dewan Guru Besar periode 2026–2031.
Ia menekankan bahwa mandat yang diberikan kepada para anggota terpilih merupakan ruang untuk memberikan pemikiran dan kontribusi kelembagaan bagi kemajuan UGM.
Menurutnya, tantangan lima tahun mendatang tidak ringan. Salah satu hal mendasar yang perlu menjadi perhatian adalah memastikan bahwa pendidikan yang diberikan UGM mampu menjawab perubahan yang berlangsung cepat sehingga lulusan memiliki kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
“Kita ada di sini karena ada mahasiswa. Kita ada di sini karena ada orang tua yang menitipkan anak-anaknya kepada UGM,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keberadaan organ-organ universitas harus diarahkan untuk memastikan kepentingan mahasiswa menjadi perhatian utama dalam setiap kebijakan. Senat Akademik, Dewan Guru Besar, MWA, dan jajaran eksekutif universitas perlu membangun harmonisasi dan sinergi dalam merumuskan serta menjalankan kebijakan.
Menurutnya, ketentuan dalam statuta dan berbagai regulasi universitas dapat menjadi guiding dalam menjalankan fungsi masing-masing organ. Namun, berbagai ketentuan tersebut juga perlu terus disempurnakan mengikuti dinamika perubahan agar UGM dapat semakin adaptif dan responsif.
Selain sinergi kelembagaan, Ketua MWA juga mendorong optimalisasi jejaring yang dimiliki para anggota Senat Akademik dan Dewan Guru Besar. Jejaring tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuka akses bagi mahasiswa, mendukung penelitian dosen, serta menghadirkan pengalaman dan praktik terbaik dari berbagai sektor.
Ia juga menyoroti pentingnya peran alumni. Prestasi dan kiprah alumni di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan hingga dunia usaha, secara tidak langsung mencerminkan kualitas pendidikan yang diberikan institusi.
Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan para anggota Senat Akademik dan Dewan Guru Besar diharapkan dapat turut memikirkan bagaimana pengalaman, jejaring, dan pengetahuan yang dimiliki dapat dikapitalisasi menjadi gagasan kebijakan yang memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat dan bangsa.
Dengan terbentuknya kepemimpinan baru Senat Akademik UGM dan DGB UGM periode 2026–2031, UGM berharap sinergi antar organ universitas semakin kuat dalam mengawal kebijakan akademik, meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian, serta memastikan UGM mampu merespons perubahan dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.
Pergantian pimpinan Dewan Guru Besar UGM tersebut sekaligus menandai berakhirnya masa jabatan pimpinan DGB periode 2021–2026 yang sebelumnya dipimpin oleh Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., sebagai Ketua dan Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, M.P.P., sebagai Sekretaris. Sementara pimpinan Senat Akademik periode 2021-2026 dipimpin oleh Prof. Dr. Sulistiowati, S.H., M.Hum. dan Prof. Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni,S.IP., M.Si., sebagai sekretaris. Red






