ONLINENEWS.ID//SEMILIR angin sore Manokwari, provinsi Papua Barat membawa ketenangan di kampus Universitas Muhammadiyah Papua Barat (UMPB).
Selama tiga hari dari 17 hingga 19 Juli 2026, ruangan kelas yang biasanya dipenuhi riuh diskusi akademik berubah menjadi kawah candradimuka perkaderan.
Sebanyak 72 peserta berkumpul melintasi batas geografi dan latar belakang, menyerap nilai-nilai keislaman serta ke-Muhammadiyahan dalam agenda Baitul Arqam (BA).
Di tanah Papua, di mana tradisi lokal yang hangat berpadu serasi dengan napas Islam yang inklusif, Baitul Arqam bukan sekadar agenda doktrin ideologi. Lebih dari itu, ruang ini menjadi tempat bertemunya gagasan, semangat, dan cita besar membangun peradaban.
Di antara puluhan peserta yang khusyuk menyimak materi, ada Gita Roles dan Iin Khoirinisa. Keduanya melangkah ke Baitul Arqam dengan niat yang sama, menimba ilmu dan menguatkan komitmen kaderisasi.
Namun, takdir Tuhan kerap kali menyisipkan kejutan manis di tengah-tengah keseriusan agenda organisasi. Di balik tatanan diskusi yang bernas dan helaan napas perjuangan di ujung timur Indonesia, benih-benih cinta rupanya tumbuh dengan anggun.
Perjalanan Baitul Arqam ini mencapai puncaknya pada hari terakhir, 19 Juli 2026. Jika biasanya penutupan BA ditandai dengan riuh salaman perpisahan dan pengukuhan kader, hari itu suasana berubah penuh haru dan kebahagiaan.
Sebuah prosesi akad nikah dilangsungkan. Gita Roles dan Iin Khoirinnisa resmi mengikat janji suci di hadapan para saksi dan rekan-rekan seperjuangan.
Pernikahan di momen penutupan Baitul Arqam menjadi potret langka sekaligus memesona. Di Papua, tanah yang identik dengan semangat persaudaraan yang kokoh dan keharmonisan budaya, pernikahan ini menyimbolkan kehangatan. Islam di Papua bertumbuh bagai pohon yang teduh, menyatu dengan kearifan lokal yang menjunjung tinggi nilai persatuan dan keluarga.
Kehadiran jajaran instruktur dari Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Manusia (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah seperti M. Irfan Islami, Supala, Muhammad Ali, Heriyanti, dan Arie Anang menambah kekhidmatan acara tersebut.
Para instruktur yang awalnya bertugas mengawal jalannya penanaman ideologi dan penguatan kapasitas kader, mendadak menjadi saksi sejarah terukirnya sebuah keluarga baru. Senyum bahagia dan bait-bait doa terpancar dari wajah para instruktur dan seluruh peserta.
“Baitul Arqam ini terbukti bukan hanya tempat menempa ideologi dan memperkuat barisan kaderisasi. Ternyata, jika Allah sudah berkehendak, BA juga bisa menjadi media terbaik untuk mempertemukan jodoh hingga ke pelaminan,” kata Dian Indriyani, Wakil Rektor UMPB.
Menurut Rektor, apa yang terjadi di UMPB ini menegaskan bahwa perkaderan Muhammadiyah bersifat humanis dan berdampak nyata dalam kehidupan pribadi para kadernya.
“Ideologi tak melulu soal teks dan doktrin kaku; ia meresap dalam cinta, kasih sayang, dan komitmen membangun peradaban yang dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga,” terangnya.
Saat acara berakhir dan para peserta bersiap kembali ke rutinitas masing-masing, Gita dan Iin melangkah keluar tidak hanya membawa sertifikat kelulusan Baitul Arqam.
Mereka memegang janji suci untuk mengarungi hidup bersama. Di bawah langit Papua Barat yang menawan, Baitul Arqam UMPB 2026 akan selalu dikenang: bukan cuma tentang 72 kader yang ditempa, tetapi tentang dua hati yang disatukan dalam ikatan pernikahan yang berkah. Red






