Ketika Seragam Loreng Berbaur dengan Keseharian Desa: Kisah Pengabdian Pelda Abdul Rasad, Sang Babinsa Desa Bomba dan Lebanu

  • Whatsapp

SIGI, SULTENG – ONLINENEWS.ID// Bagi sebagian orang, sosok tentara identik dengan kedisiplinan yang kaku dan jarak dengan warga sipil. Namun bagi warga Desa Bomba dan Lebanu, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, sosok itu justru menjelma menjadi tetangga yang akrab dan selalu ada ketika dibutuhkan. Dialah Pelda Abdul Rasad, Bintara Pembina Desa (Babinsa) di bawah naungan Koramil 1306-05/Marawola, Kodim 1306/Kota Palu.

Perjalanan Abdul Rasad menuju seragam loreng tidak datang dari garis keturunan militer. Ia lahir dari keluarga petani sederhana. Selepas menamatkan sekolah menengah atas, orang tuanya justru memberi kebebasan penuh menentukan arah hidup. Di masa muda, ia sempat mengagumi sosok petugas Polisi Kehutanan dengan seragam cokelatnya yang gagah, namun rupanya jodohnya justru berlabuh di TNI. Dorongan sang kakak menjadi titik baliknya, mengarahkannya mencoba jalur militer. *”Saya bilang, saya siap,”* kenangnya, meski sempat diingatkan bahwa pendidikan militer keras dan penuh risiko.

Muat Lebih

Pesan sang ayah menjadi bahan bakar tekadnya: jangan menjadi petani seperti dirinya, harus ada perubahan. Tekad itu membawanya lolos mengikuti Sekolah Calon Bintara di Makato, Sulawesi Selatan, angkatan tahun 2002 yang dikenal dengan sebutan PK-10. Selepas pendidikan, ia ditempatkan di satuan Kavaleri di Ambon. Tahun 2012 ia pindah tugas ke Palu dan ditempatkan di Korem 132/Tadulako, sebelum akhirnya dipindahkan ke Kodim 1306/Kota Palu hingga menjalani penugasan di Koramil sebagai Babinsa. Terhitung 16 Agustus 2026 mendatang, genap 24 tahun ia mengabdi sebagai prajurit TNI, dengan sekitar 11 tahun di antaranya dijalani sebagai Babinsa.

Transisi dari kehidupan barak ke tengah masyarakat sipil, diakuinya, bukan perkara mudah. Di dalam pasukan, disiplin dan soliditas antaranggota terbentuk karena kebersamaan dalam satu asrama. Namun di tengah masyarakat, pendekatannya harus berubah total. *”Ternyata begini kondisi di masyarakat. Saya harus bisa berbaur, melepas ego, tidak mau menang sendiri,”* ujarnya.

Prinsip itulah yang ia pegang saat pertama kali menjabat Babinsa di Kecamatan Marawola Barat hingga kini membina Desa Bomba dan Lebanu. Ia meyakini kedekatan dengan warga hanya bisa dibangun lewat kehadiran, bukan sekadar tugas administratif. Ia rutin menghadiri undangan warga sekalipun jarak tempuh cukup jauh dari kediamannya, mulai dari acara syukuran, hajatan, hingga bermalam bersama warga saat momen tertentu seperti pemilu. Hasilnya, batas antara aparat dan masyarakat perlahan hilang, digantikan rasa saling percaya yang membuat warga tidak segan berbagi informasi maupun keluh kesah keamanan lingkungan.

Sikap itu pula yang ia terapkan dalam membina dua desa dengan latar belakang keyakinan berbeda. Bomba mayoritas muslim, sementara Lebanu mayoritas kristiani. Abdul Rasad menegaskan tidak pernah membeda-bedakan keduanya meski ia sendiri seorang muslim,: *”Seorang Babinsa harus berdiri di tengah, adil untuk semua masyarakat,”* tegasnya.

Prinsip itu pula yang berbuah manis ketika Desa Bomba dinobatkan meraih predikat juara tiga Kampung Pancasila tahun lalu. Program Kampung Pancasila sendiri secara umum mengacu pada empat pilar utama, yakni lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, serta sosial budaya, yang diwujudkan lewat kerukunan antarwarga, gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, dan kemandirian ekonomi desa. Dalam penilaian yang diraih Desa Bomba, Abdul Rasad menyebut aspek ketahanan pangan serta produk usaha kecil masyarakat, seperti kerajinan tangan dari lidi dan tikar, turut menjadi unsur unggulan. Prestasi itu, tegasnya, tidak lepas dari sinergi berkelanjutan bersama kepala desa, Badan Permusyawaratan Desa, dan seluruh perangkat desa, serta terus dijaga keberlanjutannya, bukan sekadar pencapaian sesaat.

Selain membina warga secara umum, Abdul Rasad juga berperan membina anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas) di kedua desa binaannya. Melatih warga sipil — yang notabene tidak memiliki latar belakang militer — untuk baris-berbaris maupun kedisiplinan dasar keamanan, diakuinya menuntut kesabaran ekstra. Ia bahkan menceritakan pengalaman jenaka saat melatih Linmas yang kerap kebingungan membedakan arah “hadap kanan” dan “hadap kiri”. Namun di balik itu, ia melihat tumbuhnya kebanggaan tersendiri di tengah keluarga anggota Linmas, bahkan memantik keinginan sejumlah warga agar anaknya kelak turut mengabdi sebagai tentara.

Dalam menjalankan tugas di lapangan, Abdul Rasad juga menjalin kemitraan erat dengan Bhabinkamtibmas yang bertugas di desa yang sama dengannya. Untuk hal-hal yang sifatnya serius maupun pengambilan keputusan terkait situasi wilayah, keduanya terbiasa berdiskusi terlebih dahulu, sebelum masing-masing melaporkan sesuai garis komando ke atasan masing-masing. Di luar forum resmi, kedekatan itu terjalin lewat obrolan santai sambil menikmati kopi bersama sang mitra Bhabinkamtibmas — sekadar bertukar pikiran dan berbagi informasi seputar perkembangan di wilayah binaan. Kebersamaan sederhana semacam ini justru menjadi cerminan nyata bagaimana sinergitas TNI-Polri terjalin solid hingga ke tingkat akar rumput, jauh sebelum keduanya diuji dalam persoalan yang lebih besar.

Di balik dedikasinya di lapangan, dukungan keluarga menjadi fondasi penting. Abdul Rasad dan istri membesarkan tiga putri, dengan penuh kesadaran menanamkan pemahaman kepada anak-anaknya soal konsekuensi menjadi keluarga prajurit TNI, termasuk memberikan dukungan mental menghadapi masa penugasan.

Di era digital saat ini, Abdul Rasad juga tak lupa menyisipkan pesan kebijakan bermedia sosial kepada generasi muda di desa binaannya, mengingatkan bahaya penyalahgunaan gawai serta risiko hukum dari ujaran maupun konten yang menyesatkan, termasuk ancaman rekayasa foto dan video menggunakan kecerdasan buatan. Pendekatan ini pun tidak dilakukannya secara formal semata, melainkan menyelip di berbagai ruang informal seperti bengkel maupun tempat warga biasa berkumpul.

Menutup perbincangan, pesan Abdul Rasad untuk generasi muda yang baru lulus seleksi menjadi anggota TNI sederhana namun sarat makna: jaga keimanan, hormati orang tua, dan laksanakan pendidikan dengan sungguh-sungguh tanpa melanggar aturan yang berlaku.

_Diolah dari keterangan Pelda Abdul Rasad, Babinsa Desa Bomba dan Lebanu, Koramil 1306-05/Marawola, Kodim 1306/Kota Palu_ .

_*Reporter: Rif*_

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *