Anak Guru Jadi Polisi: Semangat Belajar Kapolsek Tawaeli di Usia Bhayangkara ke-80

  • Whatsapp

PALU, SULTENG – ON
LINENEWS.ID// Di sela kesibukannya sebagai Kapolsek Tawaeli Polresta Palu, Iptu Afif, S.H.I., M.H., menyempatkan diri berbincang santai di sebuah warung kopi di Kota Palu, Jumat (10/7/2026) pagi. Perbincangan berlangsung akrab, jauh dari kesan formal seorang pejabat kepolisian.

Momen ini bertepatan dengan suasana peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada 1 Juli 2026 lalu. Di tengah gempuran informasi di media sosial yang kerap menyudutkan institusi kepolisian tanpa verifikasi memadai, sosok perwira yang baru menuntaskan pendidikan magister hukum pada 2026 ini dipilih sebagai representasi polisi yang layak menjadi teladan. Ia menjabat sebagai Kapolsek Tawaeli sejak mutasi di jajaran Polresta Palu pada Mei 2026.

Muat Lebih

Perjalanan pendidikannya terbilang panjang. Ia menempuh S1 di Universitas Islam Alkhairaat (Unisa) Palu, salah satu perguruan tinggi swasta Islam tertua di Sulawesi Tengah, dengan mengambil jurusan hukum Islam atau syariah, lulus tahun 2009. Belasan tahun kemudian, di sela tugasnya sebagai anggota Polri, ia melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar magister hukum pada 2026. *”Pimpinan selalu menyarankan kepada anggotanya itu untuk tetap menuntut ilmu,”* ujarnya, menegaskan bahwa dorongan belajar bukan datang dari ambisi pribadi semata, melainkan juga arahan dari para pemimpinnya di kesatuan.

Keinginannya untuk terus belajar rupanya bukan tanpa sebab. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru berstatus PNS, mengajar di berbagai jenjang mulai SD hingga SMA, termasuk di madrasah. Dari didikan itu, empat bersaudara tumbuh dengan jalan karier masing-masing: anak pertama menjadi guru, anak kedua dan bungsu menjadi dokter, sementara Afif satu-satunya yang memilih jalan sebagai anggota Polri. Ia mengaku dukungan keluarga, terutama sang istri, menjadi penopang utama saat harus membagi waktu antara tugas dan bangku kuliah.

Ketertarikannya pada dunia kepolisian tumbuh sejak awal, didorong kekaguman pada sosok polisi yang hadir di tengah masyarakat dan mampu memberi manfaat langsung bagi orang banyak. Baginya, profesi ini menjadi ruang untuk terus berbuat baik kepada sesama.

Genap enam minggu menjabat sebagai Kapolsek Tawaeli, Afif telah memetakan kerawanan di wilayah tugasnya. Kasus pencurian tercatat sebagai yang paling menonjol, disusul kasus narkotika. Untuk mempercepat penanganan, ia membentuk tim khusus bernama Tim Macan Kumbang yang fokus merespons cepat tindak pidana kriminal di wilayah hukumnya.

Dalam memimpin, Afif menerapkan pendekatan yang fleksibel terhadap anggotanya, menyesuaikan diri sebagai sosok ayah, sahabat, sekaligus pemimpin tergantung situasi. Ia rutin menyempatkan waktu ngopi bersama personel untuk mendengar keluh kesah, termasuk persoalan keluarga, di luar forum-forum formal. Pendekatan serupa juga dilakukannya ke tokoh masyarakat—sejak pekan pertama menjabat, ia bersilaturahmi ke camat, lurah, hingga jajaran Koramil setempat, sekaligus membagikan nomor kontak pribadinya agar warga tak segan menghubungi langsung bila ada kebutuhan mendesak.

Sentuhan rohani turut mewarnai gaya kepemimpinannya. Menceritakan pengalamannya terhadap tahanan yang pernah ditemuinya ia kerap mengajak berdialog untuk memahami motif di balik perbuatan mereka, sembari mengingatkan kewajiban ibadah selama menjalani masa tahanan. Ia meyakini pendekatan semacam ini menjadi bagian dari upaya pembinaan, bukan sekadar penindakan.

Kepedulian pada pembinaan rohani juga ia terapkan ke internal anggotanya. Tak lama setelah menjabat, ia berinisiatif menggelar lomba cerdas cermat Islami dan lomba azan bagi personel, dengan juri yang sengaja dilibatkan dari kalangan luar, yakni akademisi IAIN Palu. Hadiah lomba dikumpulkan secara sukarela dari sesama anggota. Baginya, bekal pengetahuan agama yang cukup dapat menjadi benteng bagi personel dalam menjalankan tugas di lapangan.

Di usia Bhayangkara yang ke-80, Afif berharap masyarakat semakin memahami bahwa di balik tugas menegakkan hukum, anggota polisi juga manusia biasa dengan beban dan persoalan keluarganya sendiri. Ia mengajak warga untuk membangun komunikasi yang baik dengan aparat kepolisian, serta tak perlu ragu melapor ke kantor polisi karena layanan tersebut diberikan tanpa dipungut biaya.

Kepada generasi muda yang bercita-cita menjadi anggota Polri, pesannya sederhana: banyak belajar, banyak berlatih, membangun mental yang kuat, dan tak lupa berdoa. Ia mengingatkan agar jangan pernah menganggap enteng profesi ini, karena tanggung jawab yang diemban jauh lebih berat dari yang terlihat di permukaan.

*Diolah dari hasil wawancara langsung dengan Kapolsek Tawaeli, Iptu Afif, S.H.I., Jumat (10/7/2026).*

*Reporter: Rif*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *