SIGI, SULTENG – ONLINENEWS.ID// Ada foto yang tidak mudah dilupakan. Seorang prajurit berseragam loreng, rompi lengan bertuliskan “BABINSA”, membungkuk ke arah seorang balita kecil berbaju merah yang berdiri sendirian di tanah — mengulurkan tangan. Sang anak mengulurkan tangannya balik. Di belakang mereka, dinding rumah sudah rata dengan tanah.
Tidak ada instruksi untuk melakukan itu. Tidak ada yang memintanya. Serda Frans Meysen begitu saja membungkuk.
Itulah potret Rabu siang, 17 Juni 2026, di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi — desa di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut yang kini dipenuhi tenda-tenda terpal biru dan merah di setiap halaman. Serda Frans, Babinsa wilayah Desa Uenuni dan Lemban Tongoa dari Koramil 1306-02/Biromaru, Kodim 1306/Kota Palu, datang kembali bersama rekannya sesama Babinsa, Kopda Rian.
Hari sebelumnya dia sudah ada di sini — membersihkan pohon tumbang yang menutup jalan di kilometer 2 sebelum sempat masuk ke desa. Rabu ini dia datang untuk hal yang berbeda. Bukan hanya mendata. Tapi juga duduk. Mendengar. Dan kalau ada anak kecil yang perlu digendong, dia gendong.
Antara pukul 11.27 hingga 11.51 WITA, kamera merekam pergerakan Serda Frans dari satu rumah ke rumah lain — dan setiap berhenti, ada momen yang tidak bisa direkayasa. Dia menggendong bayi berbaju biru di dalam tenda pengungsian berterpal merah, sementara anak-anak lain duduk di atas kasur tipis di lantai tenda. Dia tersenyum lebar sambil menggendong anak perempuan kecil berambut ikat di bawah tenda yang sama — keduanya menghadap ke kamera, sama-sama terlihat senang. Di rumah lain, dia mengangkat bayi berbaju pink setinggi dadanya, menciumnya sebentar, sementara sang ibu dan nenek sang bayi duduk di teras menyaksikan dengan senyum.
Di sela semua itu, dia tetap bekerja. Masuk ke dalam rumah yang dindingnya sudah jebol terbuka ke arah kebun — memeriksa kondisi struktur bersama pemilik. Berdiri di atas tumpukan bata runtuh di depan rumah yang separuh temboknya sudah tidak ada. Berdiri di gang sempit antara dua bangunan, menatap kerusakan dalam diam.
Pukul 11.40, di sebuah rumah lain yang atapnya sudah miring dan isi rumah berserakan — mainan anak-anak di lantai, lemari terbuka, barang-barang yang belum sempat diselamatkan — Serda Frans berdiri berbicara dengan pemilik rumah. Mendengarkan. Mencatat dalam kepala, kalau tidak di buku.
Di satu foto yang paling diam: pukul 11.50, dia berdiri sendirian di depan sebuah rumah yang pintu depannya masih berdiri tapi seluruh tembok di sekelilingnya sudah runtuh menjadi puing. Dia tidak berpose. Dia hanya melihat.
TNI sering digambarkan dalam satu warna: keras, hierarkis, jauh dari kehidupan sehari-hari. Lemban Tongoa hari ini memperlihatkan gambar yang berbeda. Dua prajurit yang naik motor menembus jalan terjal ke desa terpencil pascagempa, masuk ke rumah-rumah yang retak dan runtuh, dan di sela semua itu — menggendong anak orang, membungkuk menyapa balita yang berdiri sendirian di depan rumahnya yang rusak.
Bukan karena ada yang menyuruh. Bukan karena ada kamera resmi yang menunggu. Tapi karena begitulah cara mereka tahu bagaimana bersama warga.
Trauma healing tidak selalu butuh program dan anggaran. Kadang cukup seorang prajurit yang mau membungkuk.
Rif
(Sumber: Serda Frans Meysen dan Kopda Rian, Babinsa Koramil 1306-02/Biromaru, Kodim 1306/Kota Palu)






