Jalan Tertutup Longsor Tak Surutkan Langkah Babinsa Menuju Warga Terdampak Gempa

  • Whatsapp

SIGI, SULTENG – ONLINENEWS.ID// Belum genap satu jam setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah, Serda Frans Meysen sudah dalam perjalanan menuju wilayah binaannya. Prajurit TNI AD yang bertugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) di bawah Koramil 1306-02/Biromaru, Kodim 1306/Kota Palu, ini tidak menunggu perintah. Begitu guncangan reda, dia bergerak.

Tujuannya: Desa Uenuni dan Lemban Tongoa, dua desa di wilayah Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, yang masuk dalam daftar wilayah terdampak gempa hari ini, Selasa (16/06/2026).

Muat Lebih

Tapi perjalanan itu tidak mudah. Di kilometer 2 menuju Lemban Tongoa, longsor menutup akses jalan. Pohon tumbang melintang, jalur tersumbat. Serda Frans tidak berbalik.

“Di perjalanan di Kilo 2 terjadi longsor, pohon tumbang sehingga akses jalan untuk menuju Lembentongua terhambat,” ujarnya saat dihubungi via WhatsApp pada Selasa sore.

Bersama warga yang kebetulan ada di lokasi, dia langsung turun tangan — kerja bakti, tebang pohon, bersihkan jalan. Satu jam kemudian, sekitar pukul 16.00 WITA, dia tiba di Desa Lemban Tongoa yang berdiri di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.

Yang ditemuinya di sana adalah warga yang masih diliputi kecemasan. Sebagian sudah memasang tenda di halaman rumah masing-masing. Yang lain memilih mengungsi ke lapangan sepak bola desa. Serda Frans berkeliling, mengecek kondisi rumah satu per satu, dan mengimbau warga untuk tidak memaksakan diri tinggal di dalam bangunan yang mungkin terdampak.

Foto yang diabadikan pukul 15.48 WITA memperlihatkan sosok berseragam loreng dengan rompi bertuliskan “BABINSA” itu duduk di kursi plastik di halaman warga — bukan di posko, bukan di balik meja. Dia berada tepat di tengah warga yang berkumpul, berbicara langsung, mendengarkan.

Itulah postur Babinsa dalam situasi bencana: hadir, bukan sekadar terlapor hadir.

Secara keseluruhan, gempa hari ini mencatat delapan korban luka di wilayah Kabupaten Sigi. Dua di antaranya mengalami luka berat — patah tulang dan benturan kepala — warga Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, dan kini dirawat di RS Torabelo Palolo. Enam lainnya luka ringan dari Kecamatan Nokilalaki, Palolo, dan Sigi. Hingga laporan ini diturunkan, tidak ada korban jiwa. Pendataan kerusakan bangunan masih berlangsung. Data ini bersumber dari Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Palu.

Gerak seperti itu bukan kebetulan. Komandan Kodim 1306/Kota Palu, Kolonel Inf. Yudhi Hendro Prasetyo, memang dikenal tidak hanya memberi arahan dari atas meja — dia turun langsung setiap kali ada bencana, dan prajuritnya tahu itu.

Serda Frans mungkin menganggap ini bagian dari tugasnya. Wajar. Tapi di Lemban Tongoa sore tadi, di halaman rumah warga yang masih gemetar, satu prajurit datang membersihkan jalan lalu duduk menemani — dan itu sudah cukup untuk membuat orang merasa tidak sendirian. Red

(Sumber: Serda Frans Meysen, Babinsa Koramil 1306-02/Biromaru / Kantor SAR Palu / BMKG)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *