SIGI,SULTENG – ONLINENEWS.ID// Belum genap dua minggu AKP Rudi Cornelis menjabat Kapolsek Biromaru ketika ia menerima kami di kantornya. Tidak ada pidato pembuka. Tidak ada basa-basi tentang visi besar. Yang pertama ia katakan, setelah salam dan jabat tangan, justru ini: “Masyarakat itu sebagai majikan kita. Siapapun dia, kita tidak memilih. Kita yang melayani.”
Kalimat itu keluar tanpa jeda, tanpa keraguan. Seperti sesuatu yang sudah lama ia yakini, bukan sesuatu yang baru ia pelajari untuk keperluan wawancara.
*Bunta, 1995, dan Satu Keputusan yang Mengubah Segalanya*
Ia lahir dan besar di Kecamatan Bunta, Kabupaten Banggai. SMA diselesaikan di sana, lalu ia merantau ke Palu dengan satu tujuan: masuk Polri. Tahun 1995–1996 ia menjalani pendidikan kepolisian. Lulus, langsung bertugas di Polres Donggala — waktu itu Palu masih bagian dari Donggala.
Dari bintara, ia pelan-pelan naik. Pada 2011 ia lolos seleksi Sekolah Inspektur Polisi (SIP) Angkatan 40 di Sukabumi, masuk jenjang perwira pertama. Setelah itu rangkaian penugasan berganti: Direktorat Samapta, Kapolsek Witaponda di Polres Morowali, lalu kembali ke Palu sebagai Kanit Lantas, KBO Lantas, Kasubag Ops di Polres Palu.
Sekarang Biromaru. Bukan pertama kali ia jadi Kapolsek, tapi ia tidak datang dengan anggapan sudah tahu segalanya. “Setiap wilayah itu beda. Beda karakter dan budayanya. Ketika masuk tempat baru, saya selalu mulai dari nol lagi,” katanya.
*Tujuh Hari Pertama: Data Dulu, Perintah Kemudian*
Yang pertama ia lakukan bukan kumpul anggota lalu ceramah soal target. Ia buka data kasus. Ia pelajari peta wilayah — berapa kecamatan, berapa desa, siapa camatnya, siapa tokoh masyarakatnya. Ia sebut ini intelijen dasar — gambaran awal sebelum ia bisa membuat keputusan yang masuk akal.
Dari data itu, satu pola langsung terlihat: kasus paling sering di wilayah Polsek Biromaru adalah penganiayaan. Penyebabnya? Sebagian besar minuman keras dan narkoba. Dan narkoba, kata Rudi, tidak berhenti di situ. “Narkoba sudah menyebar. Dari situ banyak terjadi pencurian — mencuri untuk beli narkoba. Ini harus ditangani dengan strategi baru,” ujarnya.
Hari Jumat pekan pertama bertugas, ia sudah turun ke Desa Lolu. Jumat Curhat — program dialog polisi dengan warga — ia jalankan sejak awal. Alasannya sederhana dan cukup jujur untuk ukuran seorang pejabat: “Kalau dari anggota, jelas dia akan lapor yang baik-baik saja. Yang bermasalah dia tutupi. Dengan Jumat Curhat, saya bisa dapat langsung dari warga.”
*Sebelum Berangkat Tugas, Ada Doa Bersama Dulu*
Di rumahnya di Jalan Karana, Palu Utara — tidak jauh dari Mako Brimob — pagi selalu dimulai dengan cara yang sama. Ia, istrinya Imelda Christina Buganda, dan anak-anak berkumpul untuk ibadah rumah tangga. Doa berantai, bergantian. “Supaya kita diberikan kesehatan, kekuatan, keselamatan,” katanya.
Rudi adalah seorang Kristiani. Dan ia tidak memisahkan imannya dari cara ia memimpin. Kepada anggotanya — termasuk yang Muslim — ia selalu sampaikan hal yang sama: jaga spiritual, rajin ibadah, dan yang terpenting, tahu diri. “Kita ini pelayan masyarakat. Bukan pimpinan yang ada di situ. Masyarakat itu majikan kita.”
Tiga anaknya sudah punya jalan masing-masing. Putri sulung Leoni Claudi Cornelis bekerja sebagai apoteker di Apotek Kamonji. Putra kedua, lulusan SKM, bekerja di perusahaan swasta di Morowali. Si bungsu masih kelas empat SD.
*Yang Terjadi di Mako Brimob Itu Sulit Dijelaskan, tapi Nyata*
Beberapa waktu lalu, Paskah Nasional V digelar di Mako Satuan Brimob Batalyon Pelopor, Biromaru. Acara besar, peserta dari berbagai daerah. Yang menarik bukan acaranya — tapi siapa yang menjaga di luar. Warga Muslim dari sekitar lokasi yang secara sukarela berjaga, membantu pengamanan di luar area ibadah.
Sebaliknya, waktu MTQ berlangsung, warga Nasrani dari Desa Jomogi yang turun membantu persiapan dan kebersihan. Bupati Sigi sampai menyampaikan apresiasi secara terbuka.
“Kerukunan di sini bukan slogan,” kata Rudi singkat. Baginya, ini modal sosial yang nyata — dan menjaganya adalah bagian dari tugasnya, bukan sekadar urusan tokoh agama.
*Soal Kritik di Media Sosial, Ia Tidak Memutar Mata*
Polri sering jadi sasaran di media sosial. Narasi keras, tuduhan, kadang agitasi yang tidak berdasar. Wartawan pun kerap bertanya: bagaimana institusi merespons?
Rudi tidak defensif. “Kritik pedas sekalipun, justru dari situ Polri bisa membangun. Kita berubah. Kita reformasi,” ujarnya. Ia tidak mengeluh tentang ujaran yang tidak adil. Ia tidak minta dikasihani. Ia cukup percaya diri untuk bilang bahwa kritik — bahkan yang pedas — lebih berguna daripada pujian kosong.
Soal media, ia juga terus terang: “Wartawan itu bagian dari kontrol masyarakat terhadap institusi. Dari pemberitaan, masyarakat tahu bahwa hukum itu penting, bahwa negara ini negara hukum. Itu sangat membangun.”
*Satu Prinsip yang Ia Bawa ke Mana pun Bertugas*
Di penghujung wawancara, ia kembali ke soal kasih. Bukan dalam pengertian yang lunak atau sentimental. Ia bicara tentang kasih sebagai cara kerja — termasuk kepada orang yang pernah bermasalah dengannya, atau bahkan yang pernah menyerang Polri.
“Kami tidak melihat dari latar belakang seseorang. Sekalipun dia pernah bermasalah dengan kami, kami tetap menerima dengan kasih. Kalaupun kami salah, kami minta maaf.”
Polsek Biromaru bukan pos strategis yang mentereng. Tapi perwira pertama yang kini memimpinnya datang dengan sesuatu yang tidak selalu dimiliki jabatan lebih tinggi: kejelasan tentang untuk siapa ia bekerja.
_Wawancara dilaksanakan di Kantor Polsek Biromaru, Kabupaten Sigi, Jumat 5 Juni 2026 -Rif,ONLINENEWS_






