Seminar Paskah Nasional V Palu: Peserta berharap pencerahan tak berhenti di ruang seminar, Senator Febri: “Ini langkah maju Bala Keselamatan

  • Whatsapp

PALU, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID// Di sela-sela istirahat makan siang Seminar Nasional Paskah V yang berlangsung di Gereja Bala Keselamatan Korps 2 Palu- SulTeng, Jumat (24/04/2026),sejumlah peserta dan tokoh gereja menyampaikan pandangan mereka kepada wartawan. Satu benang merah terasa kuat dari semua yang berbicara, seminar ini diharapkan bukan sekadar seremonial, melainkan benar-benar menyentuh dan mengubah kehidupan jemaat hingga ke akar rumput.

_Delapan Aras Nasional Bersatu dalam Satu Panggung_

Muat Lebih

Pdt. Dr. Sperry Velmer Terok, M.Th., Ketua Umum Persekutuan Baptis Indonesia, menilai kegiatan ini memiliki makna yang melampaui sekadar perayaan tahunan. Menurutnya, kehadiran delapan aras gereja nasional dalam satu forum, Bala Keselamatan, Ortodoks, GKRI, Katolik, PBI, PGLI, PGI, dan GMAHK, adalah wujud nyata kesatuan tubuh Kristus yang selama ini kerap hanya menjadi wacana.

“Mau lihat kebersamaan gereja seluruh Indonesia, lihat di aras nasional ini,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa harapan terbesarnya adalah agar materi-materi seminar tidak berhenti di tingkat pimpinan, melainkan benar-benar diejawantahkan dalam kebersamaan dengan jemaat dan masyarakat, bahkan melampaui batas denominasi hingga menyentuh masyarakat plural.

_Bala Keselamatan dan Relasi Lintas Iman yang Sudah Berakar_

Letkol (BK) Erik Kape, Sekretaris Bidang Bisnis dan Administrasi Kantor Pusat Bala Keselamatan yang hadir sebagai peserta dari Bandung, menegaskan bahwa kehadiran tokoh Islam sekaliber Prof. Zainal Abidin di dalam gedung gereja bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Relasi antara Bala Keselamatan dan komunitas Muslim di Kota Palu, ia katakan, sudah terjalin lebih dari satu abad.

“Bukan baru-baru membangun, sudah seabad lebih kita bekerja sama,” ujarnya. Ia meyakini kehadiran Zainal Abidin dipicu oleh rasa nasionalisme yang tulus dan ikatan persaudaraan yang sudah lama terbentuk, bukan sekadar undangan seremonial.

_Gereja Harus Melek Digital, Jemaat Diminta Kembali ke Gereja Asal_

Pdt. Dr. Yewin Tjandra, S.E., M.Th., perwakilan aras PGLII Pusat sekaligus Ketua PGLII Sulawesi Tengah, menyoroti tantangan nyata yang dihadapi gereja di era media sosial. Menurutnya, banyak jemaat yang tanpa sadar terbawa arus konten digital yang justru memecah belah, bahkan terpengaruh oleh figur-figur yang mengatasnamakan pelayanan namun sesungguhnya hanya mengejar popularitas.

Ia mengingatkan seluruh umat Kristiani untuk tidak meninggalkan gereja asal mereka demi mengikuti platform atau tokoh digital yang tidak jelas asal-usulnya. “Kita tetaplah kembali pada gereja masing-masing, bertumbuhlah di sana, tanya gembalanya, karena itu adalah hal paling bijak yang harus kita lakukan,” tegasnya. Ia juga mengingatkan para pemimpin gereja agar tidak berlomba membesarkan nama dan institusi, melainkan bersama membesarkan nama Tuhan.

_Senator Febri: “Ini Langkah Maju, Jemaat Akan Ikuti Teladan Pemimpinnya”_

Anggota DPD RI Dapil Sulawesi Tengah, Febrianti Hongkiriwang, S.Si., Apt., yang juga tampil sebagai salah satu pemateri, memberikan penilaian positif atas penyelenggaraan seminar ini sebelum segera meninggalkan lokasi usai diwawancarai.

Ia menyebut keberhasilan Bala Keselamatan menghimpun berbagai denominasi dalam satu atap sebagai sebuah langkah maju yang patut diapresiasi. “Hari ini saya melihat ada satu langkah maju dari Bala Keselamatan karena berhasil menghimpun oikumene itu, bagaimana gereja-gereja yang ada terhimpun dalam satu gereja. Itu luar biasa,” ujarnya.

Ia juga meyakini bahwa forum seperti ini mampu menjadi instrumen nyata pemersatu umat Kristiani yang kerap terpecah oleh perbedaan denominasi, terutama di era digital yang kerap memperkeruh pemahaman jemaat awam. Kuncinya, ia katakan, ada pada keteladanan para pemimpin. “Jemaat akan melihat yang sama, karena para pemimpin mempertontonkan hal itu,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah bersedia hadir kembali jika diundang dalam forum serupa, senator perempuan satu-satunya dari Sulawesi Tengah ini menjawab dengan tegas. “Selama saya masih diberikan kekuatan, masih mampu, dan tidak bertabrakan dengan jadwal, silakan saja, selama itu untuk kepentingan umat.”pungasnya menutup keseluruhan wawancara.Rif

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *