PALU, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID// Vihara Karuna Dipa, Palu, menjadi tuan rumah pengecoran bagian keempat Rupang Buddha Nusantara pada Sabtu, 12 April 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan 50 tahun Sangha Theravada Indonesia (STI), organisasi kumpulan para bhikkhu — pemuka agama Buddha — yang berdiri sejak tahun 1976.
Rupang Buddha atau Buddharūpa adalah arca yang menggambarkan wujud Buddha Gautama, pendiri agama Buddha yang hidup sekitar 2.500 tahun lalu. Dalam tradisi Buddhisme, rupang bukan objek sembahan, melainkan sarana penghormatan dan perenungan atas sifat-sifat luhur Buddha: welas asih, kebijaksanaan, dan kedamaian.
*Enam Wilayah, Satu Rupang Utuh*
Yang Mulia Dhammasubho Mahathera, Ketua Wisma Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia, menjelaskan bahwa satu Rupang Buddha setinggi 5 meter dirancang untuk dicetak secara bertahap di enam wilayah Indonesia. “Satu Buddha rupanya di-compiling, dibagi-bagi, kemudian setiap bagian dicetak di berbagai daerah,” ujarnya.
Keenam lokasi pengecoran adalah Medan (mewakili Sumatera), Bali, Samarinda (Kalimantan), Palu (Sulawesi hingga Maluku dan Papua), Surabaya, dan Jakarta. “Setelah bagian-bagiannya tercetak semua, nanti disatukan menjadi utuh di Jakarta pada tanggal 21 Juni 2026,” kata Dhammasubho Mahathera. Rupang yang telah selesai direncanakan ditempatkan di vihara kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
*Palu Dipilih karena Posisi Strategis*
Yang Mulia Candakaro Mahathera, Wakil Ketua Dewan Kehormatan Sangha Theravada Indonesia sekaligus Ketua Bhikkhu Daerah Sulawesi Tengah, menuturkan bahwa Palu dipilih karena posisinya yang berada di tengah pulau Sulawesi dan memiliki akses transportasi udara dari berbagai penjuru. “Dari Tolitoli mendarat bisa, dari Gorontalo mendarat bisa, dari Manado bisa, dari Makassar bisa,” jelasnya.
Candakaro Mahathera menambahkan, Sulawesi Tengah memiliki 11 cetia dan vihara dengan jumlah umat yang cukup besar. Kegiatan ini dihadiri perwakilan umat Buddha dari seluruh Sulawesi, termasuk dari Mamuju, Gorontalo, Manado, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Tolitoli — lebih dari seratus orang datang secara mandiri. “Wihara menyediakan konsumsi dasar terusan karena melayani seribu orang, makanya dapurnya mengepul 24 jam,” tuturnya.
Sebanyak 41 bhikkhu hadir dalam upacara yang dimulai pukul 15.00 WITA dengan penerimaan logam persembahan dari umat, dilanjutkan upacara puja bakti di Dhammasala — ruang utama vihara — sekitar pukul 16.00 WITA.
*Pemerintah Beri Dukungan Penuh*
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Drs. Supriyadi, M.Pd., yang hadir langsung di Palu, menyatakan dukungan penuh pemerintah terhadap kegiatan ini. “Saya ada di sini memberikan supporting kepada institusi agama Buddha, yaitu Sangha Theravada Indonesia, yang sudah berusia 50 tahun sejak didirikan tahun 1976,” ujarnya.
Supriyadi menegaskan bahwa kegiatan pengecoran bukan sekadar proses teknis. “Ini bukan sekadar orang mengecor, bukan sekadar menuangkan timah yang sudah dipanaskan, tapi ada satu instrumen yang kita kaitkan dengan spiritualitasnya sendiri,” katanya.
Model rupang yang dipilih mengacu pada arca yang ditemukan di Jawa Tengah. “Ini satu rupa yang cukup lama terputus antara badan dan kepala, tapi kemudian ditemukan dan ternyata kepala itu bisa dipasang dengan sangat presisi,” jelas Supriyadi.
Ia menegaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari ekosistem moderasi beragama. “STI yang sudah lama berkiprah di bumi Nusantara merupakan budaya kita, dan kasal budaya inilah yang wajib kita jadikan pembelajaran buat generasi yang akan datang,” pungkasnya.Rif



