_Olahraga & Inspirasi_* Di Balik Peluit Sang Pengadil: Ipda Reza, Polisi Berprestasi yang Mengabdi Tanpa Sorotan

  • Whatsapp

PALU, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID//ON LINE NEWS.ID//Euforia kemenangan perdana Timnas Indonesia di bawah asuhan pelatih baru John Herdman masih terasa hangat. Pada laga perdana FIFA Series yang digelar pekan ini, skuad Garuda menggebrak dengan kemenangan telak 4-0 atas Saint Kitts and Nevis — sebuah sinyal kebangkitan yang dinantikan jutaan suporter setelah gagalnya Indonesia menembus babak kualifikasi Piala Dunia di era kepelatihan sebelumnya.Ujian berikutnya menanti: laga kontra Bulgaria, tim yang diperkuat pemain-pemain aktif di klub-klub Eropa dan tidak bisa dipandang sebelah mata, mengingat sejumlah pemain Bulgaria juga pernah merasakan atmosfer kompetisi di Indonesia,yang berita ini diturunkan belum diketahui skor pertandingan,karena pertandingan baru berlangsung pada,Senin malam (30/03/2026).

Di tengah gegap gempita sepak bola nasional itu, ada satu pertanyaan yang jarang diangkat ke permukaan: siapa yang memastikan setiap tendangan, tekel, dan gol dalam pertandingan terjadi secara sah dan adil? Jawabnya ada pada wasit — sang pengadil lapangan yang nyaris tak pernah masuk sorotan kecuali saat kontroversi meledak. Sementara nama pemain terukir di spanduk-spanduk tribun, nama wasit hanya tersebut saat ada pihak yang merasa dirugikan atas keputusannya.

Muat Lebih

Untuk menelusuri dunia perwasitan dari sudut pandang yang sesungguhnya, wartawan media ini mendatangi Kantor SPKT Polres Sigi pada Senin (30/03/2026). Di sanalah kami menemukan sosok yang tepat untuk mengetahui lebih banyak soal perwasitan serta menyimpan rekam jejak panjang dan berlapis di dunia perwasitan sepak bola nasional, sosok tersebut adalah Ipda Mohamad Rezah Filsavad, personel aktif Polres Sigi di bawah kepemimpinan Kapolres saat ini,AKBP Kari Amsa Ritonga, S.H., S.I.K., M.H.

Ipda Reza — demikian ia akrab disapa — bukan nama sembarangan dalam dunia perwasitan Sulawesi Tengah. Ia adalah Ketua Komite Perwasitan Asprov PSSI Sulteng periode 2021–2025, pemegang lisensi ganda sebagai Wasit Nasional PSSI sekaligus Instruktur Fisik Wasit PSSI, serta aktif menjalankan tugas sebagai Penilai Wasit PSSI pada berbagai kompetisi nasional. Di luar itu semua, ia juga mantan wasit Liga Indonesia yang menghabiskan hampir 15 tahun memimpin pertandingan di kompetisi sepak bola tertinggi tanah air. “Alhamdulillah, saya aktif di PSSI sudah masuk 24 tahun lebih,” ungkapnya, lebih dengan nada syukur daripada kebanggaan.

_*Ipda Mohamad Rezah Filsavad, Wasit Nasional PSSI & Personel Polres Sigi*_
Perjalanan itu dimulai dari tangga paling bawah. Sejak menggeluti dunia perwasitan pada awal tahun 2000-an, Ipda Reza menapaki jenjang lisensi satu per satu: dari C3 tingkat kabupaten/kota, naik ke C2 provinsi, hingga meraih lisensi C1 Nasional. Ia menjelaskan bahwa untuk menapaki setiap jenjang, seorang calon wasit harus mengikuti kursus resmi PSSI yang berlangsung satu hingga dua pekan, dengan seleksi yang semakin ketat seiring tingginya level lisensi yang dikejar. Di atas nasional, terbentang jalur menuju Elite Referee AFC untuk kancah Asia, dan puncaknya adalah lisensi wasit FIFA untuk pertandingan internasional.

Dengan lugas Ipda Reza menjelaskan jenjang Lisensi Wasit PSSI sebagai berikut :
C3 — Tingkat kabupaten/kota (pemula)
C2 — Tingkat provinsi/seri wilayah
C1 Nasional — Liga-liga nasional PSSI
Elite Referee AFC — Kancah Asia (lisensi AFC)
Wasit FIFA — Level internasional penuh
Ipda Reza meluruskan anggapan bahwa menjadi wasit mensyaratkan latar belakang tertentu. Menurutnya, siapa pun — ASN, TNI, Polri, maupun warga sipil dari profesi mana pun — dapat menjadi wasit sepak bola, selama memiliki kesiapan mental yang sungguh-sungguh dan bersedia menjalani kursus serta seleksi resmi PSSI. “Anda siap mental, siap menjadi pengadil lapangan, tidak ada masalah. Anda diikutkan kursus, berarti Anda sudah siap menjadi seorang wasit,” tegasnya.

Namun di balik keterbukaan itu, ada satu syarat yang tidak bisa ditawar: kondisi fisik dan kesehatan. Sebagai Instruktur Fisik Wasit PSSI, Ipda Reza memahami betul bahwa wasit dituntut berlari mengikuti dinamika pertandingan selama 90 menit penuh. Setiap calon wasit dan wasit aktif wajib menjalani general check-up menyeluruh — termasuk tes psikologi — minimal tiga bulan sebelum kompetisi dimulai. “Kalau check-up tidak bagus, Anda tidak bisa menjadi bagian,” katanya lugas. Ia mengisahkan bagaimana di Sulawesi Tengah pernah ada wasit nasional senior yang meninggal dunia seusai memimpin pertandingan — sebuah pengingat keras bahwa kesiapan fisik adalah fondasi yang tidak bisa dikompromikan.

Puncak kepercayaan institusi datang pada 2021, ketika PSSI menunjuknya sebagai Ketua Komite Perwasitan Asprov PSSI Sulawesi Tengah untuk periode 2021–2025 — jabatan strategis yang menempatkannya sebagai nahkoda pengembangan wasit di seluruh provinsi, mulai tingkat C3 kabupaten/kota hingga wasit berlisensi nasional. Atas seluruh kontribusi itu, Kapolda Sulteng Irjen Pol Dr. Agus Nugroho, S.I.K., S.H., M.H. memberikan penghargaan kepadanya pada tahun 2023 sebagai bentuk pengakuan resmi institusi kepolisian terhadap prestasi anggotanya di luar tugas kedinasan.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite Wasit dan Penilai Wasit PSSI, Ipda Reza juga memiliki pendekatan tersendiri dalam menjaga objektivitas setiap penugasan. Surat penugasan tim wasit — mencakup wasit tengah dan asisten referee — sengaja baru diterbitkan sehari sebelum pertandingan berlangsung. Ini bukan kelalaian prosedural, melainkan desain yang disengaja demi memastikan netralitas terjaga hingga menit terakhir. Sebelumnya, para wasit telah menjalani pembekalan bersama yang menanamkan keseragaman pemahaman tentang laws of the game sekaligus membangun kekompakan tim di lapangan.

Soal teknologi VAR (Video Assistant Referee) yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari sepak bola modern, Ipda Reza menyambutnya dengan antusias. Bagi mantan wasit Liga Indonesia ini, VAR bukan ancaman terhadap otoritas pengadil di lapangan, melainkan lapisan kontrol yang justru memperkuat akurasi keputusan. “VAR adalah teknologi yang sangat-sangat membantu kualitas pengambilan keputusan wasit,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa pemegang VAR pun adalah seorang wasit terlatih yang memantau tayangan ulang secara langsung. Apabila wasit tengah tidak mengambil keputusan atas sebuah pelanggaran, maka VAR melengkapinya dengan memastikan ada tidaknya sanksi yang harus dijatuhkan. Mekanisme itu, baginya, sejalan dengan filosofi dasarnya: wasit adalah manusia biasa yang bekerja berbekal aturan permainan, dan kesempurnaan tetaplah milik Tuhan.

Dalam perbincangan yang mengalir hangat itu, Ipda Reza juga menyebutkan satu nama yang menjadi kebanggaan tersendiri baginya: Thoriq M Alkatiri, wasit asal Jawa Barat yang kini telah menapaki jenjang wasit elit Asia Tenggara berlisensi FIFA. “Beliau salah satu junior saya di wasit nasional. Alhamdulillah karir beliau luar biasa saat ini — salah satu wasit elit yang dimiliki Asia Tenggara,” ujar Ipda Reza, dengan nada yang lebih merayakan pencapaian orang lain daripada berbicara tentang dirinya sendiri. Ia mengisahkan bagaimana ia dan Thoriq M Alkatiri pernah bersama-sama menjalani seleksi untuk Divisi Utama — sebuah momen awal karier yang kini terkenang sebagai titik berangkat seorang wasit muda menuju panggung internasional.

Namun peran Ipda Reza dalam ekosistem sepak bola Sulawesi Tengah tidak berhenti di garis wasit maupun ruang penilaian. Di luar semua jabatan dan lisensinya, ia menyediakan waktu dan energi untuk sesuatu yang lebih berakar: menjadi Pembina Sekolah Sepak Bola (SSB) Bina Tama United di Kota Palu. Di sinilah ia bertemu langsung dengan generasi paling muda — anak-anak yang baru belajar mengolah bola, yang kelak mungkin akan mewakili Sulawesi Tengah bahkan Indonesia di pentas nasional maupun internasional. Bagi Ipda Reza, pembinaan dari akar adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak selalu terlihat hari ini, tetapi suatu saat pasti akan bersinar.

Dengan bangga ia menyebutkan bahwa gairah sepak bola Sulawesi Tengah kian menggeliat. Sejumlah SSB lokal telah menembus kompetisi nasional, termasuk SSB Heliputra yang berprestasi di kancah nasional. Tiga pemain asal Sulawesi Tengah bahkan saat ini aktif memperkuat kompetisi Gymnas Katil — pencapaian nyata dari sekolah-sekolah sepak bola yang terus tumbuh di provinsi ini. Ipda Reza juga mengingat dengan bangga sejarah emas perwasitan Sulawesi Tengah: dua wasit FIFA berlisensi penuh pernah lahir dari tanah ini, yakni almarhum Bapak Darwis sebagai referee tengah dan Bapak Raza Komar sebagai asisten referee, yang pada era 1998–1999 pernah memimpin ajang Champions League Asia. “Satu-satunya dalam sejarah perwasitan PSSI Sulawesi Tengah,” katanya penuh hormat. Kini, dari posisinya sebagai ketua komite, instruktur, penilai, dan pembina, ia bertekad meneruskan warisan itu.

Ipda Reza adalah bagian dari tiga personel Polda Sulteng yang menorehkan prestasi sebagai wasit berlisensi nasional PSSI, sebagaimana tertuang dalam Surat Asprov PSSI Sulteng Nomor: 122/ASPROV-PSSI-ST/XI-2025 yang ditandatangani Ketua Asprov PSSI Sulteng H. Hadianto Rasyid, S.E. Bersama Bripka Arafandi Abdullah, dan Ipda Didik Pradinta Putra ketiganya membuktikan bahwa seragam polisi dan rompi wasit hitam dapat berjalan beriringan dalam semangat yang sama: mengabdi dan berprestasi untuk daerah dan bangsa. Ketua Asprov PSSI Sulteng H. Hadianto Rasyid, S.E. menyebut ketiganya sebagai contoh luar biasa dari aparat yang tidak hanya berdedikasi dalam tugas negara, tetapi juga mampu mengharumkan nama daerah dan institusi melalui prestasi olahraga.

_Kisah Ipda Reza adalah cerminan dari sekian banyak personel Polri yang telah memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara — jauh dari sorotan kamera, tanpa tepuk tangan yang meriah, namun penuh keikhlasan dan jiwa pengabdian yang tinggi. Di jajaran Polres Sigi yang dipimpin oleh AKBP Kari Amsa Ritonga, S.H., S.I.K., M.H., semangat seperti ini bukan hal yang asing. Kapolres Sigi senantiasa menekankan kepada seluruh anggotanya agar menjadikan profesi sebagai ladang amal dan kebajikan — memberi yang terbaik bagi masyarakat, khususnya warga Kabupaten Sigi. Ipda Reza, dengan peluit di tangannya, lisensi instruktur di dadanya, catatan panjang pengabdian di lapangan hijau, dan dedikasi membina generasi muda di SSB Bina Tama United, adalah salah satu wujud nyata dari amanah itu.Rif

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *