PALU, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID// Semangat persatuan mengalir deras di Kodam XXIII/Palaka Wira, Palu, Rabu sore (4/3/2026). Bukan hanya dari kehadiran para pejabat lintas institusi yang duduk bersama dalam satu hamparan meja buka puasa, melainkan juga dari untaian kata yang meluncur penuh keyakinan dari lisan seorang tokoh masyarakat yang telah lama mengabdikan hidupnya untuk kerukunan dan keutuhan Sulawesi Tengah.
Adalah Drs. Husein Habibu — tokoh agama, Pemangku Adat, sekaligus Ketua Garda Al-Khairat Sulawesi Tengah — yang pada momen Ramadhan 1447 H itu dipercaya menyampaikan Siraman Rohani dalam acara Buka Puasa Bersama yang diselenggarakan oleh Kodam XXIII/Palaka Wira. Dengan gaya tutur yang khas — hangat, lugas, dan diselingi humor yang cerdas namun sarat makna — Drs. Husein Habibu membuka tausiyahnya dengan menegaskan satu prinsip yang ia jadikan fondasi seluruh uraiannya: bahwa Islam sama sekali tidak mengenal istilah radikalisme.
Merujuk pada firman Allah SWT dalam Al-Quran, ia mengingatkan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa bukan untuk saling memusuhi, melainkan semata-mata agar saling mengenal, saling memahami, dan saling mencintai. Ia kemudian menghidupkan pesan itu dengan memotret keberagaman yang hadir secara nyata di ruangan tersebut.
Dengan nada penuh kebanggaan ia menyebut dirinya yang bersuku Kaili, Pangdam XXIII/Palaka Wira Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar yang berdarah Batak, Kapolda Sulawesi Tengah yang berasal dari Jawa Barat, hingga para hadirin lainnya yang datang dari berbagai latar belakang suku dan daerah. Namun pada hari itu, semua perbedaan itu lebur dalam satu semangat.
“Hari ini kita bersatu. Hari ini kita saling mengetahui. Hari ini kita bersilaturahmi. Dan hari ini kita saling mencintai,” ujarnya dengan penuh keyakinan. Ia kemudian menambahkan prinsip yang ia pegang teguh sebagai pedoman hidup: “Cintai yang ada di bumi, insya Allah kita akan dicintai yang ada di atas.”
Untuk menggambarkan indahnya keberagaman dalam bingkai persatuan, Drs. Husein Habibu menggunakan analogi tubuh manusia yang sederhana namun dalam maknanya. Ia mengingatkan bahwa Allah SWT menciptakan mata, telinga, hidung, dan mulut secara berbeda-beda, namun semuanya mengabdi kepada satu tubuh yang sama. Begitu pula tangan kanan dan tangan kiri — keduanya berbeda, namun saling bekerja sama dan saling mengisi, menciptakan keselarasan gerak yang indah dalam kehidupan manusia.
“Perbedaan kita bukan menjadi halangan untuk bersatu,” tegasnya, disambut anggukan para hadirin.
Memasuki inti tausiyahnya, ia menyampaikan lima hal yang dapat merusak nilai ibadah puasa — sebuah pengingat yang ia sajikan bukan sebagai ceramah yang menghakimi, melainkan sebagai ajakan untuk bermuhasabah bersama. Pertama adalah Al-Kadzibah, yakni kebohongan dalam berbagai bentuknya, baik kepada atasan, pasangan, orang tua, maupun sesama, yang kerap dilakukan tanpa disadari. Kedua adalah An-Namimah atau mengadu domba, yang dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara ia sebut sebagai provokasi — sebuah virus sosial yang amat berbahaya bagi keutuhan masyarakat. Ketiga adalah Al-Fitnah, yakni memfitnah sesama, yang ia perkuat dengan kaidah “Al-fitnatu asyaddu minal qatli” — fitnah lebih berbahaya daripada pembunuhan, sebab ia mampu memorak-porandakan persaudaraan yang telah bertahun-tahun terjalin dengan susah payah. Keempat adalah sikap merendahkan dan menghina orang lain. Dengan analogi yang mengundang senyum namun menggugah kesadaran, ia menggambarkan betapa mudahnya manusia melihat kelemahan orang lain namun buta terhadap kesalahannya sendiri. Kelima adalah kebiasaan bersumpah dengan sumpah palsu — sesuatu yang kerap dianggap sepele namun membawa konsekuensi moral dan spiritual yang berat di hadapan Allah SWT.
Dalam uraian yang semakin dalam, Drs. Husein Habibu mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa manusia adalah cermin dari Tuhan — Al-Insan Miratullah. Dari landasan itulah ia menegaskan bahwa tidak selayaknya sesama manusia saling menghina dan saling merendahkan, sebab setiap insan pada hakikatnya adalah pantulan dari kemuliaan Sang Pencipta.
Puasa Ramadhan, tegasnya, sejatinya adalah momentum memeriksa diri sendiri — sebuah proses koreksi yang mendalam agar setiap insan melangkah menuju titik punbcak spiritual dan meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar. Ia pun berbagi panduan yang ia kutip dari seorang ulama besar tentang perhitungan jatuhnya malam Lailatul Qadar berdasarkan hari pertama Ramadhan — sebuah pengetahuan yang ia sampaikan sebagai bekal agar seluruh hadirin dapat mempersiapkan diri secara lebih sungguh-sungguh dalam menjemput malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan tersebut.
Menutup tausiyahnya, Drs. Husein Habibu menyampaikan pernyataan yang tegas, lantang, dan menjadi puncak dari seluruh uraiannya. Ia menyatakan bahwa kebersamaan yang terjalin pada hari itu harus terus dirawat dan dipelihara, bahwa persahabatan lintas institusi dan lintas latar belakang harus terus dilanjutkan, demi menjaga Sulawesi Tengah dan demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“NKRI itu harga mati buat Al-Khairat,” pungkasnya dengan suara yang mantap dan penuh keyakinan, sebelum menutup tausiyah dengan salam dan doa menjelang berbuka puasa — sebuah kalimat penutup yang menggema jauh , mencapai relung terdalam kesadaran setiap insan yang hadir pada petang Ramadhan penuh berkah itu.
Pewarta : Rif






