PALU, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID//Tidak selalu persatuan bangsa dirayakan di podium resmi atau forum kenegaraan. Kadang ia hadir jauh lebih hangat — di atas hamparan hidangan buka puasa, di bawah langit sore Kota Palu, ketika seorang panglima non-Muslim dengan tulus membuka pintu kebersamaan bagi umat yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Itulah yang terjadi pada Rabu sore (4/3/2026), dalam acara Buka Puasa Bersama yang digelar oleh Kodam XXIII/Palaka Wira .
Acara yang dihadiri oleh para pejabat lintas institusi dari unsur Forkopimda Sulawesi Tengah itu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan penguatan sinergi antarinstansi. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan nilai yang sesungguhnya, ketika Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag., berdiri di hadapan seluruh hadirin dan menyampaikan pernyataan yang jujur, berani, sekaligus menyentuh nurani.
“Selaku Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Sulawesi Tengah, saya memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Pangdam XXIII/Palaka Wira-Mayor Jenderal TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar yang telah menyelenggarakan kegiatan buka bersama ini. Apalagi Panglima ini seorang non-Muslim, tetapi menunjukkan kepada kita bahwa walaupun non-Muslim, Panglima bisa menyelenggarakan kegiatan untuk umat Islam di Provinsi Sulawesi Tengah. Kita butuh pemimpin seperti ini,” tegasnya dengan penuh keyakinan.
Pujian itu bukan sekadar basa-basi protokoler. Prof. Zainal Abidin kemudian membingkainya dalam perspektif teologis yang mendalam. Ia mengutip sebuah prinsip fundamental dalam Islam, yakni “Ad-Diinu Al-Mu’aamalah” — bahwa agama pada hakikatnya adalah interaksi sosial. Semakin baik kualitas interaksi sosial seseorang, semakin tinggi pula derajat keberagamaannya. Dari landasan itulah ia menyampaikan kesimpulan yang membuat ruangan hening dalam penuh makna: “Hari ini interaksi sosial yang dilakukan oleh Bapak Panglima menunjukkan kepada kita semua — keberagamaan Bapak Panglima jauh lebih baik dari kita semua.”
Apresiasi Ketua FKUB tersebut sejatinya bukan lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pengamatan panjang seorang cendekiawan sekaligus tokoh lintas agama yang selama ini berjuang mewujudkan kerukunan sejati di tengah masyarakat Sulawesi Tengah yang majemuk. Prof. Zainal Abidin mengungkapkan bahwa apa yang diteladankan Pangdam XXIII/Palaka Wira, Mayor Jenderal TNI Jonathan Parluhutan Binsar Sianipar, sesungguhnya merupakan impian yang lama ia dambakan — yakni terwujudnya hari ketika majelis-majelis agama dari berbagai keyakinan, baik Buddha, Hindu, Katolik, Kristen, maupun lainnya, secara sukarela menyelenggarakan buka puasa bersama sebagai ungkapan kebahagiaan bersama umat Islam.
Untuk memperkuat gagasannya, Guru Besar yang dikenal tajam dalam pemikiran namun hangat dalam pergaulan itu menghadirkan kisah inspiratif dari Belgia. Ia mengisahkan bahwa di sebuah sudut negeri Eropa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen tersebut, sepanjang dua kilometer, keluarga-keluarga non-Muslim setiap Ramadhan dengan penuh kerelaan hati menyiapkan hidangan buka puasa untuk saudara-saudara mereka yang Muslim. Mereka duduk bersama dalam satu barisan yang menyatu — Muslim dan non-Muslim — merayakan momen berbuka sebagai satu kesatuan umat manusia.
“Kita ingin suatu saat nanti di Kota Palu juga begitu,” ujarnya dengan tatapan yang memancarkan harapan. Harapan itu, lanjut Prof. Zainal Abidin, sebenarnya sudah mulai bertunas di Palu. Ia mengingatkan bahwa Persatuan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa telah mendahului dengan menyelenggarakan buka puasa bersama, meskipun mereka sendiri tidak menjalankan ibadah puasa. Bagi Ketua FKUB, hal itu merupakan bukti nyata bahwa pengabdian kepada bangsa dan negara tidak diukur dengan latar belakang agama seseorang.
Dalam bagian paling filosofis dari sambutannya, Prof. Zainal Abidin menyampaikan pemikiran orisinal yang kerap ia jadikan pegangan. Ia mengumpamakan kebenaran agama dalam konteks kehidupan sosial seperti pakaian dalam — setiap orang memilikinya dan meyakininya, namun tidak seorang pun selayaknya memamerkannya kepada khalayak. “Kita tidak boleh mengatakan agama saya yang paling benar di hadapan masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia,” tegasnya dengan nada yang penuh kewibawaan namun tetap sejuk dan menyejukkan.
Mengakhiri sambutannya, Ketua FKUB tersebut menegaskan keyakinannya bahwa keteladanan yang ditunjukkan Pangdam XXIII/Palaka Wira tidak akan berhenti pada satu meja buka puasa. Ia menyatakan keyakinan penuh bahwa inisiatif mulia ini akan menjadi contoh dan teladan yang diikuti oleh seluruh jajaran Kodam XXIII/Palaka Wira di wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.
Sementara itu, kekhusyukan acara semakin sempurna dengan kehadiran Siraman Rohani yang disampaikan oleh tokoh masyarakat sekaligus Pemangku Adat dan Panglima Garda Al-Khairat, Drs. Husein Habibu, yang memperdalam suasana spiritual menjelang waktu berbuka. Ketika azan Magrib akhirnya mengalun, seluruh hadirin yang berpuasa menyegerakan berbuka sesuai sunnah Rasulullah SAW, dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat Magrib berjamaah, dan kemudian menikmati hidangan makan malam dalam kehangatan persaudaraan yang tulus dan penuh makna.
Sebagai penutup dari seluruh rangkaian acara, Pangdam XXIII/Palaka Wira Mayjen TNI JonathanParluhutan Binsar Sianipar didampingi Ketua PD Persit KCK XXIII/Palaka Wira Ny. Dewi Binsar Sianipar beserta jajaran, menyerahkan uang santunan kepada sejumlah anak yatim piatu dari Yayasan Nurulfalah Kota Palu. Sebuah gestur yang mempertegas bahwa Ramadhan di Kodam XXIII/Palaka Wira bukan sekadar seremonial, melainkan ibadah sosial yang nyata, tulus, dan dirasakan langsung oleh mereka yang paling membutuhkan.Rif






