Strategi Bawah Laut Indonesia: Scorpene dan Kapal Selam Otonom Jadi Jawaban atas Persaingan Nuklir di Indo-Pasifik

  • Whatsapp

SIGI, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID//Di tengah memanasnya persaingan kekuatan militer bawah laut antara aliansi AUKUS (Australia, Inggris, Amerika Serikat) dan Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik, Indonesia mengambil langkah strategis yang terukur untuk memperkuat pertahanan maritim nasional. Alih-alih terjebak dalam perlombaan senjata nuklir, Indonesia memilih pendekatan berbasis teknologi konvensional yang disesuaikan dengan keunikan geografi kepulauannya.

Hal ini dibahas secara mendalam dalam konten yang dipublikasikan oleh kanal YouTube Militer Insight ID, yang menguraikan postur pertahanan bawah laut Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik kawasan yang kian kompleks.

Muat Lebih

Scorpene: Predator Senyap di Perairan Nusantara
Indonesia menjatuhkan pilihan pada kapal selam kelas Scorpene Evolved buatan Naval Group, Prancis — sebuah platform diesel-elektrik generasi modern yang dirancang khusus untuk operasi senyap di perairan dangkal dan kepulauan. Keputusan ini bukan tanpa alasan teknis yang kuat.

Berbeda dengan kapal selam bertenaga nuklir milik AUKUS maupun Tiongkok yang harus terus mengoperasikan pompa pendingin reaktor sehingga menghasilkan tanda akustik yang dapat dideteksi lawan, Scorpene mampu beroperasi dalam mode yang oleh para ahli militer dijuluki “Black Hole”. Nama itu bukan sekadar kiasan — ketika kapal selam ini beralih ke tenaga baterai penuh, seluruh mesin berhenti berputar dan tidak ada getaran mekanis yang bocor ke air. Hasilnya, kapal ini benar-benar “hilang” dari layar sonar lawan.

Ibarat mematikan semua lampu di ruangan yang sudah gelap, keberadaannya tidak bisa dilacak. Di perairan Indonesia yang secara alami sudah dipenuhi lapisan suhu dan arus kompleks yang membingungkan sistem deteksi, kemampuan ini menjadikan Scorpene sebagai ancaman yang nyaris tak kasat mata.

Selain keunggulan senyap, dimensi lambung Scorpene yang kompak memberikan fleksibilitas manuver tinggi di perairan dangkal dan selat-selat sempit seperti Selat Malaka, Sunda, dan Lombok — medan yang justru menjadi kelemahan kapal selam nuklir berukuran besar milik kekuatan asing.

Scorpene juga dilengkapi sistem tempur bernama SUBTICS — singkatan dari Submarine Tactical Integrated Combat System. Sederhananya, SUBTICS adalah “otak” kapal selam ini. Ia menyatukan semua informasi dari sensor, senjata, dan navigasi ke dalam satu layar kendali yang dapat dibaca dan dioperasikan awak secara langsung.

Jika dianalogikan, SUBTICS bekerja seperti dasbor mobil modern yang menampilkan semua informasi penting dalam satu pandangan — hanya saja jauh lebih canggih, karena mampu memproses data dari berbagai sumber sekaligus dan membantu komandan mengambil keputusan tempur dalam hitungan detik.

Dalam konteks integrasi dengan sistem otonom, SUBTICS berpotensi menjadi pusat kendali yang menerima dan menerjemahkan data lapangan menjadi keputusan taktis secara cepat dan akurat.

lDi luar armada berawak, Indonesia juga mengembangkan Kapal Selam Otonom Tanpa Awak (KSOT) melalui PT PAL Indonesia. Inovasi ini merepresentasikan lompatan signifikan dalam kemandirian industri pertahanan nasional, sekaligus mengikuti tren peperangan masa depan yang semakin mengandalkan sistem nirawak terintegrasi.

KSOT dirancang untuk menjalankan misi ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) — yakni pengumpulan intelijen, pengawasan, dan pengintaian — secara mandiri maupun terhubung langsung dengan sistem komando utama. Dengan kemampuan ini, KSOT dapat memantau pergerakan armada asing di wilayah berisiko tinggi dan mengirimkan data secara real-time tanpa harus mendekatkan awak manusia ke zona berbahaya.

Konsep desain modularnya memungkinkan platform ini dikonfigurasi ulang sesuai kebutuhan misi — termasuk sebagai pembawa muatan torpedo untuk skenario serangan. Pola kerja ini dikenal dengan istilah sensor-to-shooter, di mana KSOT bertugas menemukan dan mengunci target, sementara platform utama seperti Scorpene melakukan eksekusi.

Kehadiran KSOT dengan demikian menjawab kebutuhan operasional yang selama ini menjadi dilema, yakni bagaimana melakukan pengawasan intensif di zona berbahaya tanpa mempertaruhkan keselamatan personel.

Kombinasi antara armada Scorpene yang senyap dan unit KSOT yang lincah dirancang untuk membangun apa yang dalam terminologi militer disebut sebagai “Strategic Uncertainty” atau ketidakpastian strategis — kondisi di mana pihak asing tidak mampu memetakan posisi aset pertahanan Indonesia secara akurat.

Jaringan bawah laut yang terbentuk dari sinergi keduanya menciptakan ekosistem pertahanan yang dinamis dan sulit dilacak, sebuah konsep yang dikenal sebagai “Undersea Web” atau jaring pertahanan bawah laut.

Filosofi ini sejalan dengan doktrin “Pertahanan Defensif yang Aktif” yang dianut Indonesia — bukan dirancang untuk proyeksi kekuatan ke luar wilayah, melainkan sebagai instrumen penangkalan yang memberikan respons mematikan apabila kedaulatan dilanggar.

Postur ini mempertegas sikap Indonesia yang ingin hadir sebagai penjaga stabilitas kawasan, bukan sebagai pemicu eskalasi. Dengan mengoptimalkan kemitraan teknologi bersama Naval Group sekaligus mendorong kemandirian industri melalui PT PAL, Indonesia memosisikan diri sebagai kekuatan maritim yang mandiri di Indo-Pasifik — mengandalkan presisi, kerahasiaan, dan kecerdasan sistem, bukan sekadar ukuran dan daya ledak.

Langkah ini menegaskan bahwa dalam peperangan bawah laut modern, yang paling senyap belum tentu yang terkecil — tetapi justru yang paling berbahaya.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *