PALU, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.ID//Suasana penuh suka cita menyelimuti Vihara Karuna Dipa, Jalan Sungai Lariang No.74, Palu, pada Selasa (17/2/2026). Ratusan warga etnis Tionghoa memenuhi vihara untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2026 dengan rangkaian persembahyangan khidmat dan dilanjutkan dengan perayaan penuh makna makna dan harapan.
Sebagai perayaan Tahun Baru dalam kalender lunar Tionghoa, Imlek menandai dimulainya musim semi sekaligus menjadi waktu bersyukur dan berkumpul bersama keluarga besar. Perayaan yang berlangsung 15 hari ini sarat dengan makna harapan keberuntungan, kemakmuran, dan penolakan nasib buruk.
Berbagai tradisi khas seperti lampion berwarna merah, tarian barongsai, pemberian angpao, hingga sajian kue keranjang menjadi bagian tak terpisahkan dari kemeriahan Imlek. Tradisi yang telah mengakar sejak zaman agraris Tiongkok kuno ini juga dikaitkan dengan legenda makhluk mitos Nian yang takut pada warna merah dan suara keras.
Di Indonesia, perayaan Imlek yang dulu sempat terbatas kini telah diakui sebagai hari libur nasional sejak masa Presiden Abdurrahman Wahid, mencerminkan penghargaan terhadap keragaman budaya Nusantara.
_*Filosofi Kuda Api: Semangat Menggapai Cita-cita*_
Ferdi, pengurus Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Palu, mengungkapkan makna khusus di balik Shio Kuda Api tahun ini. “Kuda melambangkan energi yang kuat dan berapi-api untuk mencapai tujuan yang kita cita-citakan,” katanya penuh semangat.
Ia menambahkan, meski dikemas dengan nuansa modern, perayaan kali ini tetap mengedepankan nilai tradisional. “Kami menonjolkan simbol-simbol Imlek seperti lampion dan lainnya. Ada pembacaan paritas, sambutan dari senior dan penasihat, serta penampilan anak sekolah minggu,” jelasnya mengenai rangkaian acara.
_*Barongsai Jadi Daya Tarik Utama*_
Puncak kemeriahan perayaan tahun ini adalah penampilan barongsai yang memukau. Tarian singa legendaris yang dipercaya menghalau energi negatif dan mendatangkan keberuntungan ini berhasil menarik perhatian lebih banyak pengunjung, tidak hanya dari kalangan etnis Tionghoa.
“Tahun ini kami hadirkan atraksi barongsai sebagai daya tarik tambahan. Respons masyarakat luar biasa, mereka sangat antusias merayakan bersama kami,” ungkap Ferdi dengan riang.
Setelah ritual persembahyangan dan sambutan dari Yayasan Karuna Dipa serta biksu, acara dilanjutkan dengan pemberian berkat dan pembagian angpao kepada anak-anak. Amplop merah berisi uang ini merupakan simbol berbagi rezeki dari generasi tua kepada yang muda, khususnya bagi anak-anak yang tekun beribadah di vihara.
_*Toleransi di Tengah Keberagaman*_
Pada hari perayaan Imlek, pemandangan Kota Palu menampilkan wajah berbeda. Jalan-jalan protokol yang biasanya ramai kendaraan kini tampak sepi, sejumlah toko tutup, sementara di beberapa sudut kota bermunculan lapak sederhana yang menjual daging—bagian dari persiapan masyarakat Muslim menyambut Ramadan yang akan tiba beberapa hari kemudian.
Berdekatan waktunya dengan bulan suci Ramadan, Imlek tahun ini menjadi momentum istimewa untuk mempererat tali persaudaraan lintas agama. “Imlek kali ini bertepatan dengan menjelang Ramadan. Ini kesempatan kami menunjukkan keberagaman, kebersamaan antaragama, dan persatuan. Harapan kami, kita semua bisa semakin rukun di mana pun berada,” tutur Ferdi penuh makna.
Dihadiri sekitar 200 hingga 300 umat, perayaan berlangsung kondusif dan damai dengan pengamanan dari pihak kepolisian. Senyum dan tawa menghiasi wajah para hadirin yang saling bersalaman, membagikan angpao, dan menikmati atraksi barongsai yang memeriahkan suasana.
Lebih dari sekadar ritual budaya, Imlek 2026 di Palu menjadi cerminan nyata dari nilai toleransi, kerukunan, dan optimisme menatap hari esok yang lebih baik bagi seluruh warga Indonesia.
(Rif)






