Sentuhan Kasih di Balik Semangat 8 Dekade: Kisah Kerendahan Hati Ny. Dewi Binsar dalam Baksos Persit-PSMTI Palu

  • Whatsapp

PALU, SULTENG – MEDIA ONLINENEWS.//Ibu itu namanya Ibu Ratu Aminah Hidayat. Dia melihat prajurit-prajurit yang sakit di rumah sakit Purwakarta tidak terurus, tidak kehandel keluarganya. Dari hal kecil, bisa berdampak besar. Jangan pernah anggap remeh sesuatu yang kecil.” Suara Ny. Dewi Binsar Sianipar, Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Pengurus Daerah XXIII/Palaka Wira, mengalun hangat di hadapan hadirin di area Kompleks Rekreasi Millenium Palu, Sabtu (15/2/2026).

Dalam sambutannya di tengah kegiatan bakti sosial memperingati HUT ke-80 Persit KCK sekaligus menyambut Tahun Baru Imlek, ia mengisahkan sejarah kelahiran Persit 80 tahun silam—organisasi yang lahir dari kepedulian sederhana seorang istri kolonel kepada prajurit yang terluka.

Muat Lebih

Kini, di usianya yang ke-80, semangat kepedulian itu kembali hidup dalam bakti sosial kolaborasi Persit KCK dengan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Tengah, yang dikomandoi oleh Chandra Wijaya, sosok fenomenal yang aktif dalam sosial kemanusiaan.
“Alhamdulilah-Puji Tuhan , saya dipertemukan oleh orang-orang yang baik dan suasananya juga hangat di tempat ini. Kita baru di organisasi ini, tapi saya bersyukur,” ujarnya dengan rendah hati. Delapan dekade pengabdian ini membuktikan bahwa Persit senantiasa hadir dengan karya nyata, membawa manfaat dan menebarkan kebaikan. Nilai-nilai kemanusiaan—berbagi kasih, berbuat baik, peduli kepada sesama—itulah yang harus kita wariskan ke generasi berikutnya,” tegasnya.
Saat menyerahkan sembako kepada penerima difabel merah putuih, Ny. Dewi Binsar menjelma lebih dari sekadar pejabat organisasi. Tangannya dengan lembut membelai kepala seorang anak difabel. Matanya menatap hangat sambil berbisik memberikan semangat. Tidak ada jarak, tidak ada sekat. Hanya ada kehangatan seorang ibu yang tulus peduli.

Di situasi berikutnya ,Ny Dewi Binsar berhenti sejenak untuk bercengkerama dengan seorang remaja pria penyandang tunanetra yang bersuara merdu. Pemuda itu sempat bernyanyi, dan Ketua Persit mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tersenyum dan bertepuk tangan.

Di usianya yang ke-80, Persit KCK tidak hanya merayakan pencapaian, tapi kembali mengingatkan bahwa dari hal kecil—sebuah pelukan, sebuah senyuman, sebuah kantong darah—kebaikan besar bisa terlahir. Dan di Palu, hari itu, kebaikan itu nyata.Rif

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *