SIGI, SULTENG-Artikel ini disusun berdasarkan konten edukatif dari channel YouTube Kursalfa GEO, sebuah platform independen yang fokus pada analisis geopolitik dan teknologi militer. Channel ini dikenal dengan pendekatan faktual, visual akurat, dan netral tanpa sensasi atau bias politik. Menurut disclaimer channel tersebut, seluruh konten disajikan murni untuk tujuan edukasi dan informasi publik, tidak mewakili lembaga pemerintah, militer, atau organisasi politik mana pun, serta tidak mempromosikan konflik atau ideologi tertentu.
_*Mogami: Kapal Cerdas untuk Ancaman Abad 21*_
Indonesia berada di persimpangan strategis. Laut Nusantara yang menjadi jalur vital dunia kini menuntut kapal perang yang lebih dari sekadar besar—melainkan cerdas dan adaptif terhadap ancaman modern. Jepang menawarkan solusi melalui Frigate Kelas Mogami, kapal siluman multimisi yang telah menjadi tulang punggong Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF). Dengan bobot penuh sekitar 5.500 ton dan kecepatan lebih dari 30 knot, Mogami hanya membutuhkan awak sekitar 90 orang berkat sistem otomatisasi tinggi. Kapal ini dilengkapi radar AESA OPY-2 dan sonar OQQ-25, persenjataan lengkap mulai dari rudal anti-kapal, rudal anti-udara, torpedo, hingga meriam 127mm. Keunggulan utamanya terletak pada integrasi drone bawah laut dan permukaan, serta desain stealth yang menekan jejak radar dan inframerah.
Mogami bukan sekadar kapal tempur—ia adalah laboratorium bergerak yang mampu mengendalikan drone laut, melacak kapal selam, dan menembakkan rudal dengan presisi tinggi. Filosofi desainnya mengantisipasi skala attrition dalam konflik modern, dengan pembelajaran dari tenggelamnya kapal penjelajah Rusia Moskva, meniadakan ruang radio terpisah dan mengintegrasikan seluruh fungsi ke dalam Combat Information Center untuk efisiensi maksimal (Wikipedia: Mogami-class frigate, 2025).
_*Perbandingan dengan Armada Eksisting TNI AL*_
TNI AL kini telah memiliki KRI Prabu Siliwangi dari Italia (kelas FREMM PPA) dengan bobot penuh 6.270 ton dan awak sekitar 170 orang. Kapal ini unggul dalam fleksibilitas misi—patroli, bantuan kemanusiaan, dan operasi jarak jauh—namun sistem radar dan elektroniknya masih konvensional dibanding AESA Mogami. Italia juga menawarkan kelas FREMM yang lebih maju, dengan bobot 6.700 ton dan persenjataan lengkap. Namun Mogami tetap unggul dalam otomatisasi, integrasi drone, dan desain stealth. Jika Italia memberi “otot”, Jepang menawarkan “otak”.
_*Perkembangan Terkini Mogami dan Negosiasi Indonesia-Jepang*_
Jepang kini mengembangkan varian yang ditingkatkan bernama New FFM (06FFM) dengan displacement standar 4.880 ton dan panjang 142 meter, dilengkapi kemampuan pertahanan udara dan radar yang lebih canggih, dengan 12 kapal dijadwalkan selesai pada tahun fiskal 2032 (Naval News, 2024). Pada 22 Desember 2024, Mitsubishi Heavy Industries meluncurkan JS Yoshii, frigat kelas Mogami ke-12 dan terakhir untuk JMSDF dengan biaya sekitar 58,3 miliar yen atau $371 juta, sementara delapan kapal telah beroperasi sejak JS Mogami ditugaskan April 2022 (Naval News, Desember 2024).
Dalam perkembangan signifikan, Australia pada 5 Agustus 2024 secara resmi memilih New FFM untuk menggantikan frigat kelas Anzac mereka, dengan varian Australia dilengkapi rudal Kongsberg Naval Strike Missile, torpedo ringan Mk 54, SeaRAM, ESSM dalam VLS Mk 41, dan displacement hingga 6.200 ton dengan 32 sel VLS Mark 42 (Naval News & Defense Mirror, 2024).
Untuk Indonesia, meski hingga pertengahan 2024 belum ada kontrak ekspor yang ditandatangani dan TNI AL sempat berencana mengakuisisi frigat Arrowhead 140 dan FREMM (Naval News, 2024), negosiasi dengan Jepang terus berlanjut. Menteri Pertahanan Jepang Gen Nakatani mengunjungi Indonesia pada 5-8 Januari 2025 untuk mempresentasikan proposal pengembangan bersama senilai sekitar ¥300 miliar kepada Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, yang mencakup pembangunan empat frigat di Jepang dan empat lainnya di PT PAL Indonesia, termasuk mekanisme transfer teknologi untuk radar dan sistem perang elektronik (Indonesia Business Post & Defense Mirror, Januari 2025).
Menurut Duta Besar Indonesia untuk Jepang Heri Akhmadi, upaya untuk pengadaan dan koproduksi varian Mogami yang disesuaikan tetap menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo (The Japan Times, Januari 2025).
_*Potensi Kerja Sama Strategis*_
Potensi kolaborasi Indonesia-Jepang membuka peluang besar: produksi bersama dengan PT PAL, transfer teknologi radar AESA, dan integrasi sistem drone laut. Mogami bisa menjadi simbol aliansi maritim kedua negara yang saling menguntungkan. Jika Indonesia berani melangkah, Mogami bukan hanya memperkuat pertahanan—ia menjadi deklarasi bahwa Nusantara siap berdiri sejajar dengan kekuatan maritim dunia, memiliki kemampuan blue water navy sejati, dan menjadi penyeimbang terhadap ancaman kapal selam dan rudal canggih di kawasan. Kerja sama ini juga berpotensi membangun kapabilitas industri pertahanan dalam negeri melalui PT PAL yang akan terlibat langsung dalam proses produksi.
____________________________________________________
_*Catatan:*_ Artikel ini bersumber dari analisis edukatif channel YouTube Kursalfa GEO dan diperkaya dengan informasi terkini dari Naval News, Defense Mirror, The Japan Times, Indonesia Business Post, dan Wikipedia (2024-2025). (**) Rif






