Tingginya Permasalah Sosial, Perempuan Bangsa Jatim Bentuk Griya Curhat Keluarga

  • Whatsapp
Peresmian Griya Curhat Keluarga oleh Perempuan Bangsa Jatim di Surabaya (Foto: Yudhie/ Onlinenews)

SURABAYA –  OnlineNews | Permasalahan sosial yang sebagian besar korbannya adalah perempuan, di Jawa Timur masih sangat tinggi. Berdasar data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, kasus HIV/ AIDS secara nasional tahun 2019, Jawa Timur menduduki peringkat kedua.

Dari 38.000.850 jiwa penduduk Jatim, 43.339 jiwa terjangkit HIV/ AIDS. Dari angka tersebut, ibu rumah tangga terjangkit sehingga menular ke janin 16.844 orang atau 38,8 persen.

Muat Lebih

Peringkat kedua terbanyak adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) berjumlah 1.247 kasus. Sebanyak 83,7 persen. Korban KDRT adalah perempuan.

Sementara kekerasan seksual ada 1.890 kasus/hari, terdiri dari beberapa variabel yakni pemerkosaan 846 kasus, pelecehan seks 331 kasus, penyiksaan seks 33 kasus, eksploitasi 38 kasus.

Tingginya persoalan tersebut, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Perempuan Bangsa (PB) Jawa Timur mencoba membentuk Griya Curhat Keluarga (GCK) dengan fasilitator yang siap melakukan follow-up ke cabang sampai terbentuk Griya Curhat Keluarga di 38 kabupaten dan kota.

Ketua DPW Perempuan Bangsa Jatim Anik Maslachah menyampaikan, persoalan sosial yang sebagian besar korbannya perempuan di Jawa Timur menurutnya luar biasa.

“Melalui GCK kami akan segera melakukan gerakan untuk menyikapi persoalan ini,” tegasnya, Sabtu (07/03/2020).

Menurut Anik, perlu tangan-tangan bergerak menyelesaikan permasalahan kekerasan terhadap perempuan tersebut, yaitu Perempuan Bangsa.

“Melalui GCK ini, harus bisa terbentuk institusi yang terdaftar di Bakesbangpol masing-masing kota/ kabupaten, seluruh Jawa Timur,” tegas Anik.

Sementara itu, Ketua DPP Perempuan Bangsa Siti Mukaromah mendukung penuh langkah yang dilakukan DPW PB Jatim. Diharapkan GCK juga bisa dibentuk di daerah-daerah lain.

“Griya Curhat Keluarga adalah bentuk konkret Perempuan Bangsa menyikapi persoalan-persoalan yang ada,” katanya.

Kader Perempuan Bangsa harus mampu berkontrubusi. Mampu menjadi wadah perempuan curhat agar tidak perlu curhat kemana-mana.

“Kita benar-benar menjadi tempat curhat. Jangan sampai perempuan itu curhatnya mblabrah tidak tentu arah,” ujarnya.

Jika berhasil, Griya Curhat Keluarga ini akan dibentuk di provinsi lain karena menurutnya, persoalan ini terjadi tidak hanya di Jawa Timur. (yudhie)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *